Atasi Konflik Gajah, Ahmadi Minta Pemerintah Sediakan Lahan 500 Hektar

"Yang diperlukan adalah mengefektifkan paret isolasi berbentuk L, guna menghindari kehadiran gajah. Dalam mewujudkannya pemerintah harus menyediakan lokasi esensial untuk gajah paling kurang 500 hektar"

Atasi Konflik Gajah, Ahmadi Minta Pemerintah Sediakan Lahan 500 Hektar
Rapat penangulangan konflik gajah dengan manusia di Sekdakab Bener Meriah,  Minggu 17 Desember 2017.

Atasi Konflik Gajah, Ahmadi Minta Pemerintah Sediakan Lahan 500 Hektar

"Yang diperlukan adalah mengefektifkan paret isolasi berbentuk L, guna menghindari kehadiran gajah. Dalam mewujudkannya pemerintah harus menyediakan lokasi esensial untuk gajah paling kurang 500 hektar"

Bener Meriah -  Konflik gajah dengan manusia di Kabupaten Bener Meriah hingga saat ini belum juga berakhir. Untuk menanggulangi hal tersebut dinilai harus adanya upaya dari pemerintah menyediakan lokasi esensial untuk gajah.

"Yang diperlukan adalah mengefektifkan paret isolasi berbentuk L, guna menghindari kehadiran gajah. Dalam mewujudkannya pemerintah harus menyediakan lokasi esensial untuk gajah paling kurang 500 hektar," kata Bupati Kabupaten Bener Meriah, Ahmadi.

Hal itu disampaikannya dalam rapat penangulangan konflik gajah dengan manusia di Sekdakab Bener Meriah,  Minggu 17 Desember 2017.

Menurut Ahmadi, sejauh ini anggaran yang telah diluncurkan untuk penangulangan konflik gajah telah mencapai 6,26 milyar, namun belum bisa menyelesaikan persoalan. "Perlu keseriusan mengatasi persoalan ini agar korban harta maupun korbannya tidak terjadi lagi," ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh, Nova Iransyah dalam sambutannya mengatakan, mengatasi persoalan gajah ini harus dipandang dari dua perspektif, yaitu perspektif dari sudut pandang manusia dan perspektif dari sudut pandang gajah itu sendiri.

"Karena gajah adalah binatang yang dilindungi, untuk itu saya sangat sepakat dengan apa yang dikatakan Bupati Ahmadi untuk membuat ekonomi sistem ensessial kawasan gajah (permukiman untuk gajah)," ujarnya..

Sekretris Daerah (Sekda) Bener Meriah, Ismarissiska menilai, memuncaknya konflik gajah dengan manusia sejak tahun 2012 diakibatkan semakin banyaknya pembukaan hutan untuk perkebunan di Kecamatan Pintu Rime Gayo.

"Konflik tersebut bukan hanya menyebabkan korban harta, namun juga korban jiwa. Dimana pada tahun 2014 sudah menelan 3 korban nyawa," cetusnya.

Dalam menanggulangi persoalan ini, kata Ismarissiska, hendaknya dilakukan kerjasama dengan beberapa kabupaten yang merupakan wilayah yang dilalui hewan bertubuh besar itu.[]