[Cerpen] Pejuang yang Ingin Menembak Jendralnya

"Mau kemana kau?" Tanya Istri Kene heran. "Menembak kepala jendral bintang empat ku, presiden bangsat itu!"

[Cerpen] Pejuang yang Ingin Menembak Jendralnya
Ilustrasi [Foto: Shutterstock]

[Cerpen] Pejuang yang Ingin Menembak Jendralnya

"Mau kemana kau?" Tanya Istri Kene heran. "Menembak kepala jendral bintang empat ku, presiden bangsat itu!"

KARENA bangsanya sudah puluhan tahun dijajah oleh negara republik, Kene pun tak ingin dijajah istrinya. Kene, adalah mantan pejuang separatisme. Kene bisa dikatakan titisan Sun Tzu si ahli strategi perang. Bukan hanya itu, Kene juga seorang penembak jitu yang tak kenal ampun.

Bagi Kene, prestasi terbesar adalah pernah meledakkan mobil tentara dan menjarah sebuah gudang penyimpanan senjata yang hanya dlakukan oleh ia sendiri. Mustahil memang, tapi itulah Kene. Namun, ia juga mempunyai kegagalan terbesar dalam hidupnya, yaitu salah memilih istri.

Istrinya tak cantik-cantik amat, juga tak terlalu memanjakan Kene. Sering Kene kedapatan hendak selingkuh dengan perempuan lain, tapi toh  istri Kene melihat gerak perempuan lain lebih hebat ketimbang naluri jendral bintang empat dalam peperangan sekalipun. Kene masih ingat bagaimana kepala Tuti, kekasih gelap Kene dijedotkan ketembok oleh istri Kene yang bringas. Naluri dan nafsu membunuh istri membuat Kene pantas takut pada istrinya.

Perjuangan kelompok separatisme Kene menjadi gerakan yang besar dan dapat simpati dari masyarakat. Daerah Kene diberikan referendum total, alhasil negara merdeka yang diinginkan Kene jadi dan kelompoknya berhasil. Mereka kini merdeka! Telah lewat 10 tahun kemerdekaan negara yang diperjuangkan Kene. Sulit untuk mengatakannya, tapi memang benar bahwa setelah usai peperangan golongan separatisme dan para tentara Kene masih harus tunduk di bawah perintah dan kejamnya istri.

***

Di sebuah warung penjual tuak, Kene menepuk-nepuk meja. Bercerita tentang perang sejumlah pemuda. Mereka pun sangat suka tentang perang, namanya juga masih anak muda. Jika membicarakan masalah perang, Kene akan sangat bersemangat. Asal ada yang mendengarkan, seharian suntuk pun tak jadi soal baginya.

"Lihat, aku diam dalam rawa. Dan mencoret wajahku dengan lumpur. Persis aktor Barat amatiran itu.” jelas Kene sambil mempraktikkan gerak-gerik memegang senjata di rawa

“Tepat di rawa itu, tentara datang. Dari jarak beberapa kilometer… Door! Kupecahkan kepalanya dengan sebuah peluru yang kulecutkan dari moncong senjataku"

Kene diam, senyap. Pendengarnya makin penasaran.

"Ketahuilah nak, membunuh jadi sangat mengairahkan. Jangan salahkan aku. Itu sudah cara kita bertahan hidup dalam perang"

Pendengarnya menelan ludah, saling pandang. Air mata Kene menetes.

Cengeng juga rupanya dia.

Tak lama kesunyian cerita heroik Kene menjadi selimut yang membekukan semua pertanyaan pendengar. Sampai semuanya hilang saat istri Kene memanggil dari kejauhan.

"Suami kurang ajar! Berani-beraninya kau menjarah dompetku supaya bisa minum dengan cecunguk-cecunguk bodoh itu. Pulang! Jangan sampai aku menyeretmu seperti sampah!"

Negara yang diperjuangkan Kene telah merdeka, sebagai negara bekas konflik, tentu banyak hal yang mesti diperbaharui. Tapi, dalam hati kecil orang-orang semua keadaan malah menjadi lebih buruk.

Setiap gerakan perubahan justru melahirkan masalah yang lebih besar ketimbang keadaan yang lama. Lihat saja Kene, prajurit penembak jitu dan ahli startegi perang itu diibaratkan seperti sampah oleh istrinya. Nasib.

Sesampai di rumah, Kene mencoba memprotes istrinya "Tolonglah jangan permalukan aku seperti itu. Aku malu, betul-betul malu kau buat" Desah Kene dengan muka memelas.

"Bodoh! Kerjamu hanya bercerita tentang perang dan perjuangan bodohmu. Nah, sekarang kau dapat apa? Kau hanya sampah!"

Meskipun pahit, Kene merasa perkataan istrinya ada benarnya. Sekarang ia hanya sampah. Prajurit kecil macam Kene tak dapat jabatan dari pemerintahan baru, meski sangat hebat di medan perang. Kene ternyata orang yang susah mengerti birokrasi jilat-menjilat, sikut-mensikut, hasut-menghasut dalam teori birokrasi negara separatisme yang ia perjuangkan. Akibatnya, Kene disingkirkan oleh rekan-rekan sejawatnya.

"Ya, aku tau … aku tau. Tapi, jangan buat seperti itu. Aku ini suamimu"

"Suami dungu macam kau mesti sering dipermalukan, agar kau berfikir."

"Berfikir?"

"Sudahlah. Kau memang tidak sanggup berfikir. Kau memang dungu. Sampai kapan kau akan begini, tidak bekerja dan lihat anakmu kelaparan, sedang kau masih terjebak dalam cerita perang bodoh yang selalu kau ulang-ulang. Mau jadi apa keluarga ini kau buat?"

Kene diam. Di sela-sela ocehan istrinya, Kene teringat kata-kata selingkuhannya, Tuti, "Kamu ini mas, cobalah protes dengan pemerintah negara baru ini. Siapa tahu dapat kebagian proyek atau apa kek, kan lumayan buat nikahan kita."

Belum lagi si Dimin yang selalu mengompori Kene untuk mengancam negara baru. "Kau masih punya senapan dan pistol di rumahmu, ancam saja mereka, kau ini memang bodoh betul!"

Semua kata-kata berseliweran di jidat Kene, intinya hanya satu : Kene bodoh dan tak pandai menjilat dan mengancam. Dan, hal itu benar-benar buruk.

Kalau tidak pandai menjilat ya setidak-tidaknya pandai mengancam, namun tak ada satupun yang Kene bisa. Nasib Kene celaka tiga belas!

Sambil berfikir, kene terus dimaki istrinya, disumpah serapahi, di tuduh macam-macam dan entahlah macam-macam hal pula yang keluar dari mulut istri kene.

Kene tak dengar, ia sedang memikirkan strategi. Strategi perang, yang berujung pembunuhan.

Di saat istri Kene tak hentinya memaki-maki Kene, Kene malah melengos dari hadapan istrinya. Pergi ke kamar tidur, membuka lemari dan tertuju ke satu tempat di dasar lemari. Sepucuk pistol berkarat yang sudah lama tak ia periksa.

Kene pergi, istri kene bertanya-tanya dan tentu saja terkejut campur takut.

"Mau kemana kau?" Tanya Istri Kene heran.

"Menembak kepala jendral bintang empat ku, presiden bangsat itu!" Kene dengan yakin dan geram, bahwa kekacauan hidupnya, kekacauan kelurganya pasti karena perang bodoh yang menyeretnya dan tak memberinya apa-apa.

"Baguslah, setidaknya kau bakal mati atau masuk penjara buatan mereka dan aku tak perlu repot mengurusmu"

Kene pergi dan mengumpat dalam hati, tanpa pamit.

Kene betul-betul serius, ia akan melakukan aksinya. Sendirian. Penembak jitu dan ahli strategi itu menggila, liar seperti batu menggelinding ke jurang terjal.

Kene pergi ke kantor Kepala Negara. Kene tahu, jendral lamanya ada di sana. Jendral itu kini menjadi kepala negara, negara mereka memang kecil, hanya perjalanan satu jam bagi Kene untuk sampai ke tempat kediaman jendralnya.

Sesampainya di tempat kediaman Kepala Negara, Kene kaget. Banyak polisi yang mengelilingi rumah Kepala Negara itu, banyak orang berkerumun. Dan setelah diselidik tanya oleh Kene, bisik-bisik orang mengatakan Kepala Negara telah tewas dibunuh oleh sorang mantan pejuang. Karena takut, setelah membunuh Kepala Negara, mantan pejuang itu membunuh dirinya sendiri. Cerita naas paling brengsek yang diketahui kene.

“Sialan!” pekik Kene dalam hati.

Dari Kejadian itu Kene sadar, strategi perang dengan senjata lebih mudah karena yang kau lakukan hanya membunuh lawan. Sedangkan, strategi perang tanpa senjata alias politik lebih sulit karena kau tidak pernah tahu apa yang dilakukan kelompokmu, dan bagaimana cepatnya musuhmu kawanmu menginginkanmu untuk mati saja.

Kene pulang dengan putus asa. Dengan pistol yang terselip di bokongnya, menemui istrinya dan membantu istrinya membersihkan cucian kotor.

Di sela-sela membersihkan cucian kotor, Kene berbisik pada istrinya “Besok aku akan cari kerja, atau melanjutkan mengurus kebun kecil milik orangtua ku dulu” Bisik Kene sambil berurai air mata.

Cengeng juga dia!

Zulfikar R H Pohan adalah Mahasiswa Unsyiah dan Ketua Sanggar Daun Mekaum (SDM) Banda Aceh.