[Cerpen] Cinta Antiyah

“Buat apa beribu kali kau ucap cinta, jika permintaanku tak kau penuhi”

[Cerpen] Cinta Antiyah
Ilustrasi

[Cerpen] Cinta Antiyah

“Buat apa beribu kali kau ucap cinta, jika permintaanku tak kau penuhi”

SEMINGGU sudah Antiyah tak selera makan. Pesanan baju pelanggan yang biasanya siap dijahit dua hari kini belum satupun disentuhnya. Antiyah sedang tidak ingin mengerjakan apapun. Badannya yang tambun sudah terlihat kurus. Hal itu terjadi setelah ia diabaikan Fakhruddin. Yaitu kekasih yang sangat ia cintai.

Pakon kamoe noeng.

Suara Nek Maneh membuyarkan lamunan Antiyah. Segera dihapuskan air mata dengan kedua jemari tangannya. Ia tidak ingin Nek Maneh tahu akan permasalahannya dengan Fakhruddin. Sejak kecil Antiyah sudah terbiasa memikul bebannya sendiri. Status yatim-piatu yang disandangnya membuat Antiyah cepat mandiri dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

“Antiyah sedang tidak enak badan saja nek.” ucapnya lirih sembari mempersembahkan sebuah senyuman tanggung untuk orang yang sudah dianggap seperti ibu kandung itu.

Di luar cuaca tampak mendung menandakan sebentar lagi akan turun hujan deras. Antiyah masih belum beranjak dari depan jendela kamar. Matanya kian asyik memperhatikan anak-anak  yang bermain di halaman rumah. Ia berharap dengan menyaksikan kekonyolan anak-anak tersebut setidaknya bisa sedikit menghibur sekaligus mencerahkan suasana hatinya. 

Berkali-kali Antiyah memaksakan diri untuk tersenyum meski usahanya selalu nihil. Sepotong kalimat terakhir pemuda itu masih saja terngiang-ngiang di telinganya.

“Buat apa beribu kali kau ucap cinta, jika permintaanku tak kau penuhi”

Kalimat itulah yang membuat Antiyah tidak bisa makan. Tidak bisa tidur. Tidak bisa tersenyum juga tidak bisa dihapuskan dari ingatannya. Bukan sekali dua kali Antiyah telah berkorban. Mulai dari mengisi pulsa. Memberi uang jajan bahkan ia tidak keberatan saat harus menjual anting-anting peninggalan ibunya demi membelikan baju baru buat Fakhruddin yang akan mengikuti pelatihan ke Banda Aceh. 

Pengorbanan-pengorbanan itu sudah menjadi bagian dari diri Antiyah. Ia begitu ikhlas dan puas di saat bisa memberikan sesuatu untuk meringankan beban sang kekasih.

***

Hari itu dua minggu yang lalu Fakhruddin meminta Antiyah untuk memberikannya uang dengan jumlah yang lumayan besar. Sebagai alasan uang itu adalah modal untuk membudidaya lele. Karna perkara inilah Antiyah galau berkepanjangan. Di satu sisi ia tidak mempunyai uang sebanyak itu untuk diberikan ke Fakhruddin. Namun di sisi lain Antiyah juga tidak ingin kehilangan diputuskan. Sebab Fakhruddin mengancam akan mengakhiri hubungan mereka jika Antiyah tidak memenuhi permintaannya itu.

Setelah mengalami dilema yang cukup berat. Akhirnya Antiyah memutuskan untuk memenuhi permintaan Fakhruddin. Maka dijuallah sepeda motor miliknya. Motor itu adalah satu-satunya barang berharga yang ia punya. Antiyah tak menghiraukan larangan Nek Maneh. Ia tak ingin hubungan yang sudah dibina selama tiga bulan itu kandas di tengah jalan.

Cinta adalah perkara suci. Seseorang tidak boleh menodai cinta hanya karna gejolak hati. Cinta memang mengharuskan pecinta untuk berkorban. Tapi bukan berarti cinta hina. Tak ada kehinaan pada sesuatu yang suci. Dan kodrat cinta adalah suci.

Kata-kata itulah yang selalu dipegang Antiyah. Kata-kata itu pula yang terus mendorongnya untuk tidak berhenti memberi. Kepentingan Fakhruddin juga kepentingannya. Kesedihan Fakhruddin juga duka laranya. Semakin lama cinta di hati Antiyah semakin besar. Sebesar pengkhianatan Fakhruddin terhadapnya.

Nun jauh disana Fakhruddin secara terang-terangan melantunkan seikat sumpah pada seorang gadis yang dikasihinya. Cinta Fakhruddin terhadap Antiyah tak ubah seperti air sumur di musim kemarau. sedikit lagi keruh. tak ada yang istimewa.

Bagi Fakhruddin Antiyah hanyalah gadis lugu yang sedang dimabuk asmara. Tak ada yang bisa dilakukannya selain memanfaatkan keadaan sebaik mungkin.

Antiyah yang sudah dibutakan oleh cinta tidak pernah mau mendengar apa yang disampaikan orang. Jika datang seseorang memberitahu apa yang dilakukan Fakhruddin di belakangnya, sontak ia akan marah besar. Dan dengan kasar menyuruh orang tersebut pergi dari hadapannya.

Sering Antiyah mengusir Ratna, saat sahabatnya itu berbicara hal-hal yang kurang sedap tentang Fakhruddin.

“percayalah padaku, Yah. Aku melihatnya membonceng wanita. Mereka cukup mesra di atas sepeda motor Vario milik Fakhruddin. Kau tahu Yah, mereka pergi ke Batee Iliek. makan rujak di sana. duduk di atas batu besar sambil bepegangan tangan. Coba kau bayangkan, apa lagi namanya kalau bukan pacaran.”

Hanya karena hal itu. Antiyah berminggu-minggu tidak mau bicara dengan Ratna. Ia membenci Ratna sebab telah mejelek-jelekkan Fakhruddin di hadapannya. Antiyah sudah lama mendidik dirinya sendiri untuk tidak berfikir macam-macam. Yang perlu dilakukannya hanyalah yakin seyakin-yakinnya pada cinta Fakhruddin. Cukup itu saja.

Seiring berjalannya waktu, Antiyah mulai merasakan perubahan sikap Fakhruddin. Berkali-kali ia mencoba menghubunginya namun tak pernah ada jawaban. Antiyah sangat khawatir dengan hubungannya kini. Ia takut kalau saja Fakhruddin sudah pergi ke tempat yang sangat jauh. Antiyah tak akan ridha jika kisah cintanya berakhir diperjalanan. Rasa curiga pun mulai mekar di hati Antiyah.

carilah seseorang yang lebih baik dariku, Antiyah. Seperti aku yang telah menemukan seseorang yang jauh lebih baik darimu.”

Sebuah pesan yang dikirim Fakhruddin membenarkan semua dugaan Antiyah. Isi dari pesan itu membuat Antiyah tak lagi dapat membendung air mata. Hatinya hancur berkeping-keping. Antiyah tak menyangka orang yang selama ini dibangga-banggakan telah mengkhianatinya.

Setelah ditinggal Fakhruddin Antiyah sudah menjadi orang yang berbeda. Bahkan Kali ini keadaannya jauh lebih buruk dibandingkan masa-masa Fakhruddin menjauhinya dulu.

Antiyah sudah seperti orang asing. Ia asing dengan dirinya sendiri. Hari-hari dihabiskan dengan termenung dan menangis. Jika awan mendung Antiyah menangis. jika langit cerah Antiyah termenung. Mesin jahit diabaikan. Pesanan baju pelanggan dipulangkan. Pertanyaan nek maneh juga tak lagi dihiraukan.  Antiyah sudah mendapati hobi baru. Termenung dan menangis.[]

Lisa Ulfa adalah peminat sekaligus penulis syair sasrta Aceh dan berasal dari Jeunieb Kabupaten Bireuen