Abdul Halim, Anak Yatim Gagal Ginjal dari Aceh Jaya

Abdul Halim, Anak Yatim Gagal Ginjal dari Aceh Jaya
Abdul Halim asal Aceh Jaya masih tetap berobat jalan akibat menderita gagal ginjal.

Abdul Halim, Anak Yatim Gagal Ginjal dari Aceh Jaya

NAMANYA Abdul Halim, usia sembilan tahun. Sudah setahun ini, ia menderita gagal ginjal. Ia yatim dan ibunya bekerja sebagai pemberi jasa cuci pakaian di rumah orang. Usai operasi dan pemasangan selang pada tubuhnya, akhir 2016 lalu, lelaki kelas 3 SD itu, masih tetap berobat jalan. Minimal, sebulan sekali, ia harus melakukan cek up ke RSUZA, Banda Aceh.  

Dari seorang perawat senior di Ruang Hemodalisa RSUZA, Ilyas, mengabarkan kepada Bood For Life Foundation (BFLF), proses pengobatan yang membutuhkan waktu tiga hari atau lebih, membuat lelaki asal Krueng Sabbe, Aceh Jaya itu, sering kali tidur di pelataran IGD, atau di teras Masjid Ibnu Sina, karena tidak memiliki tempat tinggal selama berobat di Banda Aceh.

Lewat informasi dari Ilyas, pada akhir Septermber lalu, Abdul Halim dan ibunya, Dewi Anggraini, 37 tahun, di bawa ke Rumah Singgah BFLF di jalan Cumi-Cumi no 13, Lampriek, Banda Aceh yang tidak terlalu jauh dari RSUZA. 

Biaya yang harus ditanggung Dewi setiap bulan mencapai tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah, untuk transportasi dari Aceh Jaya menuju Banda Aceh, dan ongkos 20 kotak cairan Continuous Ambulatory Periotoneal Dyalisys (CAPD) atau cairan pencuci darah, yang banyak memakan tempat pada angkutan umum untuk dibawa pulang ke kampungnya.

Direktur Yayasan BFLF, Michael Oktaviano menyebutkan, Abdul Halim termasuk generasi Aceh, termuda yang terkena gagal ginjal. Penyebabnya, ungkap Michael, ia suka mengkonsumsi jajanan dan minuman gelas berbagai rasa yang berbahan pengawet dan zat pemanis, di sekolahnya tanpa sepengetahuan ibunya. 

“Pertama, pemerintah dan Dinas Kesehatan di daerah harus lebih memperhatikan jajanan di sekolah, pihak sekolah juga harus lebih memperhatikan kualitas jajanan di sana. Abdul Halim ini, bisa dikatakan paling muda terkena gagal ginjal, biasanya yang kita dengar orang duafa,” ucap Direktur Yayasan BFLF. 

Ia mengatakan, apa yang diderita Abdul Halim, tidak menutup kemungkinan akan berdampak juga terhadap generasi Aceh lainnya, jika tidak segera dilakukan tindak pencegahan akibat makanan tidak sehat. 

“Tanggunggan Ibu Abdul Halim, tak hanya ia seorang. Ibunya juga memiliki tanggungan seorang anak perempuan yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Aceh Barat. Jadi memang, kondisinya si Halim ini sangat membutuhkan support untuk biaya transportasi berobat dan sekolah,” terang Michael.

Michael sempat bertanya apakah kepada Dewi, apakah Abdul Halim mendapatkan santunan yatim. Dari keterangan Dewi, ulang Michael, mereka mendapatkan santunan desa lima ratus ribu rupiah per tiga bulan. Jika dihitung dengan kebutuhan perbulan untuk berobat ke Banda Aceh, santunan tersebut, jauh dari tidak cukup.  

Rumah Singgah BFLF yang memberikan fasilitas tempat tinggal, peralatan dapur yang bisa digunakan untuk memasak oleh keluarga pasien, dan kebutuhan pokok seperti beras, dan air bersih, dapat meringankan kebutuhan Dewi dan anaknya selama berobat ke Banda Aceh. 

Kini, Abdul Halim dan Dewi, sudah kembali ke Aceh Jaya, dan akan kembali pada akhir Oktober mendatang. Mereka juga masih memikirkan bagaimana jalan untuk bisa mendapatkan uang transpor dan biaya membawa 20 cairan pencuci darah tersebut pada bulan mendatang.

“Kita berharap, pemerintah yang menjadikan kesehatan sebagai salah satu fokus mereka, bisa melirik dan membantu keluarga Abdul Halim, dan terus berupaya untuk melakukan tindakan pencegahan dengan melakukan cek terhadap jajanan anak di sekolah-sekolah,” tutup Michael. 

Bagi masyarakat Aceh yang ingin membantu Abdul Halimsetiap bulan ia membutuhkan biaya lebih lima ratus ribu rupiah, untuk tranportasi dan biaya 20 kotak cairan pencuci darah, dapat menghubungi BFLF di Rumah Singgah BFLF, jalan Cumi2 no 15 Lampriek, Banda Aceh. Dapat menghubungi dengan nomor Hp 081260852973 atau 085270568055.[]