[Cerpen] Istri Seorang Politisi Muda

"jika kutahu akan seperti ini, aku lebih ingin main tiktok dan posting foto dengan ungkapan bijak saja, bukan malah menikahimu, bang..."

[Cerpen] Istri Seorang Politisi Muda
Ilustrasi [jatiqojatim.com]

[Cerpen] Istri Seorang Politisi Muda

"jika kutahu akan seperti ini, aku lebih ingin main tiktok dan posting foto dengan ungkapan bijak saja, bukan malah menikahimu, bang..."

Sopi seperti perempuan dari Bengal di abad pertengahan yang mengirimkan surat melalui burung dara. Sopi menangis mengenang kerinduannya pada kekasihnya yang tak lain adalah suaminya sendiri. Sopi menuliskan pesan singkat kepada suaminya melalui gawai atau smartphone. Air matanya tanpa sengaja jatuh dan menetes di layar gawainya, yang terjadi selanjutnya adalah gawai itu konslet, layarnya mati. Rusak.

Sopi yang malang, bahkan telpon genggamnya pun tak mendukung perasaannya. Ia lemah dan lunglai, sedikit memaki kesialannya. Tampaknya ia harus ketempat servis handphone, tapi itu tak mungkin, sebab Sopi saat ini adalah tawanan mertua galak terlebih lagi Sopi tak diberikan belanja oleh si suami. Sopi terjebak diantara adik-adik ipar yang senang bergunjing. Sopi ingin menangis kencang sebagaimana ketika ia merengek kepada ibu kandungnya yang baru saja meninggal dunia. Tapi di rumah mertua ia tak boleh merengek, kalau masih coba-coba merengek, ia akan dicibir habis-habisan dengan kata cengeng, dan itu cukup membuat luka semakin menganga. Sopi memang sial.

Sopi tak bisa lagi menelpon keluarga dekatnya, semua punya kesibukan masing-masing, menelpon teman-temannya juga nihil, juga memberikan beberapa pesan-pesan kesedihan di media sosialnya. Berharap ada seseorang yang menaruh perhatian pada perasaan sepinya, terlebih ia tak bisa menanyai kabar suaminya dan.menyuruhnya cepat pulang, meskipun suaminya jarang membalas pesannya, belum lagi banyak pertanda suaminya punya simpanan dan tercium aroma poligami di kepala suaminya.

Suami Sopi adalah seorang politikus ulung, dengan bekal bakat orasi dan senyum seperti seorang nabi di atas bukit, suami Sopi menjadi calon politikus pilih tanding, meskipun masih muda. Suami Sopi adalah lelaki tentu saja, sebagaimana lelaki kebanyakan, mereka tak akan betah dengan kondisi istri hanya satu. Terlebih lagi banyak istri adalah salah satu jalan strategis bagi politisi, raja-raja mempunyai banyak istri, orang-orang besar punya banyak istri, pendiri bangsa bangsa dunia ketiga banyak yang poligami, pernikahan bukan hanya sekedar seks, keturunan dan cinta, pernikahan bagi para politisi adalah pengaruh merebut suara dan perhatian yang akan mudah terjamah jika menjarah anak gadis mereka dan dijadikan istri. Sederhana sekali bukan?

Sopi sebagai perempuan malang yang kuyup oleh rasa tak pantas dengan dirinya sendiri, ditinggal suaminya berminggu-minggu dirumah mertua. Sopi tak punya kelebihan di mata suaminya, Sopi tak cantik lagi, belum punya anak, Sopi juga tak tau urusan ranjang dan memasak makanan nikmat seperti chef farah quinn di televisi (itu menjadi standar para lelaki yang suka perempuan pintar memasak). Sopi tak punya itu semua. Sopi yang malang hanya punya titel sarjana Strata II alias S2 yang dia dapatkan ketika sedang suntuk dan tak tahu mau berbuat apa pada umurnya yang masih amat muda.

Waktu berjalan lambat, dan tinggal di rumah ibu mertua membuat Sopi kurus, pasalnya ibu mertua Sopi acuh tak acuh dengan perasaan Sopi, kalau Sopi tak makan, ibu mertuanya tak ambil pusing. Sampai pada suatu hari Sopi sakit dan mual-mual, semua kira ia sedang masuk angin. Tapi ternyata salah, Sopi sedang hamil. Ya, hamil.. suatu hal yang tak disangka duga. Sopi ingin memberikan postingan di akun media sosialnya bahwa ia hamil, tapi gawai Sopi rusak dan tak pernah diperbaiki. Sial!

Beberapa bulan berlalu perut Sopi semakin besar dan mengunung, disaat itu pula, suami Sopi mencalonkan diri menjadi calon legislatif. Yang terjadi kemudian mudah ditebak, suami Sopi kalah suara, tak ada yang bisa diharapkan, semua asumsi partai anjlok, tak ada yang memilih suami Sopi karena banyak faktor, selain faktor kurangnya bagi-bagi uang.

Suami Sopi terjatuh dan tersungkur melihat kekalahannya, esoknya ia suka minum-minum tuak dan ditemukan pada pagi harinya tidur di selokan, lalu banyak yang mencari suami Sopi karena hutang dan lain-lain. Mertua Sopi menangis, dan menjual semua barang-barang dirumah, namun hutang tetap menggunung seperti perut Sopi yang sedang hamil. Ancaman tetap berhamburan bagai hujan. Sopi meringis, ketika suaminya berubah jadi anak.idiot, suaminya gila. Benar-benar gila.

Sedangkan Sopi akan melahirkan beberapa bulan lagi, dengan lemah Sopi mengambil gawai mencoba mengihupkannya, tapi nihil. Sopi ingin sekali membuat postingan sedih di akun media sosialnya.

Dengan tergopoh, Sopi kehabisan akal lalu menjual anting emas yang pernah diberikan ibunya, lalu menjualnya dan membeli telpon genggam bekas, kemudian membuat postingan : "jika kutahu akan seperti ini, aku lebih ingin main tiktok dan posting foto dengan ungkapan bijak saja, bukan malah menikahimu, bang..."  beberapa jam kemudian, komentar berdatangan dari lelaki yang entah, Sopi kembali bahagia, suaminya masuk rumah sakit jiwa. Mertuanya menangis memikirkan hutang anaknya, sedang bayi dalam kandungan Sopi menguap, dunia bagi si bayi akan menjadi amat membosankan.[]

Zulfikar R H Pohan. Saat ini menjadi Ketua Sanggar Daun Mekaum (SDM) Banda Aceh, bergerak di kebudayaan dan kesenian tradisional