Calitra

Penulis calitra yang hebat memiliki peluang untuk membolak-balik itu

Calitra
Ilustrasi

Penulis calitra yang hebat memiliki peluang untuk membolak-balik itu

Apa beda fiksi dengan nonfiksi? Bagi pengarang dan penulis, jelas bisa membedakan keduanya. Fiksi berbasis pada imajinasi, sedangkan nonfiksi berbasis pada realitas. Imajinasi bergerak bebas mengikuti daya pikir dan bayang-bayang, sementara nonfiksi selalu bergerak berdasarkan pada data yang ada.

Masalah menjadi lain, ketika ada orang yang bisa mengubah yang imajinatif seolah-olah sebagai realitas. Pada saat yang sama, apa yang menjadi sejarah dari realitas yang pernah ada, dirasa sebagai sesuatu yang imajinasi.

Penulis calitra yang hebat memiliki peluang untuk membolak-balik itu. Cerita yang yang bisa mengaduk-aduk pembaca, bisa menjadi kekuatan menjadikan apa yang diimajinasikan itu seolah-olah sebagai realitas. Mereka yang berhasil melakukan ini, pada akhirnya menjadi bayang-bayang baru bagi sebagian orang yang tidak bisa membedakan fiksi dan nonfiksi di atas.

Begitulah saya membayangkan, saat suatu masa orang-orang menunggu jadwal tayang cerita yang dianggap cermin realitas. Mereka meninggalkan aktivitas utama sebagai kewajiban demi menjaga waktu agar bisa menonton tayangan yang menurut mereka cermin realitas itu. Bahkan ribuan episode orang akan menunggu dengan setia.

Para pembuat cerita yang akhirnya berujung untuk difilmkan, sadar proyek besar membutuhkan modal yang besar. Namun mereka memahami persis, proyek besar yang berhasil selalu akan memberi laba yang tidak kecil. Banyak pegiat film yang memperhitungkan secara matang laba-rugi. Film yang dibuat, sudah diperhitungkan sejauhmana akan mendapatkan untung. Lalu dihitung-hitung dengan rencana kualitas sekaligus kuantitas. Dengan rumus demikian, lalu dihitung pula memakai tenaga biasa atau tenaga yang bisa diandalkan. Tenaga yang biasa-biasa saja, berkemungkinan menghasilkan sesuatu yang biasa-biasa saja.

Mereka yang bekerja bisa diandalkan, ketika sesekali terbentur dengan ruang hampa, ia akan surut dulu beberapa langkah untuk menemukan kembali dimana cocok dan akan cair putusan-putusan yang ingin disambungkan. Di sinilah bedanya, ketika suatu film yang telah menelan angka triliunan, pada akhirnya berpeluang mendapat hasil sesuai dengan modalnya. Sering kita mendapat kabar film yang semacam itu, dengan keuntungan yang berlipat-lipat jumlahnya. Keuntungan bisa diperoleh dengan usaha yang tidak tanggung-tanggung, tidak setengah-setengah. Walau dalam sejarah pembuatan film, bukan berarti tidak ada yang rugi. Walau dengan usaha keras, modal besar, teknologi terkini dipakai, nyatanya juga rugi. Nah, itulah hitung-hitungan laba-rugi yang bisa saja dialami oleh mereka yang berusaha.

Untuk mereka yang sukses, nama mereka akan diingat bertahun atau bahkan puluhan tahun. Ada orang yang diingat sepanjang sejarah. Karya mereka lahir seiring dengan perencanaan yang dibuat dengan matang. Waktu yang diberikan juga cukup, sesuatu dengan kapasitas mereka yang bermain, mendapatkan cukup waktu untuk memperlajarinya secara sempurna.

Hasil dari proses yang bagus, tidak jarang akan mengubah basis fiksi seolah sebagai realitas. Dengan pembicaraan yang tidak putus, bisa menempatkan mereka sebagai pengganti realitas penting dalam sejarah manusia.

Sebaliknya ada sejarah besar yang seolah terkubur begitu saja, ketika ia dibiarkan berlalu ditelan zaman. Sejarah besar, ketika tidak ditulis dan dibicarakan bertubi-tubi, akan terlupakan begitu saja oleh anak bangsa. Pada posisi yang demikian, apa yang pernah sebagai realitas penting dan besar dalam sejarah, saat tidak dibicarakan, suatu saat ia seperti membicarakan sesuatu yang fiksi.

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.