Cet Langet

Cet Langet
Ilustrasi oleh Yudhie

Cet Langet

Ungkapan cet langet, pada dasarnya ingin mengungkapkan ketidakmungkinan. Sesuatu yang dirasa jauh dari kenyataan. Coba Anda bayangkan, ketika saya masih di madrasah, jika ada orang yang bilang sudah ada manusia ke bulan, spontan ada yang jawab, ka yue cet nak ku pateh (suruh cat biar saya percaya). Bukankah keberhasilan orang ke bulan sudah berlangsung lama?

Ada masalah ketidakpercayaan di satu pihak, dan ketidakmungkinan di pihak lain. Kasus naik ke bulan lebih merupakan sebuah ketidakpercayaan yang diperlihatkan. Ketidakpercayaan ini sendiri bisa disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya bagaimana memahami tentang apa yang akan dipercayai itu. Sedangkan soal cet langet, mewakili wajah ketidakmungkinan.

Menariknya, istilah cet langet inilah yang dipakai secara inspiratif oleh anak muda Aceh. Dalam satu kesempatan, Selasa, 5 September 2017, saya ikut dalam peluncuran buku di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Anak muda itu, Edi Fadhil, alumni FH angkatan 2002, turut menyampaikan sambutannya saat itu. Sambutan secara khusus dan tak biasa, dikarenakan undangan panitia peluncuran buku. Bukan itu saja menjadi sebab. Satu buku menyumbangkan seluruh keuntungan buku untuk program cet langet tersebut.

Saat itulah saya mendengar betapa ungkapan cet langet itu yang ingin bisa diwujudkan. Mereka yang membayangkan banyak hal ketika masih muda, namun terbentur dengan banyak hal –salah satu yang penting adalah ketersediaan dana. Sementara semangat mereka yang ingin membantu, membuncah tidak terbendung. Ketidakberdayaan inilah yang dibayangkan mereka sebagai cet langet. Mereka ingin membalik ketidakberdayaan dan ketidakmungkinan menjadi sesuatu yang bisa diwujudkan dengan kebersamaan. Sesuatu yang awalnya dianggap tidak mungkin, lalu dicoba dengan kreativitas mereka, ternyata berhasil.

Dengan berbekal media sosial, orang bisa memupuk kepercayaan. Mengapa bisa? Kepercayaan orang tentu tidak terbangun dalam sekejap. Mereka telah menularkan virus kebaikan di banyak tempat. Virus-virus itu yang kemudian menyebar menjadi satu semangat saling percaya. Semakin kebaikan ditebar, semangat untuk saling percaya itu akan semakin besar dan lebar.

Saya tidak bisa membendung rasa bahagia, ketika disampaikan sudah 41 rumah dhuafa yang sudah dibangun –sekali lagi modalnya hanya melaporkan foto-foto keadaan rumah, lalu memantik siapa yang memiliki keikhlasan ingin menyumbang. Ternyata banyak sekali yang ingin menyelesaikan persoalan hidup orang lain. Lalu kepercayaan ini yang terus dijaga, hingga saat ini sudah pula membantu tempat usaha, ratusan anak-anak yang bisa menyambung sekolah, serta kebutuhan primer orang-orang yang kurang berdaya. Ada satu rumah singgah yang disediakan untuk orang-orang yang berobat.

Sukarelawan juga terus bertambah. Mereka tidak dibayar sama sekali. Mereka wakafkan tenaganya untuk membantu. Saya tahu, ketika Edi Fadhil bercerita semua itu, ia ingin menyebar virus ini kepada banyak orang lainnya.

Bukan perkara mudah untuk menggerakkan program semacam cet langet ini. Kepercayaan menjadi sangat penting, dan itu yang jarang dimiliki oleh banyak orang. Tidak jarang ketika orang sudah mendapat kepercayaan, melakukan hal-hal yang tidak terduga. Kekayaan inilah yang tidak dimiliki banyak orang.

Sebagai catatan akhir, cet langet itu penting diubah. Cet langet akan menggambarkan ketidakmungkinan. Sementara dengan semangat mereka, sesuatu yang luar biasa sudah dilakukan. Mereka sedang berusaha menyelesaikan banyak orang. Secara tidak sadar, kita harus bahagia karena sebagian tanggung jawab kita itu sudah terselesaikan. Bahkan tidak sedikit di antara kita yang sama sekali belum tergerakkan.[]