[Cerpen] Qa dan Kisah Busuk Pendongeng Tua

Ia menuliskan namanya dengan keyakinan. Ia menuliskan namanya bukan dengan bagaimana kau menuliskan namanya bukan dengan bagaimana kau menuliskan namamu dikertas ujian.

[Cerpen] Qa dan Kisah Busuk Pendongeng Tua
Ilustrasi

[Cerpen] Qa dan Kisah Busuk Pendongeng Tua

Ia menuliskan namanya dengan keyakinan. Ia menuliskan namanya bukan dengan bagaimana kau menuliskan namanya bukan dengan bagaimana kau menuliskan namamu dikertas ujian.

"Dia diajarkan sejak kecil oleh ayahnya untuk tidak percaya kepada siapapun. Sekali lagi: siapa pun! Ia memegang kuat teori itu, karena sankin memegang teori itu ia sampai pada satu kesimpulan, ia memilih untuk sulit percaya kepada bahkan ayahnya sendiri.” Kata Jenar Londo padaku satu ketika.

Aku heran dengan alur ceritanya, dan mungkin aku sedang jatuh cinta pada tokoh fiksi secara perlahan. Seorang ‘ia’ pada cerita Jenar Londo. Seperti hantu, dan bahkan lebih buruk lagi dari hantu. Kepiawaian Jenar Londo bercerita benar-benar membunuhku. Pada ‘ia’ seseorang gadis yang dalam cerita Jenar Londo yang telah berhasil menemukan Tuhan.

“Sampai ayahnya meninggal, dan menyadari ia hidup sendiri. Ia benar-benar sendiri. Dia punya teman hantu, tapi semakin ia mempunyai teman yang sangat dekat, semakin ia ingin menendang buah zakarnya atau menggorok lehernya. Ia tak uska memberikan kepercayaan semudah itu kepada manusia” Jenar Londo diam beberapa saat, kembali menghidupkan kreteknya, ini kretek yang ke-lima saat Jenar Londo bercerita.

Cerita apapun, Jenar Londo selalu membawa si ‘ia’ dalam ceritanya, entah itu cerita si kancil atau cerita Nabi Musa, Jenar Londo selalu menghubungkannya dengan Si ‘ia’ . Jika Nabi Musa mendapatkan tongkat dari Tuhan, Jenar Londo akan bercerita bahwa Si ‘ia’ mendapatkan cat lukis dari Tuhan. Atau seterusnya.

Cerita-cerita yang bakal membuatmu bingung dan menantang, bingung-bingung sedaplah.

“Kau tau. Ia bakal menjadi manusia yang lebih klise dari dunia fiksi, dan lebih binal daripada hikayat para tiran?”

Aku menggeleng seraya berharap Jenar Londo melanjutkan ceritanya.

“Ia telah menuliskan namnya di jabal rahmah, yang konon tempat betemunya Nabi Adam dan Hawa. Ia menuliskan namanya disana! Tertera : Qa”

“Apa? hanya namanya saja! Kenapa ia tidak menuliskan hal-hal yang lebih dramatis atau setidak-tidaknya romantis? Ayolah!” Gerutuku sebal.

“Kau tau, nak. Ia menuliskan namanya dengan keyakinan. Ia menuliskan namanya bukan dengan bagaimana kau menuliskan namanya bukan dengan bagaimana kau menuliskan namamu dikertas ujian. Ia menuliskan namanya setelah ia melihat keberadaanya, dia mengaku bagian dari dunia”.

Di samping memang Qa itu gila dan membuat gusar siapapun. Secara pribadi bagiku ia membawa misteri, Jenar Londo mulai menceritakan kisah Qa padaku saat aku masih menginjak kelas 2 SMP. Tentu dengan semua teman-temanku yang nongkrong di warungnya. Namun, semakin aku dewasa aku semakin jatuh cinta kepada Qa. Aku merasakan seolah Qa sedang ada bersamaku, aku membayangkannya duduk di sebelahku saat di sekolah, Qa bakal marah dan bakal melempar guru yang sok pintar dan menganggap semua murid adalah kuali yang mesti diisi olehnya, seperti cerita Jenar Londo tentang Qa yang melawan gurunya saat bersikap menggurui.

Qa kubayangkan berada di sebelah ku saat sedang tidur, seolah aku melihatnya memejamkan mata dan bersila sampai pagi, berdialog dengan Tuhan atau hal-hal semacamnya. Seperti cerita Jenar Londo. Aku hampir gila, dan aku benar-benar jatuh cinta pada Qa.

“Aku tidak bisa menjelaskan Qa lebih banyak lagi, kau kira aku ini selalu di sana. Tidak, tidak anak muda! Aku menceritakan ia hanya pada permukaan saja.” Kata Jenar Londo.

Aku pernah membatin dalam hati. Ingin bertanya pada Jenar Londo. “Apakah Qa itu benar-benar ada?” Tapi pertanyaan itu tak pernah kutanyakan. Sebab, ada atau tidaknya itu tidaklah menjadi masalah, masalahnya adalah aku jatuh cinta pada hantu, aku jatuh cinta pada Qa. Ini sangat buruk, bahkan aku tau masa depanku akan bertambah buruk, sebab aku semakin jatuh cinta padanya setiap hari.

***

“Seburuk apa itu, kawan?” kata temanku suatu hari.

“Aku jatuh cinta pada entah siapa”

“Kau tak perlu malu begitu, aku kadang bisa membantu kelancaran kisah asramamu, kawan”

“Ini tak sesederhana yang kau pikirkan”

“Ayolah!”

“Aku jatuh cinta pada hantu!”

***

Jenar Londo sudah meninggal, aku telah menjadi seorang yang lelaki dewasa, sangat dewasa, kau tau? Teman-teman seumuranku sudah beranak dan bahkan menikah keduakalinya. Dan aku masih terjebak, jatuh cinta pada Qa.

Aku melukisnya (hanya ini kemampuanku untuk menggambarkan wujudnya), dengan wajah gelap dengan tatapan mata tajam. Tajam sekali, aku suka tatapan mata itu, seolah aku menatapnya dan percaya bahwa ia sedang berbicara denganku lewat sorot matanya. Tentu tidak hanya sekali aku melukiskannya, aku sering melukisnya dengan pulpen, pensil dan kuas lukis, tapi mata itu tetap sama. Itu matanya, aku tak bisa menghilangkan pandangan sorot itu. Tak bisa!

Dan masuklah aku pada fase yang sangat amat membuatku jengah, fase keparat yang bagaimana mungkin aku bisa terjebak didalamnya, sebuah fase dimana aku disuguhkan oleh jarak dekat antara ilusi dan kenyataan. Aku melihat Qa. Ya! aku melihatnya, aku melihat padangan mata itu, sorot itu, tajam.  Mengarah padaku. Tepat di bola mataku, tajam dan dingin tatapan itu.

Di sebuah keramaian kerumunan manusia di pusat pasar tradisional. Aku melihatnya, dan ia hanya melihat kearahku. Seolah ia menantiku sejak lama. Aku mendekat, ia senyum. Semakin mendekat, dan ia semakin tersenyum, aku senang bercampur takut. Semakin dekat, ia hilang. Dikerumunan. Aku mengejar, Ya Tuhan. Aku selalu memimpikannya dan saat ini aku bertemu dengannya. Ia nyata, ia ada pikirku. Ia adalah kekasihku, aku kembali mengejar, ini seperti kisah kejar-kejaran sepasang kejar-kejaran sepasang kekasih. Aku yakin ia sedang memberiku petunjuk. Oh tidak, ini bukan kejar-kejaran, ini kucing-kucingan.

Sambil mengejarnya, aku berfikir. Dengan apa aku mempersiapkan diri bertemu dengannya, apa bahan utamaku ngobrol dengannya? Entah lah, yang jelas aku mengejarnya. Tak tahu nanti bagaimana.

Aku ikuti Qa, ia berjalan dari kelok gang ke kelok gang yang lainnya. Sampai aku berhenti pada apa yang kulihat, di tanah kosong, gang buntu. Tanpa Jendela dan tanpa pintu, hanya ada selokan. Kau tak akan percaya apa yang telah kulihat, ya. Sulit untuk mempercainya. Aku menememukan seekor kucing hitam yang buang kotoran disana. Qa hilang.

Qa memang fiksi, tapi ceritanya membawaku lebih dekat pada kenyataan. Seadaninya aku lebih bijak untuk mengetahui setiap kita adalah Qa, dan setiap kisah adalah diri kita yang lain. Maka, aku tak perlu segila ini. Qa tentu fiksi, segala hal tentang Qa yang diceritakan mendiang Jenar Londo cuba kulupakan. Kecuali satu hal: “ia dididik dari kecil untuk tidak percaya kepada siapapun”. Maka adalah bijak untuk tidak percaya kepada tukang cerita tua yang bercerita tentang seorang gadis yang menemukan Tuhan.

Zulfikar R H Pohan saat ini menjadi Ketua Sanggar Daun Mekaum (SDM) Banda Aceh, bergerak di kebudayaan dan kesenian tradisional