Apoh-Apah

Pada waktu dekat dengan ganja, ia hanya wet-wet gaki. Ia tidak paham bahwa hidup adalah kerja keras, disertai dengan usaha agar memperoleh hidup yang berkualitas.

Apoh-Apah
Photo: REUTERS

Apoh-Apah

Pada waktu dekat dengan ganja, ia hanya wet-wet gaki. Ia tidak paham bahwa hidup adalah kerja keras, disertai dengan usaha agar memperoleh hidup yang berkualitas.

SUHU tinggi, akhir-akhir ini. Udara dan hawa yang ditimbulkan agak panas. Melebihi dari biasanya. Kadang-kadang awan kumpul, namun hujan tak juga turun. Sejumlah tempat hujan sebentar, sekedar membasahi jalan, akan tetapi uap yang ditimbulkan dari balik aspal, juga menambah hawa panas itu.

Pada kondisi begitu, saya membayangkan kondisi orang-orang yang kelebihan berat badan. Dengan kerja berat yang tidak lagi memungkinkan dilakukan, sekaligus berdiam juga tidak boleh menjadi pilihan akhir.

Orang-orang yang berkelebihan berat berat berisiko sejumlah penyakit. Orang menyebut dengan obesitas. Saya cari di internet, tidak ada ukuran pasti berapa normalnya seseorang bisa disebut berada dalam kondisi demikian. Semua tergantung orangnya. Tubuh yang kecil, kondisi kelebihan berat badan langsung bisa dirasakan. Sedangkan orang yang tubuhnya tinggi, ukuran obesitas lebih besar lagi.

Saya melihat bagaimana mereka kewalahan ketika berada pada kondisi yang agak panas. Sedang mereka sendiri harus terus bergerak agar berat badan menurun. Semacam perpaduan kebutuhan. Mengontrol pola makan dan berusaha untuk terus bergerak agar tubuhnya tidak terus menggumpal.

Tidak sedikit suasana apoh-apah berhasil mereka lewati. Banyak orang yang kelebihan berat badan, pada akhirnya bisa mencapai kondisi ideal. Mereka berusaha keras untuk mencapai kondisi demikian. Tidak menyerah pada keadaan. Seyogianya kita memang tidak boleh menyerah pada keadaan. Pada posisi tertentu, sebagai manusia yang berakal, usaha akan mampu menjadikan keinginan sebagai kenyataan.

Keluhan apoh-apah dengan hanya berpangku tangan. Membuat suasana sebaliknya, harus dengan kerja keras. Kehidupan nyata menuntut kita melakukan banyak hal dalam proses mencapai hidup yang berkualitas. Bukan ingin menyederhanakan masalah. Namun jika diukur dengan materi, hidup bukan seperti ungkapan, ho abi, tiek peng saboh guni.

Bagi sebagian orang, tujuan akhir juga bukan sesuatu yang mesti dicapai. Bagi mereka, proses adalah sesuatu yang mesti dilalui. Usaha kita sebagai manusia adalah berproses. Disertai dengan doa yang tulus. Mengenai bagaimana hasilnya, kita tinggal menunggu. Walaupun kondisi akhir tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka tidak penting karena kita sebagai manusia sudah berusaha untuk mencapainya.

Pada titik ini ingatlah sebuah kisah burung pipit yang memadamkan api. Sebuah kebakaran hebat yang terjadi, tidak mungkin dipadamkan oleh seekor burung kecil seukuran pipit. Namun ia berusaha, hilir-mudik, dengan paruhnya mengambil air dan melemparnya ke dalam api yang membubung. Ia tentu diketawakan oleh berbagai makhluk lainnya yang berukuran besar. Akan tetapi bagi burung pipit, tidak soal apinya tidak padam karena keterbatasannya. Usaha yang telah dilakukan telah membuatnya bahagia.

Hal yang penting adalah semua catatan baik dan buruk akan tercatat. Jadi sekecil apapun perbuatan baik, jangan segan untuk dilakukan. Sebaliknya sekecil apapun perbuatan buruk, beranilah untuk meninggalkan. Seseorang mencapai titik akhir yang baik atau buruk, kadang-kadang dari usaha kecil yang sedang dilakukan tersebut.

Inilah yang saya ingat ketika tiga minggu yang lalu, setengah berseloro dan sedikit nakal, seorang yang pernah berurusan dengan ganja, bercerita kepada saya begini. Bagaimana saya tidak tergoda waktu itu, tanah di bumi kita subur sekali. Biji tinggal di lempar begitu saja bisa tumbuh lebat. Lalu duduk-duduk menunggu hingga ia tumbuh besar dan bisa dipanen.

Ia pernah bermasalah dengan hukum. Pada waktu dekat dengan ganja, ia hanya wet-wet gaki. Ia tidak paham bahwa hidup adalah kerja keras, disertai dengan usaha agar memperoleh hidup yang berkualitas.

Lupakanlah berusaha dengan barang haram. Tanah kita subur, maka berusahalah dengan sesuatu yang lurus-lurus saja. Tanaman apapun hanya butuh sedikit usaha, semua bisa ditanam dan tampaknya tanaman-tanaman itu bisa subur demikian hebat. Lantas mengapa generasi yang produktif lebih memilih berpangku tangan ketimbang untuk menggarap berbagai lahan yang luar biasa tersebut?

Saya kira inilah peluang untuk melakukannya. Usia produktif di tempat kita sedang berada dalam porsentase terbesar, yang disebut sebagai bonus. Jika potensi generasi ini bisa digerakkan, barangkali dengan sedikit dibantu manajemen dan strategi gerakan, hasilnya bisa jadi akan sangat berbeda. Kesan lain yang harus ditumbuhkan adalah berbangga dengan aktivitas bertani tersebut.

Bandingkanlah dengan orang yang berkelebihan berat badan, betapa bahagianya mereka ketika pada suatu titik berhasil mencapai berat badannya yang ideal. Dari hidup apoh-apah ke hidup yang enak digerakkan. Itulah kehidupan.[]