Aryos: Ada yang Tidak Beres dengan Seleksi KIP Aceh 2018-2023

“Bagaimana mungkin pansel bisa meloloskan calon yang terbukti memiliki cacat dalam hal integritas"

Aryos: Ada yang Tidak Beres dengan Seleksi KIP Aceh 2018-2023
Aryos Nivada

Aryos: Ada yang Tidak Beres dengan Seleksi KIP Aceh 2018-2023

“Bagaimana mungkin pansel bisa meloloskan calon yang terbukti memiliki cacat dalam hal integritas"

Banda Aceh - Dosen Fakultas Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, Aryos Nivada, menilai keputusan Panitia Seleksi (Pansel) Calon Anggota KIP Aceh periode 2018-2023 yang meloloskan salah seorang kandidat komisioner merupakan mantan Ketua Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh yang dipecat oleh DKPP ketika Pelaksanaan Pilkada 2017 dapat membawa pengaruh terhadap integritas dan profesionalitas pansel di mata publik. 

“Jika Pansel tetap berkeinginan meloloskan mantan Ketua Panwaslih Aceh yang terbukti cacat kode etik maka dipastikan penilaian publik akan merosot terhadap kinerja pansel baik secara integritas dan profesionalitas,” ujar Aryos, Rabu, 2 Mei 2018.

Lanjut Aryos, secara integritas seharusnya Pansel mempelajari secara mendalam track record calon anggota komisioner. 

“Bagaimana mungkin Pansel bisa meloloskan calon yang terbukti memiliki cacat dalam hal integritas. Terbukti dengan adanya putusan DKPP yang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatan. Kemudian dari segi profesionalitas, bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan profesionalitas dari seorang mantan penyelenggara pemilu yang telah terbukti menyelewengkan jabatan dan profesionalitas yang diembannya," katanya.

"Jelas keputusan Pansel meloloskan calon yang bermasalah secara kode etik karena pernah diberhentikan dari jabatannya oleh DKPP membuktikan ada yang tidak beres dalam proses seleksi komisioner KIP Aceh kali ini, tambah Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada ini. 

Aryos juga menyatakan kekecewaanya. Harusnya Pansel kali ini menyeleksi komisioner yang lebih baik dari sebelumnya.

“Justru seleksi kali ini tidak lebih baik dari seleksi sebelumnya. Kalau tidak ingin dikatakan lebih buruk. Jangan sampai pandangan publik semakin kuat bahwa seleksi Komisoner kali ini sudah penuh dengan intervensi maupun kooptasi kekuatan politik yang bercokol di parlemen. Kalau begitu ceritanya, maka seleksi ini hanya intat linto. Calon sudah ada, tapi seleksi dilakukan hanya sebatas formalitas, pungkas aryos.[]