Betapa kita sudah membahagiakan banyak orang ketika madu yang asli itu beredar dan publik percaya bahwa masih ada madu asli di bumi kita

Asli
photo: Shutterstock

Betapa kita sudah membahagiakan banyak orang ketika madu yang asli itu beredar dan publik percaya bahwa masih ada madu asli di bumi kita

ENTAH apa yang akan terbayang di kepala Anda, saat menyebut atau mendengar kata madu. Saya ingin bercerita tentang cairan yang banyak mengandung zat gula pada sarang lebah. Jenis ini juga ditemui dari sari bunga. Tetapi dari satu sudut pandang. Bukan tentang madunya, namun dari orang-orang yang bergiat dengan madu.

Teman saya, seorang doktor, tidak usahlah saya sebut namanya, punya banyak pengalaman tentang ini. Suatu kali, ia ke Janthoi untuk satu keperluan. Sampai di sana, ternyata ia mendapatkan sejumlah pengetahuan secara berantai. Seperti kata pepatah, sipat tak, dua pat luet. Sekali pergi, mendapatkan banyak hal sekaligus.

Hal yang pertama ia temukan adalah soal adanya hutan wakaf di sana, yang dikelola secara swadaya. Dahsyat. Wakaf yang dimaksudkanya, harta itu dimaksudkan tetap untuk kepentingan banyak orang secara produktif, dalam konteks menyelamatkan hutan. Hutan itu digunakan untuk penghijauan, namun lahan untuk menanam pohon, diperoleh dari wakaf banyak orang.

Saya tidak ingin membahas masalah hukum wakaf, karena itu ada domain dan pihak yang tepat membicarakan ini. Namun melihat dari bagaimana konsep yang dibangun, dikaitkan dengan tujuan mereka, yang dilakukan ini menurut saya luar biasa. Apapun namanya, ketika itu digunakan untuk kemaslahatan, maka usaha demikian harus didukung dan disemangati. Orang yang bekerja sukarela untuk itu, harus diberi semangat, dan jangan dihancurkan semangatnya itu.

Sulit mencari orang yang mau bergerak untuk membuat bumi ini makin hijau. Kebanyakan di alam nyata adalah mereka yang hanya memangkas yang sudah ada. Hutan yang hijau dibabat, hanya untuk mengambil beberapa rupiah saja. Selebihnya, sebagai implikasi, kerugian yang dialami oleh orang banyak karena banjir dan gerah, sepertinya hanya dijadikan bahan tertawaan.

Maka dalam hal ini, kampanye untuk mengelola hutan umat semacam ini harus didukung, senantiasa berharap keteguhan komitmen mereka yang mengelola, agar terjaga garis lurus hingga akhir hayat.

Temuan lain teman saya adalah madu. Bersamaan dengan adanya hutan umat demikian, hal lain yang ditemukan teman saya itu adalah madu. Masyarakat sudah menjadikan madu sebagai salah satu sumber pendapatan. Perjuangan untuk mendapatkan madu bukan hal yang mudah. Untuk mendapatkannya, mereka harus berjuang keras. Barangkali hasil yang didapat, tidak selalu selaras dengan usaha yang dilakukan.

Teman saya menjadi juru kampanye madu asli. Ia melihat semangat pencari madu yang selama ini terkendala ketika menjual, karena banyak orang mengira sudah tidak ada madu yang asli. Pengalaman saya itu membuktikan masih ada orang yang menjual madu asli dengan harga yang terjangkau.

Meyakinkan orang untuk madu asli ini, sedang dilakukan oleh teman saya yang doktor itu. Bisa jadi orang lain, yang berpikir angka-angka, memperkirakan ia mendapatkan sebagian dari keuntungan. Namun saya tahu persis, kampanye yang dilakukan jauh lebih strategis dibandingkan dengan keuntungan materi.

Teman saya yang doktor itu bilang, bahwa betapa kita sudah membahagiakan banyak orang ketika madu yang asli itu beredar dan publik percaya bahwa masih ada madu asli di bumi kita. Bukankah itu super sekali?

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.