Agrowisata Halal Dataran Tinggi Gayo Antara Peluang dan Harapan

Pemerintah setempat kiranya dapat menerapkan formulasi baru dari sejumlah potensi yang ada

Agrowisata Halal Dataran Tinggi Gayo Antara Peluang dan Harapan
Muhammad Riza

Agrowisata Halal Dataran Tinggi Gayo Antara Peluang dan Harapan

Pemerintah setempat kiranya dapat menerapkan formulasi baru dari sejumlah potensi yang ada

Kota Takengon baru saja merayakan hari jadinya yang ke- 441 tahun baru-baru ini. Dalam hal ini Kota Takengon dapat dikatakan sebagai salah satu manifestasi peradaban di dataran tinggi Gayo yang merepresentasikan beberapa wilayah kabupaten yang dulunya berinduk dalam lingkup Kabupaten Aceh Tengah, seperti Kabupaten Bener Meriah dan Gayo Lues.

Masyarakat dataran tinggi Gayo secara umum dikenal dengan hasil kopinya. Potensi pertanian kopi yang dimiliki wilayah ini pada sisi tertentu telah menjadi berkah tersendiri bagi masyarakatnya secara ekonomi. Namun pada sisi lainnya pertanian kopi di wilayah tersebut tidak selamanya dapat diandalkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Data terkait angka kemiskinan di Aceh Tengah pada tahun 2017 mencapai 34, 24 ribu jiwa atau 16,84 persen dari jumlah penduduk. Fenomena kemiskinan yang tersaji dari data tersebut menjadi bukti dari pernyataan yang disebutkan di atas. Berdasarkan fakta tersebut Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan para pemangku jabatan lainnya diharapakan dapat menemukan dan menerapkan formulasi baru dari sejumlah potensi lain untuk meningkatkan perekonomian rakyat.  

Dari sejumlah potensi yang dimiliki Aceh Tengah, sektor parawisata selama ini terkesan tidak terlalu mendapatkan perhatian serius. Padahal letak geografis daerah dingin ini ini memiliki karakter tersendiri yang dapat dijadikan sebagai magnet pariwisata. Potensi yang menjanjikan ini juga ditopang oleh komoditi kopi yang telah mendunia tentunya.

Dengan dasar pertimbangan ini kemudian tidak mengherankan bila kemudian banyak warga pesisir dan luar Aceh yang menjadikan Kota Takengon sebagai salah satu alternatif destinasi wisata. Sebagai contoh sederhana adalah fenomena yang baru-baru ini terjadi pasca revitalisasi jalan lintas Takengon-KKA yang berimbas pada munculnya objek wisata dadakan seperti objek wisata Gunung Salak yang secara pengemasan relatif sederhana dengan dekorasi payung-payung gantungnya, namun mampu menyedot wisatawan untuk sekedar singgah dan berselfi-ria di sana. Fakta sederhana  tersebut semestinya dapat ditangkap dengan baik oleh pihak pemerintahan dan para stakeholder lainnya di dataran tinggi Gayo sebagai bekal untuk mengembangkan sektor parawisata yang representatif di wilayah tersebut.

Kota Takengon dari ketinggian Objek Wisata Pantan Terong. (Foto: Acun)

Berdasarkan karakteristik wilayah pertanian dan keindahan alam yang dimiliki dataran tinggi Gayo maka dalam hal ini parawisata yang ditopang dengan sektor pertanian atau yang lebih dikenal dengan agrowisata sangat mungkin untuk dikembangkan. Pengembangan jenis agrowisata ini kemudian dalam prosesnya disesuaikan dengan karakter Islami sebagai wujud aktualisasi nilai-nilai syari’at Islam di Aceh dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat dalam desain agrowisata halal dataran tinggi gayo. Dalam rangka pengembangan agrowisata halal sebagaimana yang dimaksud maka dalam ha ini pemerintah dan para stakeholder lainnya di kabupaten Aceh Tengah dan secara umum datarn tinggi Gayo perlu memperhatikan beberapa hal yang sifatnya mendasar dalam mengembangkan potensi agrowisata halal yang terakumulasi dalam prinsip 5 W.

What to see

Salah satu unsur yang paling penting dalam konteks parawisata sebagaimana yang telah diutarakan sebelumnya adalah potensi daya tarik (attraction) yang dimiliki oleh daerah tertentu sebagai pusat pengembangan wisata. Dalam hal ini kota Takengon dan dataran tinggi Gayo secara umum memiliki beberapa spot wisata yang relatif beragam dan menarik untuk dikunjungi. Diantara spot wisata tersebut yaitu danau laut tawar yang selama ini terkesan tidak diberdayakan secara optimal sebagai wahana wisata. Hal ini misalnya dapat dilihat dari kesan terbengkalainya dermaga danau yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai spot pemancingan oleh beberapa orang dan terkesan tidak terawat karena banyak enceng gondok yang menutupi permukaan danau. Seandainya saja dermaga tersebut mampu dikemas dengan baik, maka rasanya akan banyak sekali wisatawan yang tertarik datang untuk menikmati panorama danau laut tawar.

Spot lain yang sangat mungkin untuk dikembangkan adalah objek Pantan Terong yang selama ini dimanfaatkan untuk menikmati keindahan kota Takengon dari ketinggian. Di samping itu juga terdapat Bur Telege yang selama ini lumayan telah dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat setempat sebagai spot wisata dengan wahana yang telah dikemas sedemikian rupa. Tak kalah menarik untuk dikunjungi lainnya adalah arena pacuan kuda tradisional yang selama ini terkesan hanya dinikmati oleh masyarkat dataran tinggi gayo.

Masih banyak lagi objek-objek wisata lainnya seperti Goa Loyang Koro, Goa Putri Pukes, spot Atu Belah, pemandian air panas,spot arkelologi Mendale dan lainnya. Semua objek wisata yang telah disebutkan ini seandainya mampu dikemas dan diberdayakan dengan baik maka tidak sulit rasanya untuk menarik wisatawan untuk datang ke dataran tinggi Kota Takengon dan sekitarnya. 

What to do

Selama ini banyak wisatawan yang relatif bingung selama berada di Kota Takengon dikarenakan banyak objek wisata yang telah tersedia secara alami namun cenderung tidak terorganisir dengan baik. Sebagai contoh sederhana adalah hasrat untuk dapat melihat dan menikmati keindahan danau hanya sebatas secara visual saja tanpa adanya ketersediaan sarana tertentu, sehingga pengunjung dapat mandi dan berkeliling danau dengan menggunakan sarana speed boat atau sarana air lainnya yang memadai dan representatif.

Sepintas bagi kita yang pernah berada di atas Bur Telege yang pinggirannya langsung mengarah ke danau. Rasanya wahana paralayang atau wahana flying fox sangat mungkin untuk dikembangkan dengan catatan pengemasannya mempertimbangkan tingkat kenyamanan dan keamanan (safety) sehingga pada akhirnya akan menjadi objek dengan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Objek Wisata Bur Telege. (Foto: Acun)

Di samping itu, kegiatan yang selama ini juga menarik untuk dilakukan di dataran tinggi Gayo adalah kegiatan mountain camping yang tentunya harus dikemas dengan merujuk kepada nilai syariat dan norma adat setempat sebagai wahana yang halal dan bebas dari potensi kegiatan yang bermotif maksiat dan sebagainya. Objek lain yang selama telah ada dan juga menjadi daya tarik tersendiri adalah pemandian air panas, namun permasalahan yang selama ini dihadapi oleh wisatawan lagi-lagi berkaitan dengan pengemasan yang kurang bersih dan nyaman.

What to buy

Dampak positif yang mungkin akan diperoleh melalui pengembangan sektor agrowisata di dataran tinggi Gayo adalah terbukanya peluang bagi masyarakat untuk menjajakan hasil bumi yang  selama ini relatif sulit untuk dipasarkan secara luas semisal nenas, alpukat, jeruk, hasil tumbuhan palawija seperti sayur-sayuran, dan pastinya komoditi unggulan masyarakat Gayo berupa kopi yang langsung dapat dinikmati di kedai-kedai kopi yang tersedia di kota Takengon. Dengan berkembangnya sektor parawisata di dataran tinggi Gayo juga secara tidak langsung juga akan mendorong perkembangan wisata kuliner setempat yang selama ini relatif kurang terekspos. Seperti gurihnya gulai asam jing, depik, dan panganan lainnya yang menjadi ciri khas kuliner dataran tinggi Gayo.

What to arrived

Letak geografis Kota Takengon dan sekitarnya yang berada di wilayah tengah Aceh pada satu sisi telah menjadikannya sebagai wilayah yang relatif mudah untuk diakses, terlebih untuk mencapai Kota Takengon bagi masyarakat yang berada di pesisir timur utara Aceh selain dapat menempuh rute Bireuen-Takengon juga sekarang dapat menggunakan rute KKA-Takengon.

Selain itu, untuk masyarakat yang berasal dari wilayah pesisir barat selatan Aceh dalam hal ini dapat mengakses Kota Takengon menggunakan rute Beutong-Takengon, hanya saja rute jalan ini harapannya akan ada kerja sama antar pemerntah daerah terkait yang dalam hal ini Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Tengah untuk melakukan revitalisasi jalan tersebut untuk kepentingan pengembangan perekonomian masyarakat lintas dua kabupaten tersebut.

Khusus untuk para wisatawan dari luar daerah Aceh, untuk mengakses dataran tinggi Gayo sudah relatif terlayani melalui jalur udara dengan dioperasikannya Badara Rembele dalam beberapa tahun terakhir ini. Di samping itu para wisatawan dari luar daerah Aceh juga dapat menggunakan jasa transportasi bus dari Kota Medan menuju Takengon.

What to stay

Dampak lainnya yang mungkin akan dapat dirasakan dari pengembangan sektor parawisata di dataran tinggi Gayo adalah berkembangnya bisnis perhotelan dan penginapan yang selama ini cenderung statis. Harapannya adalah dengan menggeliatnya parawisata di Kota Takengon dan sekitarnya, di lain sisi juga ikut memajukan perhotelan yang pada akhirnya akan membuka akses lapangan pekerjaan bagi masyarakat Gayo.

Saat ini Kota Takengon telah memiliki beberapa hotel dan penginapan semisal Bayu Hill Hotel, Linge Land Hotel, dan lainnya yang dinilai cukup layak untuk dijadikan referensi bagi para wisatawan  selama berada di kota dingin ini.

Akhirnya, ulang tahun Kota Takengon yang sudah lebih dari empat abad ini kiranya tidak hanya menjadi ajang tahunan yang hanya diperingati secara seremonial belaka, namun pada sisi lainnya mampu dijadikan oleh pemerintah, stake holder, dan masyarakat dataran tinggi Gayo secara umum sebagai milestone untuk membangun masyarakat ke arah yang lebih maju dan berperadaban, amien.

Muhammad Riza adalah pegiat kajian sosial masyarakat dan dosen pada STAIN Gajah Putih, Takengon.