Orang tua kita mengingatkan semua kesalahan seharusnya harus ditanggung renteng. Nyang mat taloe, nyang peh bajoe, nyang dong keudroe, sama saja.

Bajoe
Ilustrasi: idrusbinharun.blogspot.co.id

Orang tua kita mengingatkan semua kesalahan seharusnya harus ditanggung renteng. Nyang mat taloe, nyang peh bajoe, nyang dong keudroe, sama saja.

KERJA tim, sebuah kesalahan kecil sekali pun, seharusnya ditanggung bersama. Apalagi dengan tim yang dibentuk sangat valid. Ada tim pekerja, tim pengawas, sampai tim yang memastikan akuntabilitas. Kesalahan tim yang bekerja, tidak selalu karena mereka sendiri. Bisa jadi, juga disebabkan oleh kelemahan mereka yang mengawasi, dan mereka yang memastikan semuanya akuntabel.

Dengan demikian, seseorang yang melakukan kesalahan, dalam kerja bersama, tidak lantas ia bisa ditinggalkan begitu saja ketika ia menghadapi kasus. Menyebut diri tidak terlibat, sering menjadi alasan menghindar diri dari tanggung jawab.

Dalam banyak kasus rasuah, orang-orang lebih cekatan yang menyebut tidak terlibat. Berbagai usaha dilakukan agar namanya terhapus dari catatan. Sedangkan orang-orang yang berlumur noda, sengaja dibenamkan lebih dalam agar yang bermasalah hanya orang-orang tertentu saja.

Model pertanggungjawaban demikian, bisa dianalogikan ke dalam permainan sepak bola. Sebuah kekalahan tidak bisa ditunjuk kiper dan pemain bawah yang harus bertanggung jawab. Pemain bawah yang harus berjuang keras dari gempuran lawan secara tidak seimbang, juga menjadi tanggung jawab pemain-pemain tengah dan depan. Sebaliknya, saat terjadinya gol, juga tidak tepat menyebut bahwa itu murni keberhasilan dari striker. Penyerang yang ada di depan sekali, biasanya sangat sadar bahwa dirinya adalah ujung tombak, yang tidak bisa berbuat apa-apa saat semua tim di bawahnya tidak bekerja. Ketika gelandang tidak menjangkau seperti jangkar, lalu mengolah dan membaginya ke depan, pemain depan tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin terbantu terbuka pertahanan jika para pemain sayap hanya berdiri saja. Mereka harus bergerak lincah dan membuat peta gerakan fleksibel dan dinamis. Tetapi apakah ada yang berbesar hati ketika suatu waktu mendapat penghargaan sebagai top score, untuk berterima kasih kepada pemain lain? Pemain yang bermental dewasa, akan menyampaikan bahwa dirinya hanya ujung dari semua proses. Seperti batu bata, kebetulan saja dirinya yang didapuk untuk menerima atas nama yang lain.

Begitulah dalam tim. Bekerja apapun, selalu ada orang-orang sekitar. Ada yang tanggung jawabnya kecil, ada yang besar. Cerita bijak mengungkapkan kepada kita bagaimana kisah pancuri tujoh, semua memiliki peran. Mereka harus berbagi rata ketika mendapatkan hasilnya, walau risiko terbesar berada pada orang yang memiliki keahlian mencongkel paling depan. Sebaliknya, peran pemberi informasi yang tepat, agar mereka mudah beraksi, juga bagi mereka tidak dianggap sederhana.

Posisi pencuri sekalipun, butuh keberanian untuk mengakui. Mereka akan membantu sesama temannya yang sudah tertangkap. Tidak seperti para pencoleng uang rakyat, ketika di pengadilan, saling menghindar dan saling menyudutkan. Kita bisa tonton persaksian di pengadilan, mereka saling membela diri di hadapan semua orang yang terlibat. Seolah ada yang berdosa dan ada yang biasa-biasa saja tidak memahmi rumus politik dan diajak seketika lalu menjadi korban. Saat-saat demikianlah rumus silat lidah dimainkan secara indah. Padahal semua tim memiliki peran masing-masing. Ada yang memegang tali, ada yang memasang pasak, ada yang memakai tenaga, ada yang memasang pikiran. Semua bekerja untuk kesuksesan tim mereka.

Orang tua kita mengingatkan semua kesalahan seharusnya harus ditanggung renteng. Nyang mat taloe, nyang peh bajoe, nyang dong keudroe, sama saja. Ketika buah nangka dinikmati bersama, maka seyogianya semua orang itu juga harus saling membersihkan getah yang tertempel dari masing-masing tangan mereka.

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.

[es-te, Senin, 22 Januari 2018]