Kabar angin kadang suka berkata lain. Setiap ada bencana, maka alam yang disalahkan. Seolah-olah alam yang memberikan penderitaan kepada manusia

Angen
Ilustrasi/ sportige.com

Kabar angin kadang suka berkata lain. Setiap ada bencana, maka alam yang disalahkan. Seolah-olah alam yang memberikan penderitaan kepada manusia

Berita tentang cuaca sedang tidak bagus akhir-akhir ini. perubahan iklim sedang menjadi berita besar yang diusahakan penanggulangannya. Anggaran digelontorkan tidak sedikit. Proyek lingkungan sedang gila-gilaan, mungkin dibayangkan setara dengan hasilnya. Jika tidak ditanggulangi, manusia diperkirakan harus segera berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Perubahan iklim menyebabkan sejumlah gunung es di kutup mencair. Kondisi ini membawa konsekuensi kepada naiknya permukaan air laut. Tidak tanggung-tanggung, naik beberapa senti saja, maka sejumlah pulau baik yang berpenghuni maupu n tidak, diperkirakan akan tenggelam.

Tidak sampai di situ. Perubahan iklim menyebabkan keadaan cuaca tidak mudah ditebak. Saat sedang terik-teriknya, tiba-tiba hujan turun. Banjir merata di seluruh kota dan kampung. Bahkan sungai di depan rumah saya yang dulu, banjir bisa dihitung pertahun, kini masyarakat di sana sudah langsung mempersiapkan diri ketika tampak menghitam legam di gunung. Mereka bahkan sudah bisa memperkirakan, setelah sekian jam hujan terus-menerus di atas sana, maka airnya akan melimpah di kampung. Air coklat yang sudah sangat sering terjadi. Entah kepada siapa kondisi ini bisa diungkapkan, karena sering tidak ada solusi. Padahal ketika banjir, orang awam bisa melihat potongan-potongan kayu yang hanyut.

Apa yang bisa ditangkap? Orang awam tahu bahwa ketika hutan dipotong, maka eksesnya kepada mereka. Pemahaman ini tidak hanya mampu dimaknai oleh kaum terdidik –secara formal. Kadang-kadang orang yang berpendidikan formal sekalipun harus banyak belajar dari mereka yang selama ini bergelut dengan masalah aslinya, di kampung-kampung.

Siapa yang tertuduh? Potongan-potongan kayu seolah kreasi para mereka yang dekat dengan hutan. Padahal yang menghancurkan hutan, sebagian besar oleh para mafia yang datang bisa dari mana-mana. Belum lagi ijin yang diberikan atas nama konsesi dan semacamnya.

Kondisi ini diperparah dengan anomali cuaca tadi. Kalau kita belajar dari orang kampung, katanya anomali cuaca sebagian besarnya disebabkan oleh perilaku manusia. Manusia semakin suka-suka dengan lingkungan yang ada. Mereka memperlakukan alam seenaknya, hanya demi memuaskan kebutuhan materi para manusia.

Bukankah alam memang untuk membantu kehidupan manusia? Benar. Mari kita belajar kepada nenek moyang kita, bagaimana mereka menghargai alam dan bisa hidup harmonis dengannya. Benar bahwa alam untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun ia juga harus diperlakukan secara santun dan tidak boleh suka-suka.

Kabar angin kadang suka berkata lain. Setiap ada bencana, maka alam yang disalahkan. Seolah-olah alam yang memberikan penderitaan kepada manusia. Belum lagi, setiap bencana, banyak orang yang berharap harus mempertimbangkan cobaan dari Pencipta. Dengan tidak melangkahi setiap cobaan, manusia harus paham bahwa bencana itu ada yang sengaja diundang manusia.

Kabar angin yang tidak sedap selalu dipelihara, dengan begitu keuntungan bisa dipetik setiap waktu. Orang-orang yang bersalah, memberi ijin untuk mengeksploitasi alam suka-suka, akan mereka yang melakukan eksploitasi secara membabi-buta, sering terlepas begitu saja dari tanggung jawabnya. Sampai kapan?

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.[]