Che Guevara dan Sepakbola

Semua keturunan kulit hitam di muka bumi ini merasa diserang kecuali satu orang: Pele. Kita tahu, Pele tak punya mimpi.

Che Guevara dan Sepakbola
Foto: dok. Thinkstock

Che Guevara dan Sepakbola

Semua keturunan kulit hitam di muka bumi ini merasa diserang kecuali satu orang: Pele. Kita tahu, Pele tak punya mimpi.

La Liga punya Real Madrid dan FC Barcelona, dua seteru dengan sejarah panjang permusuhan. Di seberang lautan, di ujung selatan Amerika Latin, ada dua musuh bebuyutan yang selalu bertarung dengan sengit setiap kali bertemu dalam El Superclasico: Boca Juniors melawan River Plate.

Dua klub sepakbola ini bersaing ketat menjadi penguasa Divisi Utama Argentina. River Plate 36 kali jadi juara, sementara Boca membuntuti 32 kali juara. Meski kelasnya masih kalah dari Boca dan River Plate, ada dua klub yang lebih sengit lagi bermusuhan, seolah-olah tak bisa dipertemukan. Dua klub asal Kota Rosario itu adalah Rosario Central dan Newell’s Old Boys.

Di belahan selatan Kota Rosario, warna hitam dan merah, warna ‘kebangsaan’ Newell’s Old, mendominasi dinding-dinding rumah. Sebaliknya di sisi utara, segala hal di jalan, lampu merah, tiang lampu, dan dinding rumah didominasi cat kuning-biru, warna milik Rosario Central. Tak ada daerah ‘abu-abu’, daerah netral, di Rosario.

“Jika kamu bukan pendukung Rosario Central, kamu suporter Newell’s atau kamu bukan siapa-siapa,” kata Juan Yacob, pemilik restoran di bagian utara Kota Rosario, kepada New York Times beberapa tahun lalu. Begitu kerasnya permusuhan di antara pendukung dua klub itu. “Rosario ini sudah sakit,” kata Martin Souto, wartawan olahraga yang sudah mengikuti persaingan klub-klub sepakbola Argentina bertahun-tahun.

Di Rosario inilah dua legenda asal Argentina lahir. Yang satu adalah Lionel Messi, ‘penyihir’ di lapangan sepakbola. Satu orang lagi adalah Ernesto ‘Che’ Guevara. Saat masih belia, Messi pernah bermain di Newell’s sebelum hijrah ke Barcelona, sementara Che Guevara merupakan pendukung setia Rosario Central. Meski bukan pemain bola, nama Che Guevara juga sangat populer di lapangan bola sepak, dan tentu saja di kota kelahirannya.

Socrates bermain bersama timnas Brasil
Foto: dok. Taringa

“Aku punya tiga idola....Che Guevara, Fidel Castro, dan John Lennon.”

Socrates, pemain sepakbola timnas Brasil

Wawancara stasiun televisi Telesur dengan Direktur Kantor Catatan Sipil Kota Rosario barangkali menggambarkan siapa yang lebih populer di kota itu, apakah Messi atau Che Guevara. Catatan pernikahan Messi dengan Antonella Roccuzzo pada Juli 2017 ternyata bukan dokumen terpenting bagi Kantor Catatan Sipil Rosario. Padahal pernikahan itu dihadiri bintang-bintang kondang di lapangan sepakbola, seperti Neymar, Luis Suarez, dan Samuel Eto’o. “Sama sekali bukan…. Dokumen paling penting di kantor ini adalah akta kelahiran Che Guevara,” kata dia.

Sejak kecil, meski mengidap asma, Che memang sudah tergila-gila pada sepakbola. Dalam catatan hariannya menyusuri Amerika Latin dengan sepeda motor, The Motorcycle Diaries, Che sempat mampir di Bogota, Kolombia. Kebetulan kala itu, pada Juli 1952, klub raksasa Spanyol, Real Madrid, tengah bertandang ke kandang Millonarios. Dia tak mau melewatkan kesempatan melihat ‘kedahsyatan’ Alfredo di Stefano, striker Madrid. “Hari ini kami beristirahat untuk menonton Millonarios melawan Real Madrid dari bangku paling murah,” Che menulis.

Bertahun-tahun setelah kematiannya—Che Guevara mati ditembak di Bolivia pada 9 Oktober, persis 50 tahun lalu—dia jadi simbol perlawanan dan pemberontakan di lapangan sepakbola. Diego Maradona, si jenius yang bengal, merajah lengan kanannya dengan gambar Che Guevara. Pada 2004, ujung tombak Arsenal, Thierry Henry, mengenakan kaus bergambar Che Guevara saat menghadiri penghargaan World Player of The Year di Kota Zurich.

“Aku pengagum Che Guevara,” kata Henry dikutip Telegraph. Malam itu dia bicara soal rasisme di lapangan sepakbola. “Kami tak bisa banyak bicara saat ada di lapangan…. Tapi ini merupakan simbol dari apa yang kami rasakan. Jika kami bisa membuat para pendukung berdiri dan berbicara, itu sesuatu yang bagus.”

* * *

Instalasi gambar Che Guevara di Havana, Kuba, pada 1970.
Foto: dok. Getty Images

Nama lengkapnya sangat panjang: Sócrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira. Tapi panggil dia Socrates. Dia seorang dokter, tapi dia juga perokok dan peminum kelas berat. Dia maestro menggocek bola, namun dia juga seorang aktivis gerakan kiri.

“Aku tak ada masalah dengan alkohol karena aku tak kecanduan,” dia berkilah, seperti dikutip Sport TV, soal kebiasaan buruknya. “Aku tak akan mengubahnya.” Pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, Socrates menjadi kapten sekaligus jenderal lapangan bagi tim Brasil. Namun sungguh sayang, walaupun bermain sangat cantik, Brasil ditaklukkan Italia, 3-2, pada babak kedua.

Tapi permainan Socrates, Zico, dan Falcao di Piala Dunia 1982 itu dikenang sepanjang massa. Mereka disebut-sebut sebagai tim terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia yang gagal merengkuh gelar juara. “Kekalahan kami dari Italia tidak sederhana.... Kami seolah-olah telah menaklukkan perempuan tercantik di dunia namun gagal menuntaskan urusan selanjutnya,” kata Socrates beberapa tahun lalu. Italia akhirnya menjadi juara dengan menaklukkan tim Jerman pada babak final.

“Orang mengenang kami bukan karena kami menang, tapi justru karena kami kalah. Tak ada yang mencoba meniru gaya bermain Italia, tim pragmatis yang berhasil merebut gelar juara dunia. Tim yang bermain cantik, dengan seni dan kreatif, malah kalah. Tim dengan keseimbangan teknik, fisik, dan mental sempurna kalah,” kata Socrates.

Lahir pada 19 Februari 1964 di Kota Belem, Brasil, dari keluarga dengan kemampuan ekonomi pas-pasan, Socrates diberkati dengan kemampuan fisik dan otak yang sempurna. Posturnya tinggi menjulang. Dengan tinggi 1,94 meter, Socrates tak mirip dengan rata-rata postur pemain sepakbola Brasil dan Amerika Latin lain.

Kaus bergambar Che Guevara di sebuah kios di Kota Barcelona, Spanyol
Foto: dok. Getty Images

Walaupun sangat miskin, ayahnya banyak melahap buku, termasuk buku-buku filsafat. “Dia tertarik pada filsafat Yunani, makanya memberiku nama Socrates.” Dua saudaranya juga diberi nama mengimitasi filosof dan sastrawan Yunani, Sophocles dan Sosthenes. “Karena dia hanya tahu tiga nama itu.”

Di sekolah, prestasi akademisnya juga di atas rata-rata, sehingga dia bisa menembus seleksi masuk sekolah kedokteran prestisius, Faculdade de Medicina de Ribeirão Preto di Universitas Sao Paulo. Sejak muda, sepakbola sebenarnya tak menarik minatnya. Politiklah yang selalu menyedot ketertarikan Socrates muda.

“Aku baru 10 tahun saat menyaksikan ayahku membakar buku-buku soal revolusi Bolsheviks,” Socrates mengenang. Kala itu suhu politik Brasil sedang memanas setelah militer mengambil alih kekuasaan pada 1964. “Perhatianku selalu tersedot melihat ketidakadilan sosial di negeri ini.”

Bakat sepakbola Socrates seperti jatuh dari langit. “Bakatku bermain sepakbola muncul begitu saja.... Yang aku suka dari sepakbola adalah percampuran sosialnya,” kata Socrates. “Dalam sepakbola, aku menemukan demokrasi. Dari sepakbola pula aku belajar mengenai negeri ini.” Sembari menuntaskan sekolah dokter, Socrates bermain untuk Botafogo.

Baru setelah meraih gelar dokter pada 1978, pada usia 24 tahun, dia pindah ke Corinthians dan bermain di liga teratas, Campeonato Brasileiro Série A. Terhitung terlambat untuk pemain seumurnya. Dalam sepakbola, Socrates menemukan lapangan politiknya. Dengan berewok menutup muka dan rambut gondrong, Socrates mirip sang idola, Che Guevara, di lapangan sepakbola.

Socrates
Foto: dok. 4dfoot

“Aku punya tiga idola... Che Guevara, Fidel Castro, dan John Lennon,” Socrates memproklamasikan diri. Che, Fidel, dan John Lennon. Ketiganya bukan orang biasa dengan jalan hidup tak biasa. Mereka pemberontak seperti halnya Socrates. “Aku suka perempuan.... Aku suka menulis puisi untuk para perempuan.”

Tak suka dengan gaya manajemen otoriter di Corinthians, dia mengorganisasi sel kelompok sosialis, Corinthians Democracy. “Klub ingin mengontrol semuanya, sementara kami merasa pemain harus diajak konsultasi dan tak diperlakukan seperti anak-anak,” kata Socrates dikutip Al-Jazeera. Menurut dia, semua orang dalam tim seharusnya punya suara yang setara dengan manajemen klub, bahkan presiden klub sekalipun, dalam menentukan kebijakan, bahkan dalam urusan jam makan dan waktu istirahat.

Pesan demokrasi itu tak cuma ditujukan kepada manajemen klub, tapi juga kepada penguasa militer di Brasil. Pada musim kompetisi 1982, tanpa takut pemain-pemain Corinthians mencetak kata ‘Democracia’ pada kostum mereka. Socrates dan kawan-kawannya tak peduli terhadap peringatan dari asosiasi sepakbola Brasil.

Setelah gantung sepatu pada 1989, Socrates kembali ke ilmu lamanya: kedokteran. Dia membuka praktek di Kota Riberirao Preto. Belakangan, dia menuntaskan gelar doktoralnya di bidang filsafat. Lewat kolomnya di majalah berhaluan kiri Carta Capital, dia mengkritik pelbagai hal di negerinya.

Lewat kolom bertajuk ‘Some Dream Others Don’t’, Socrates menyemprot seniornya, Pele. Legenda sepakbola Brasil itu, menurut Socrates, tak banyak berbuat untuk melawan rasisme di gelanggang sepakbola. “Semua keturunan kulit hitam di muka bumi ini merasa diserang kecuali satu orang: Pele. Kita tahu, Pele tak punya mimpi,” Socrates menulis pedas.[] DetikX