Adek Berry Perekam Sejarah

Mata Lensa; Jejak Ketangguhan Seorang Jurnalis Foto Perempuan

Adek Berry Perekam Sejarah

Adek Berry Perekam Sejarah

Mata Lensa; Jejak Ketangguhan Seorang Jurnalis Foto Perempuan

Judul: Mata Lensa; Jejak Ketangguhan Seorang Jurnalis Foto Perempuan

Penulis : Adek Berry

Penyunting: Rani Andriani Koswara

Tebal : xxvi + 366 halaman

Cetakan: 2017

Penerbit : Transmedia, Jakarta

ISBN: 978-602-1036-68-6

 

 

”Walk! You idiot!” umpat seorang tentara Amerika Serikat kepada perempuan berjilbab. Suasana sangat tegang. Menyerang atau diserang. Hidup atau mati. Perempuan itu tidak membalas caci maki serdadu itu. Perintah dari depan untuk berhenti tidak terdengar ke belakang. Kata idiot meluncur di tengah ancaman bom dan ranjau di tanah Afghanistan yang dirobek perang. 

 

Sepenggal kalimat yang menyakitkan itu tertulis rapi dalam lembaran kertas bersampul putih. Adalah ibu dua anak ini mendokumentasi suka duka memotret di wilayah bencana alam, seremonial hingga perang di Timur Tengah. Dedikasi Adek Berry di Kantor Berita AFP (Agence France-Presse) tidak diragukan lagi selama 20 tahun. Untuk hal loyalitas di dunia intip mengintip di balik lensa tustel, Kurator Galeri Foto Antara  Oscar Motuloh  memuji Adek yang merawat intuisi dan memelihara konsistensi di rimba memotret adalah kunci mengarungi lautan profesi fotografi jurnalistik yang keras dan penuh dinamika. Oscar menuturkan buku ini sangat  lengkap yang memuat momentum dan sisi kemanusiaan jurnalis foto perempuan.

 

Buku tujuh bab ini menguraikan perjalanan hidup pewarta foto hingga terdampar sebagai jurnalis foto internasional. Oh ya jangan bayangkan buku ini mengajari teknik memotret atau trik memperoleh foto terbaik. Melalui autobiografi  ini, penulis kelahiran Curup, Bengkulu, 14 September 1971 mengusung pembaca memahami liku-liku jurnalis foto serta sisi human interest. Misalnya ketika hamil anak kedua, Adek tetap turun ke lapangan atau tiba-tiba salat di di lokasi penugasan. Ternyata menginfomasikan tugas kepada suami atau anak berada pada urutan terbawah setelah mendapat tiket pesawat dan lain-lain.

 

Bagaimana hasil bidikan Adek selama dua dasawarsa? Dia mendulang sejumlah penghargaan seperti dari  National Press Photographers Association (Amerika Serikat), Life Magazine (Amerika Serikat), dan TIME LightBox.

 

Perjalanan panjang hingga bertahan di kantor berita internasional ini dimulai dari langkah pertama mengutak-atik kamera Yashica FX-3 dan lensa 50 mm hadiah kakaknya. Belajar otodidak serta dari komunitas Holcyon Photography Club di Jember Jawa Timur. Pada awalnya, Adek kuliah di kedokteran gigi namun kemudian pindah ke fakultas pertanian.  Dunia media dijelajahinya dari tangga bawah sebagai reporter di majalah Tiras. Kemudian jadi pewarta foto di majalah Tajuk. Selanjut perempuan berhijab ini berjodoh sebagai mat kodak di AFP Biro Jakarta.

 

 

Tiga Kali ke Afghanistan

Bab selanjutnya, penugasan tiga kali meliput perang Afghanistan, banjir di Pakistan, erupsi Merapi di Yogyakarta, evakuasi penumpang Sukhoi di Gunung Salak Jawa Barat dan sebagainya. Profesi yang butuh stamina kuat ini didukung oleh hobinya mendaki gunung yang berinteraksi di alam bebas dan keras.

 

Pembaca dimanjakan dengan gaya penulisan yang runut sehingga menjawab rasa penasaran dari bab ke bab hingga tanpa disadari sudah di halaman terakhir buku. Secara jeli, penulis melengkapi narasi-narasinya dengan puluhan bingkai foto hitam putih dan berwarna.  Wartawan senior Desi Anwar dalam testimoni memuji isi buku yang telah menguak mata pembaca untuk menyaksikan secara langsung sejarah Indonesia sejak masa genting reformasi serta sederetan kejadian penting yang berlangsung di seluruh pelosok dunia.

 

Adek berbagi pengalaman dalam meliput bencana alam tetap menguras emosi.  Menurutnya, pewarta harus tenang di lapangan, tidak terpengaruh dengan lingkungan.  “Satu sisi, hatiku miris menyaksikan warga yang menangis di depan rumah mereka yang tinggal puing. Di sini lain, aku harus mengerjakan tugas sebagai jurnalis yang meliput peristiwa,” (halaman 115). Rumus memotret tetap membiarkan foto berlangsung alami tanpa direkayasa. Setelah memotret, tugas berikutnya mengirim secepat-cepatnya agar tidak kalah cepat dengan pewarta foto lain.

 

Kehadiran buku ini mematahkan kabar angin bahwa fotografer kurang mahir menulis artikel termasuk buku. Kalangan pewarta foto memiliki slogan yaitu shoot first, ask questions later. Yang pertama merekam momen dan teks foto bisa menyusul. Bagi fotografer kehilangan momen adalah musibah terbesar sepanjang masa.

 

Pesan selanjutnya, jika selama ini liputan di wilayah konflik didominanasi oleh  kaum Adam, Adek menghapus stigma bahwa jurnalis foto tidak mahir menulis buku serta pewarta foto perempuan diragukan kemampuan bertugas di kawasan bencana dan konflik. Justru perempuan berjilbab ini leluasa memotret di kamp pengungsian perempuan di Afghanistan yang sakit atau teraniaya yang terlarang untuk jurnalis foto lelaki. Perempuan atau pria bisa bekerja di sektor mana pun  bila yakin berhasil, keteguhan hati plus doa dari keluarga atau rekan kerja. Satu kata kunci, hijab dan gender bukanlah penghalang sama sekali dalam menunaikan kerja. Dunia jurnalistik tidak mengenal gender..

 

Buku yang ditulis selama lebih dua tahun ini mengirim pesan kepada pembaca bahwa karya bermutu dihasilkan melalui proses panjang dengan segala risiko.  Foto-foto ini menjadi bagian dari sejarah dan peradaban. Kecintaan Adek  pada dunia foto jurnalistik menyebabkan dia kadangkala harus menomorduakan hal-hal lain demi menelorkan  karya-karya foto yang humanis. Menurutya, foto jurnalis adalah sebuah kejujuran dengan fotografer menjembatani saja.

 

 

Alasan menuangkan  jejak perjalanan hidupnya dari balik lensa kamera adalah sebuah dedikasi untuk kerja yang dinikmatinya sepenuh hati.   Baginya, jejak pengalamana tau sejarah yang tidak tertulis akan lenyap dan kelak disebut dongeng. 

 

Sebalikya coretan yang termaktub di buku adalah  catatan yang bisa abadi. Karya ini pun lahir menjawab aneka pertanyaan seputar pengalaman memotret selama puluhan tahun berkarier sebagai tukang intip melalui lensai. Melalui buku ini, penulis ingin berbagi pengalaman. Dari Mata Lensa, Adek merekam sejarah untuk masa kini dan depan. Selembar foto sejuta kata.