Aceh Troe dan Serangan Balik Rakyat Prut Deuk

Oleh : Ana Ivan – Penulis adalah Ketua Koperasi Jasa Gerakan Nelayan Tani Indonesia (KOPJA GANTI) Aceh

Aceh Troe dan Serangan Balik Rakyat Prut Deuk
Ilustrasi

Aceh Troe dan Serangan Balik Rakyat Prut Deuk

Oleh : Ana Ivan – Penulis adalah Ketua Koperasi Jasa Gerakan Nelayan Tani Indonesia (KOPJA GANTI) Aceh

Pemerintahan Aceh yang di nahkodai Gubernur Irwandi Yusuf harus terus memacu pertumbuhan ekonomi dengan merancang program pembangunan dibidang pertanian dengan memacu industri pertanian dari hulu ke hilir. Program itu sekaligus menjadi program pemberantasan kemiskinan dan kebodohan dengan jargon Aceh Troe dan Aceh Carong.

Diantara program-program Gubernur Irwandi tersebut yang menarik perhatian saya, adalah Program Aceh Troe. Tentu saja, sejauh ini saya belum memahami blue print program ekonomi pemerintahan Irwandi yang akan dituangkan dalam RPJM Aceh Tahun 2017-2022 nantinya,  kita hanya bisa berharap tim RPJM bidang ekonomi pemerintahan mampu merasionalisasikan secara utuh bagaimana mewujudkan Aceh Troe tersebut.

Dalam tulisan ini saya hanya memberi sedikit masukan dari sekian banyak masalah yang harus di perhatikan pemerintah untuk mensukseskan program Capten Irwandi tersebut.

Aceh dengan kesediaan lahan pertanian yang mencapai 348.000 hektar, harus dimaksimalkan sebagai potensi daerah yang utama. Untuk mencapai program Aceh Troe tersebut bukanlah hal yang sulit. Hanya dibutuhkan keseriusan pemerintah Aceh tentunya dengan sepenuhnya melibatkan masyarakat dalam bekerja untuk mewujudkan Aceh Troe.

Realitanya pertanian Aceh masih jauh ketinggalan dari provinsi lain di Indonesia. Pengembangan pertanian harus di arahkan menjadi sistem agrobisnis dan agroindustri yang akan meningkatkan nilai tambah dari hasil pertanian. Ketertinggalan kita disektor pertanian khususnya di pedesaan tentunya dipengaruhi banyak factor, salah satunya adalah konflik yang berkepanjangan dan goodwill Pemerintahan sebelumnya yang kurang fokus pada program-program kerakyatan.

Sesungguhnya pemberdayaan ekonomi pedesaan bukan hanya untuk kemajuan petani saja, tapi menjadi dasar kekuatan ekonomi Aceh dan Indonesia umumnya. Sektor pertanian harus jd pijakan kokoh, sehingga pedesaan bisa mencapai swasembada pangan di Aceh. Dan cita-cita Gubernur Irwandi untuk mewujudkan masyarakat Aceh yang dengan Pruet Troe akan tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Tentunya kita menyadari, petani di Aceh sangat membutuhkan pendampingan dan penyuluhan yang sistematis dengan memberikan pendidikan atau pelatihan penanganan pasca panen secara tepat.

Pengembangan usaha agribisnis dalam skala kecil harus dipacu dan diberi ruang dalam pemasarannya. Pemerintahan Aceh juga harus secepatnya melindungi produk lokal dengan menerbitkan peraturan-peraturan. Secepatnya, pemerintah Aceh juga harus bisa mengambil peran sebagai marketing di pasar internasional untuk produk produk pertanian Aceh.

Petani yang menanam, pemerintahan yang menyediakan pasar dan pembeli. Dengan begitu petani akan terjamin dari kegagalan menjual hasil taninya.

Untuk memajukan ekonomi Aceh maka perlu dikembangkan ekonomi berbasis kerakyatan dengan menghidupkan kembali koperasi sebagai sokoguru perekonomian dalam masyarakat pedesaan. Dalam pandangan saya, menghidupkan kembali koprasi di pedesaan akan sangat membantu dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat Aceh di Desa untuk mewujudkan gagasan Aceh Troe-nya Gubernur Irwandi.

Dalam hal ini, koperasi bisa dikembangkan dengan system kemitraan, langkah kerjasama koperasi Desa dengan perusahaan atau lembaga keuangan dan perusahaan industri besar tentunya akan sangat menguntungkan bagi anggota koperasi itu sendiri.

Sebagai bentuk wajah perkoperasian yang baru, koprasi kemitraa nantinya akan menjadi pusat aktivitas perekonomian Desa. Koperasi juga akan menjadi pusat informasi bagi anggotanya dalam perkembangan tehnologi tepat guna untuk memasarkan produk-produk pertanian, baik dalam bentuk bahan mentah maupun barang hasil olahan. Tentu saja koperasi dalam hal ini wajib bermitra dengan lembaga keuangan dan bisa menjadi penyedia kredit  untuk memduah akses modal bagi anggotanya.

Kegiatan unit usaha ini akan menimbulkan Multiplayer Efect Ekonomi dalam kehidupan masyarakat kita. Karena koperasi telah menjadi alternatif pemecahan masalah bagi petani.

Koperasi akan menjadi penyedia kredit dari dana yang terhimpun. Dana dari tabungan anggota koperasi akan diputar dalam bentuk modal usaha kepada anggota koperasi. Yang lebih penting lagi, adanya rasa saling percaya dari seluruh anggota koperasi agar koprasi bisa berjalan dengan baik dan maksimal.

Pemerintah Aceh menuurut saya, harus segera dapat memfasilitasi dan mensosialisasikan koperasi Desa demi terwujudnya Aceh Troe agar Aceh Troe tidak menjadi sekedar jargon politik dalam kampanye yang justru akan menjadi serangan balik dari rakyat Prut Deuk.[]