Bukuem

Orang-orang yang memiliki kepribadian tertentu akan dipanggil dengan bukuem –sungguh suatu panggilan yang tidak mengenakkan, walau dianggap lucu.

Bukuem
Ilustrasi

Orang-orang yang memiliki kepribadian tertentu akan dipanggil dengan bukuem –sungguh suatu panggilan yang tidak mengenakkan, walau dianggap lucu.

Bukuem (ikan buntal) atau dalam bahasa keren disebut puffer fish, adalah ikan yang tidak diharapkan. Ikan ini mirip hama yang membuat para pemancingnya marah, jika umpan di pancingannya disambar. Sengaja para pemancing menghindar karena mata pancing akan sulit dilepas dari mulutnya.

Ikan yang tidak diharapkan ini, sering didapat oleh para pemancing. Apalagi saat populasinya meningkat, kita bisa temukan dengan mudah di tempat tertentu. Biasanya ia akan ditinggalkan begitu saja. Sebagian yang baik hati, akan melepaskan kembali sungai –walau risiko akan mendapatkannya kembali.

Ikan semacam ini juga didapat di laut. Sama seperti pemancing sungai, nelayan laut yang mendapatkan ikan jenis ini tidak semua senang. Kecuali mereka yang memiliki jaringan khusus untuk memasok ke restoran mewah yang memiliki ahli untuk mengolah ikan buntal ini. Setelah diolah, ikan yang dianggap sebagai hama, ternyata memiliki harga yang luar biasa. Ia akan disantap oleh orang-orang berduit.

Lucu ya, ikan yang disadari mengandung banyak jenis racun, tetapi dicari oleh pecinta kuliner, dengan harga selangit pula. Betapa besar kepercayaan orang terhadap ahli yang memasak ikan ini, sehingga sedikit saja ada kesalahan, akibat fatal akan menimpa para pemakannya.

Terlepas bagaimana ia dalam kelas tertentu memiliki tempat, akan tetapi di tempat saya, jenis ikan ini berbeda. Saya bukan ahli ikan, makanya saya menduga bahwa ikan buntal yang harganya selangit setelah diolah itu, tidak sama dengan jenis ikan buntal di sungai. Dugaan saya demikian.

Sudah lama saya tidak menyaksikan ikan ini. Namun ungkapannya seperti membumi setiap saat. Orang-orang yang memiliki kepribadian tertentu akan dipanggil dengan bukuem –sungguh suatu panggilan yang tidak mengenakkan, walau dianggap lucu.

Ketika usia saya belasan tahun, sewaktu di kampung, sungai di depan rumah saya masih jernih. Saya memiliki pengalaman memancing. Selaku anak kampung, aneh rasanya tidak memahami bagaimana cara memancing –atau mencari ikan di sungai. Apalagi waktu itu, tidak semua anak memiliki uang, sehingga tidak ada istilah jajan. Makanan hanya diperoleh dari berbagai kreativitas kampung. Turun ke sungai mencari berbagai jenis ikan, atau ke hutan mencari berbagai jenis buah-buahan.

Saat sungai masih bagus, sejumlah jenis ikan masih mudah ditemui. Ikan keureulieng (ikan kerling; banyak menyebut jurung) dengan mudah ditemui di sungai ini. Jenis ikan keureulieng yang sangat mewah sekarang ini, terutama karena sudah sulit mendapatkan, disebabkan perubahan sungai. Orang-orang sudah memperkenalkan peledak, yang menyebabkan bibit ikan mati. Atau menggunakan jaring tertentu, dengan turut mengambil ikan yang masih berukuran kecil.

Sekarang ini sungai dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, yang menyehatkan, atau yang membuat orang menderita. Sungai yang tersedia pasir dikeruk habis-habisan karena alasan butuh uang. Orang-orang yang mencari logam tertentu yang menggunakan kimia seperti merkuri, limbahnya dibuang begitu saja ke sungai. Di depan rumah saya, sungai tidak digunakan merkuri, namun pengambilan pasir yang tidak terawasi, justru membuat sungai hancur. Pada fase ini, sungai tidak ada lagi mendatangkan kebahagiaan.

Sungai pada masa lalu yang penuh bukuem, memiliki sumber ikan yang melimpah. Orang yang mendapatkan bukuem, akan melihat ia menggelembungkan tubuhnya, dan benjolan-benjolan dari tubuh diperlihatkan.  Ketika kerusakan sungai terjadi dimana-mana, orang tidak peduli. Kebutuhan uang menjadi alasan paling sering disebut. Tidak disadari, seperti bukuem, kita menghadirkan benjolan kehidupan, dalam bentuk yang lain.

Bukankah era sekarang, kita menyaksikan betapa orang yang membuat kehidupan semakin sulit, justru berbangga-bangga diri. Merusak kehidupan dengan seterang-terangnya. Pada titik demikian, tanpa disadari, kualitas kita sedang berada lebih rendah dari ikan yang bernama bukuem. Bukan saja ia tidak dibutuhkan. Kehadirannya justru akan dibenci, sebenci-bencinya.

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.