Cicipi Kelezatan 300 Jenis Kuliner Aceh di ACF 2018

Kuliner di Aceh itu perpaduan dari empat negara

Cicipi Kelezatan 300 Jenis Kuliner Aceh di ACF 2018

Cicipi Kelezatan 300 Jenis Kuliner Aceh di ACF 2018

Kuliner di Aceh itu perpaduan dari empat negara

Banda Aceh - Siapa bilang kuliner Aceh hanya ada Mie Aceh, Ayam Tangkap, atau Roti Cane. di Aceh Culinary Festival (ACF) 2018 terdapat 300 jenis varian makanan. Baik yang masih asli dengan bumbu rempahnya hingga yang sudah termodifikasi dengan cita rasa dan inovasi yang digemari wisatawan mancanegara. 

Terdapat Ramen Bumbu Mie Aceh, Salak Pliek, Sie Kameng Mirah, Kuah Beulangong, Sie Asam Keueng, Kimbab Asam Sunti, Nasi Goreng Asam Sunti, Blukat Bada, Kanji Lemak, Thimpan hingga Bubur Pedas. 

"Kuliner di Aceh itu merupakan perpaduan dari empat negara. Yang pertama ada Arab . Di Aceh banyak sekali dijumpai makanan khas Arab di sini. Lalu ada Tiongkok, Eropa dan India seperti nasi Briyani sangat mudah di jumpai di sini," ujar Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Amiruddin di Banda Aceh, Sabtu 5 Mei 2018.

Sementara itu, lanjut Amiruddin, wisman yang datang ke Aceh itu bukan hanya menikmati pantainya saja. Tetapi juga mencari kulinernya. "Wisatawan paling banyak itu berasal dari Malaysia dan Australia. Jumlah wisman ke Aceh pada tahun 2017 mencapai 78 ribu. Dan tahun 2018 ditargetkan mencapai 100 ribu kunjungan wisman," ucapnya. 

Terlebih dari segi kulinernya, hanya ada dua jenis yaitu enak dan sangat enak dan tersertifikasi halal. "Sekitar ada 280 lebih jenis kuliner dan kudapan yang sudah tersertifikasi dan setiap hari akan terus bertambah, karena banyak muncul kuliner dan kudapan di Aceh," katanya. 

Di ACF 2018 hari kedua, Sabtu (5/5) di Lapangan Blang Padang, Kota Banda Aceh. Kuliner Aceh diberi sentuhan oleh tangan-tangan profesional. Tampak di Kitchen Stage Chef Ragil Imam Wibowo yang berasal dari Restaurant Nusa Indonesia Gastronomy Jakarta melakukan inovasi pada kuliner Kanji Rumbi Tinta Cumi. 

Kanji Rumbi sendiri merupakan hidangan khas Aceh yang biasanya hadir saat bulan Ramadhan dengan 90 bumbu rempah-rempahnya. 

"Bumbu Kanji Rumbi-nya akan diblender dengan tinta cumi. Sehingga nanti berwarna hitam dan menarik dari segi warna serta penyajiannya," ujar Chef yang menerima penghargaan internasional sebagai Best Asian Cuisine Chef pada World Gourmet Summit 2018.

Setelah Chef Ragil unjuk kebolehan. Selanjutnya Chef Tan Ali meracik Mie Goreng khas Aceh yang sering di jumpai di berbagai daerah di Indonesia. Chef yang berasal BLANCO par Mandiff Restaurant di Bali. Terkenal dengan keahliannya menyajikan citarasa fusion Indonesia dengan berbagai kuliner dunia.

"Era saat saat ini kuliner Indonesia mampu bersaing dengan kuliner luar. Terlebih kuliner Aceh sangat kuat dengan flavornya," ujarnya. 

Lantas bagaimana meningkatkan kreatifitas memasak, dengan mengawinkan citarasa tradisi kuliner dengan berbagai kuliner khas dunia. "Presentasi atau penyajian makanan itu penting. akan tetapi quality of the ingredients, rasa dan ambience dari tempat makan atau restoran menjadi kunci kuliner kita bisa diterima para wisatawan," ujarnya. 

Sementara itu, Ketua Pelaksana Top 100 Calender of Event Wonderful Indonesia, Esthy Reko Astuti mengatakan bahwa kuliner bisa menjadi salah satu potensi yang bisa mendatangkan banyak wisatawan, baik di dalam dan luar negeri.

"Kuliner itu daya tariknya hingga 30-50 persen dan menyerap tenaga kerja 30 persen. Dari beberapa data, wisatawan yang datang ke suatu daerah, hampir 50 persen spendingnya ke kuliner," ujarnya. 

Kini giliran Menteri Pariwisata Arief Yahya yang ikut aktif mengampanyekan wisata kuliner. Menurutnya diplomasi kuliner itu sangat tepat dilakukan. 

"Culinary dinikmati siapa saja. Sudah dibuat lama, turun temurun, ratusan bahkan ribuan kali dimodifikasi berdasarkan selera customer. Jadi perlu strategi khusus untuk meng-handle hal ini," kata Menpar Arief Yahya.[]