Anak Disleksia Itu Aset Bangsa

“Anak Disleksia itu aset negara. Bila mereka tidak ditangani dengan benar, maka akan jadi anak biasa-biasa saja.

Anak Disleksia Itu Aset Bangsa
Foto: Desi Badrina

Anak Disleksia Itu Aset Bangsa

“Anak Disleksia itu aset negara. Bila mereka tidak ditangani dengan benar, maka akan jadi anak biasa-biasa saja.

RUANGAN itu penuh gambar. Luasnya hampir satu lapangan futsal. Beberapa tokoh penting Indonesia dan dunia terpajang di sana. Terbingkai dalam ukuran besar kecil. Potret tokoh berpengaruh dunia ditampilkan lebih menonjol. Ukurannya sekitar 50x50 centimeter.

Terpampang wajah datar Eistein memegang buku. Keramahan Walt Dysney bersama tokoh kartun ciptaannya, Miky Mause. Foto Steve Job sedang menampakkan fitur dalam smartphone Apple. Dan masih banyak tokoh dunia lainnya yang bertengger di sudut ruang. Tersenyum pada setiap orang yang menatapnya.

Di depan potret tokoh-tokoh dunia, terdapat tiga meja utama. Di atasnya puluhan buku tergeletak beraturan. Semua bercerita tentang kesehatan. Referensi mengenai satu jenis gangguan dalam istilah kedokteran yang diderita semua tokoh istimewa di ruangan itu. Disleksia. Begitulah dunia medis menyebutnya. 

Pagi, Sabtu kedua Januari. Sepuluh orang dewasa duduk di sudut lain ruangan. Mereka menghadap ke layar di depannya. Perempuan dengan migkrofon menjadi pusat perhatian. Ia menggenakan setelan kaus merah dan celana kulot hitam. Warna kerudungnya senada dengan celana kulot. Sebuah aksesoris pin bertuliskan Dyslekxia; Association Of Indonesia Aceh, tersemat indah, di bagian kanan penutup kepalanya.     

Pembicara itu bernama Dr. Munadia, SpKFR.  Ia ketua Asosiasi Disleksia Indonesia cabang Aceh. Hari itu, Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi ini, berbagi pengetahuan kepada orang tua yang ingin tahu bagaimana perkembangan anak-anak mereka.

Penjelasan Muna runut. Mulai dari bagaimana perkembangan janin dalam kandungan hingga anak usia prasekolah. Dibantu Yanti asistennya, Muna mulai menerangkan slide demi slide presentasi tentang usia dan perkembangan anak.

“Kita udah harus berpikir nutrisi anak sejak dalam kandungan ya. Kesehatan harus dijaga. Seorang anak sudah mulai berkembang kognitifnya sejak 25 hari kandungan, sampai sembilan bulan masa kandungan,” terang Dr. Munadia.

Ia terlihat santai dan tenang selama presentasi. Pasalnya, ia dan timnya mulai fokos berbagi informasi Disleksia pada 2014. Ia juga sempat mengajukan kerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Aceh. Hanya saja, seringnya pergantian kepala dinas di Aceh, membuatnya harus menjalin dan mengulang audiensi dengan pejabat baru.

Mengingat kerjasama dengan dinas terlalu lamban, ada tak ada kemajuan, ia berinisiatif membuka kelas pribadi sekaligus sekolah PAUD untuk anak-anak di Banda Aceh. PAUD Putik Meulu namanya. Tempatnya, masih satu komplek dengan tempat praktiknya, di jalan T. Iskandar, Lhambuk, Banda Aceh.

Dari seminar deteksi anak usia dini itu, sebenarnya Munadia ingin menjaring dan menemukan anak-anak yang terkena Disleksia. Ia mengatakan, pravalensi gangguan belajar satu ini, satu banding sepuluh. Dalam teori yang dipaparkan Munadia, presentasi individu Disleksia mencapai 15 hingga 17 persen dari populasi individu.

“Saya sudah hitung. Kalau rakyat Aceh sekitar 5 juta jiwa, maka 800 ribu jiwa itu adalah individu Disleksia,” papar ibu dua anak itu.   

Disleksia, terang Munadia, adalah disorder atau gangguan yang menyebabkan anak kesulitan belajar spesifik. Artinya, ada beberapa area di bagian otak anak yang mengalami masalah. Itu terjadi pada anak IQ normal bahkan di atas normal IQ.

Ia sering mendapati anak ber-IQ terlalu tinggi, namun kesulitan mengenal huruf. Kadang sulit merangkai kata. Dapat membaca tapi tidak mengerti maknanya. Munadia mengatakan, Individu Disleksia tahu praktiknya, namun sulit mengikuti tahapan-tahapan dalam memulai praktik tersebut. 

“Anak Disleksia punya cara belajar sendiri. Dalam setiap kerjanya, selalu melakukan dengan hasil kreasi berbeda. Mereka tak bisa dipaksa mengikuti peraturan seperti anak biasa,” katanya.

Ia mencontohkan beberapa tokoh Disleksia yang mendunia seperti Walt Dysney. Perjalanan individi-individu itu berliku-liku hingga akhirnya mereka berhasil menyumbangkan karyanya pada dunia.

“Anak Disleksia itu aset negara. Bila mereka tidak ditangani dengan benar, maka akan jadi anak biasa-biasa saja. Negara yang sudah serius menangani kasus ini UK, London. Dan Indonesia langsung di bawah asuhan Presiden British Dyslexsia Association, Prof. Angela Fawcett,” tuturnya.   

Untuk Asia, Dyslexia Association of Singapura atau DAS bertekat menjadi contoh untuk negara Asia pertama yang fokus penanganan anak Disleksia. Sebab mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew ternyata penyandang Disleksia. Dan seluruh dana pensiunnya disumbangkan untuk DAS.

Munadia pernah mengikuti Asosiasi Disleksia Singapura. Mereka gencar mengajarkan guru-guru di sekolah dasar. Kepada dewan guru, DAS mengajak mereka untuk peduli kepada generasi yang mampu membangun negara mereka.  

“Jadi di sana, kalau sudah nemu anak-anak bermasalah, mereka langsung kirim ke DAS. Perbaiki. Misalnya sulit membaca, mereka mengajarkan cara membaca anak Disleksia. Setelah itu dikembalikan ke sekolahnya,” kata Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSIA ini.

Individu Disleksia di bawah usia 7 tahun, terlihat mirip anak berkebutuhan khusus. Munadia memberikan satu contoh khasus pasiennya, yang memiliki Disleksia akut, namun memiliki IQ di atas normal. Sudah empat tahun ia menangani anak itu. Katanya, kejeniusan sang anak tertutupi oleh Disleksia akut yang dideritanya.

“Anak kayak begini, kalau orang tuanya tidak tahu, bakal dikira autis. Karena mirip banget. Takutnya jadi salah penanganan dan ketika dewasa akan menjadi biasa saja,” kata Munadia.

Intelektual yang tidak diasah, lama-kelamaan bisa hilang dan menurun. Lewat Asosiasi Disleksia Indonesia cabang Aceh, dan PAUD Putik Muelu ini, Munadia berharap dapat menemukan individu Disleksia di bawah usia sekolah dasar, agar generasi Aceh di masa mendatang dapat dipegang oleh anak-anak istimewa ini.[]