120 Pakar Hadiri Simposium International Kaitan Konservasi Satwa dengan Kesehatan

120 Pakar Hadiri Simposium International Kaitan Konservasi Satwa dengan Kesehatan
International Wildlife Symposium (IWS) di Universitas Syiah Kuala, 21 Oktober 2017. (Foto:IST)

120 Pakar Hadiri Simposium International Kaitan Konservasi Satwa dengan Kesehatan

Banda Aceh – 120 para ahli, praktisi, dan akademisi terkait satwa liar dari berbagai negara menghadiri International Wildlife Symposium (IWS) di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh pada 23-25 Oktober 2017.

Simposium keempat kalinya di Sumatera dari kerjasama Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah, WWF Indonesia dan  Badan Pangan Dunia (FAO) itu mengusung tema “Promoting One Health through Wildlife Conservation for People’s Prosperity”.

“Tema ini diangkat untuk membahas ancaman penyakit pada satwa liar. Upaya konservasi satwa selama ini hanya berfokus pada penyelamatan habitat dan perlindungan dari perburuan. Namun tidak banyak yang menyadari penyakit bisa berkontribusi pada kepunahan satwa itu sendiri,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah, DR. drh. Muhammad Hambal, di Banda Aceh, Senin 23 Oktober 2017.

Menurutnya, sejumlah satwa saat ini terancam punah di Indonesia seperti harimau sumatera terancam  penyakit canine distemper virus, gajah terancam virus herpes, sementara badak jawa terancam hidupnya oleh parasit darah. Sementara manusia juga mengalami ancaman dari kemungkinan terjadinya spillover penyakit dari satwa liar seperti flu burung dan beberapa penyakit lainnya.

Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF-Indonesia mengatakan, organisasinya memberikan perhatian pada konservasi satwa liar tidak hanya dengan mendorong penyelamatan habitat, perlindungan spesies melalui pencegahan perburuan dan perdagangan ilegal, penanganan konflik antara manusia dan satwa, dan yang terakhir mulai monitor terkait isu kesehatan satwa melalui penelitian ilmiah.

“Dengan fokus ketiga isu ini maka WWF melakukan program konservasi secara terintegrasi dengan konsep one health yang mencakup kesehatan ekosistem, kesehatan satwa liar yang pada akhirnya memberi manfaat untuk kesejahteraan manusia,” kata Arnold Sitompul.

Dia menambahkan, konsep one health yang didukung  FAO/OIE (organisasi kesehatan hewan dunia) dinilai sangat tepat dikembangkan dan dibutuhkan di Indonesia saat ini. Pasalnya, Indonesia merupakan daerah potensial dalam penyebaran jenis penyakit infeksi baru dan penyebarannya tidak terlepas dari dampak dampak kebiasaan dan perilaku manusia yang berinteraksi dengan hewan

Sementara itu, Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng mengatakan, simposium tersebut dinolai sangat penting bagi Unsyiah karena dapat mendorong peningkatan peran universitas serta kapasitas pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang kedokteran hewan, terlebih  Unsyiah memiliki Fakultas Kedokteran Hewan tertua di Pulau Sumatera.

 “Konsep one health ini perlu kita luaskan, jadi tidak hanya berfokus pada penularan penyakit dari satwa ke manusia tapi juga ke faktor pendukungnya, yaitu ekosistem yang relatif baik dan hutan yang utuh untuk mendukung pengembangan program-program pembangunan menuju masyarakat yang sehat dan sejahtera,” jelasnya.

Simposium dihadiri 120 presenter dari para ahli ekologi, praktisi konservasi, peneliti, pengajar, mahasiswa, pengelola kawasan konservasi dan satwa, serta pengambil kebijakan. Ada enam pemakalah kunci yaitu Christopher Stremme dari Unsyiah, Dr. Barney Long,- Director of Species Conservation, Global Wildlife Conservation (USA), Khalid Pasha,- WWF Tigers Alive, Dr. Peter Black,- Deputy Regional Manager, Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD), FAO RAP, Thailand, Dr. Fakhruddin Mangunjaya, serta Guru Besar Biologi UI dan Pakar Konservasi ternama, Prof. Dr. Jatna Supriatna.[]