[Cerpen] Sebentar Saja

Aku menangis, tapi tangisanku sama sekali tak dapat mengubah keadaan.

[Cerpen] Sebentar Saja
Ilustrasi

[Cerpen] Sebentar Saja

Aku menangis, tapi tangisanku sama sekali tak dapat mengubah keadaan.

LANGIT cerah berganti mendung. Gumpalan awan hitam dengan sengaja mengalahkan sinar bola raksasa yang menguasai jagat semesta. Tak berapa lama butiran-butiran bening bak mutiara  mulai berjatuhan. Satu persatu.

Ku ambil batang rokok untuk ke sekian kalinya. Merokok adalah satu-satunya hal yang cocok untuk kondisiku saat ini. Meski bukan pecandu berat tapi kali ini aku merasa levelku meningkat drastis. Bagaimana tidak, dalam jangka waktu kurang dari satu jam aku sudah menghisap lima batang nikotin beracun itu. Kalau saja Nita tahu pasti dia akan menjewer kupingku hingga merah. Dan tanpa sadar aku tersenyum bahkan hanya sekedar menyebut  namanya.

Nita adalah istriku. Aku sangat mencintainya. Wajah Nita sangat cantik secantik budinya. Aku beruntung bisa menikahi Nita. Mengingat sainganku waktu itu tidak tanggung-tanggung. Kebanyakan dari orang yang ingin melamar Nita berasal dari kalangan atas. Mereka tidak hanya mapan dalam hal ekonomi, tapi wajahnya pun bisa dibilang sesuai bila disandingkan dengan Nita yang anggun mempesona.

Beda jauh denganku. Wajahku pas-pasan. Selain itu pekerjaanku hanya menghabiskan waktu tak jelas. Bahasa kerennya pengangguran absolute. Tapi Tuhan selalu adil. aku patut berterima kasih pada-Nya. Karena Dia telah mentakdirkan Nita menjadi bidadari duniaku.

Kau tahu kawan, Nita amat berbeda dari kebanyakan perempuan. Dia tidak pernah menggunakan air mata untuk membuatku lemah. Nita cukup tegar menurutku. Bahkan setelah menghabiskan masa tiga tahun bersamanya aku belum pernah melihat Nita menangis kecuali saat ia berdo’a seusai shalat. Entah dia bahagia hidup bersamaku  atau diam-diam menutupi kepedihnnya, entahlah. Aku tidak tahu menahu tentang hal itu. Yang jelas aku belum pernah menemukan perempuan sehebat Nita.

Keseringan perempuan yang kujumpai tidak sungkan-sungkan menampakkan kelemahan mereka. Yang lebih parah lagi ada perempuan yang sengaja menangis untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuat. Dan pekerjaan semacam itu sering dilakukan adik perempuanku dulu saat kami bertengkar.

“ Sendirian aja, Dan?”.

Seseorang memegang pundakku dari belakang. Tanpa harus menoleh aku memang sudah tahu siapa yang menyapaku itu. Dia Anwar. Orang yang telah memberiku perubahan besar. Anwar adalah penjual sabu sukses. Aku sudah mengikuti jejaknya kurang lebih satu bulan. Meski belum mahir seperti Anwar tapi aku cukup menikmati pekerjaan baruku itu.

“Silahkan duduk, War!” ujarku seraya mengambil handphone yang tadi kuletakkan di kursi kosong yang letaknya tepat di depanku. Anwar tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.

Seperti biasa, mimik wajah Anwar selalu terkesan ramah dan bersahabat. Bahkan sebelum bicara pun ia sudah terlihat cerdas. Apa saja yang disampaikan Anwar menurutku semuanya masuk akal. Saat Anwar bercerita tentang padinya sekali tanam bisa panen dua kali aku membenarkannya. pernah juga Anwar memberitahuku tentang kambing jantannya bisa memberi anak yang sehat-sehat. Awalnya aku membantah tapi setelah Anwar memberi penjelasan aku mengangguk tanda setuju. Dan terakhir saat Anwar mengajakku untuk melakukan pekerjaan yang dilarang agama dan Negara itupun aku termakan rayuannya.

“Jika kita sudah menjadi orang kaya tentu kita bisa mencari pahala dengan bersedekah, bukan?”. katanya padaku sebelum kuputuskan hendak bergabung atau tidak.

Awalnya aku ragu dengan tawaran Anwar. Walaupun pendidikan akademikku sangat minim tapi aku bukan orang yang dungu tentang agama. Aku pernah tinggal di dayah. Jadi sedikit banyak aku paham tentang halal haram.

Aku dilema beberapa hari sebelum akhirnya sepakat mengikuti jejak Anwar melakukan pekerjaan hina itu. Anwar memberiku semangat sehingga aku merasa sepenuhnya yakin dengan keputusanku. Tentu saja ini semua kulakukan untuk membahagiakan Nita. Aku ingin menjadi laki-laki bertanggung jawab sekaligus ingin membayar semua biaya hidupku yang selama ini ditanggungnya.

Kurasa setelah mempunyai uang banyak aku akan menjadi suami yang sempurna buat istriku. Ah, elok benar rencanaku.

Minggu pertama semuanya berjalan lancar. Aku berhasil melakukan tugasku dengan baik dan mendapat bayaran yang cukup besar dari Anwar. Namun uang itu tak semuanya kuberikan pada Nita. Aku takut dia curiga dengan pekerjaan baruku. Aku sangat tahu Nita, ia bukan perempuan lugu yang gampang dibodohi. Jadi sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak ketahuan.

“Bagaimana untuk tugas kali ini, Dan?. Apa kau sanggup?”

Anwar berhasil membuatku terbangun dari lamunan tentang Nita. Hujan mulai reda. Kebanyakan pengunjung juga sudah pulang. Hanya tersisa orang tua-tua yang masih terkekeh menonton komedi Aceh yang diputar Bang Sufyan. Aku menduga para lelaki tua itu sedang menikmati masa terindah karena tidak perlu cari rumput untuk hewan peliharaannya. Hujan adalah sesuatu yang ditunggu oleh lelaki pemalas di kampungku. Dengan begitu mereka punya cukup alasan untuk menangani istrinya yang buas minta ampun.

“Aku mau berhenti, war”. Jawabku seadanya.

Anwar menatapku tak percaya. Bagaimana mungkin  pemalas sepertimu meninggalkan pekerjaan yang tak perlu menguras keringat ini. Mungkin itu yang ia pikirkan. Anwar sama sekali tak puas dengan jawabanku. Dia mendekatkan tubuhnya ke arahku. mulai menginterogasi.

“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara yang hampir tak terdengar

“Aku ketahuan Nita”. Balasku

“Terus..” Anwar mengkerutkan alisnya saat mendengar alasanku berhenti karena Nita

“Aku diancam pisah dengannya jika masih melakukan ini” kataku lagi

 “Ha ha ha” Anwar tertawa, aku bingung.

“kenapa ketawa” tanyaku penuh harap

“kau bodoh Dan. “ jawabnya kemudian.

“kenapa?”

“Perempuan sangat banyak di dunia ini. Tak sulit mencari pengganti jika kau sudah banyak uang, coba lihat para koruptor, orang-orang yang punya wewenang. hampir semua dari mereka punya selingkuhan. Yang wajib setia itu orang miskin, Dan. Orang miskin, karena mereka gak sanggup kasih makan kalau bininya banyak”.  Anwar menceramahiku panjang lebar.

Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, kawan. Tak butuh waktu lama bagiku untuk termakan hasutan Anwar. kata-kata Anwar selalu sukses meracuni otakku. Untuk kedua kalinya aku mengikuti saran Anwar. Fokus jadi agen sabu.

Setelah dua tahun menikmati kemewahan tanpa kurang suatu apapun. Tibalah sa’atnya bagiku untuk menanggung akibat dari pekerjaan busuk itu. Aku menyesal tapi penyesalanku sudah terlamabat. Aku menangis, tapi tangisanku sama sekali tak dapat mengubah keadaan. Aku benar-benar terperangkap dalam dosa. Dan aku harus mempertanggung jawabkan semua itu.

Hakim telah mengetuk palu. Mau tidak mau, suka tidak suka. aku harus menghabiskan sisa hidupku di balik jeruji besi. Kini aku percaya dengan apa yang disampaikan ibuku. Dimana dan sebagus apapun kita menyimpan bangkai pasti lama-lama bau busuknya akan tercium. Seperti itulah kisahku. Indah. Tapi keindahan itu sebentar saja. []

Lisa Ulfa Adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Ar-Raniry. Lahir di Jeunieb, 5 April 1996.