Coretan Ahmad Farhan Hamid: Akademik Tukang Koh Ok Idi

“Setamat SMA saya ikut les memangkas di tukang pangkas senior di Idi, selama tiga bulan, itu tahun 2011”.

Coretan Ahmad Farhan Hamid: Akademik Tukang Koh Ok Idi
Koh ok: Warga idi memangkas rambut di Banda Aceh. [Foto: Ahmad Farhan Hamid]

Coretan Ahmad Farhan Hamid: Akademik Tukang Koh Ok Idi

“Setamat SMA saya ikut les memangkas di tukang pangkas senior di Idi, selama tiga bulan, itu tahun 2011”.

Banda Aceh - Saat di Banda Aceh saya sering pangkas di Jalan Teuku Daudsyah, Peunayong. Ada lebih 12 kedai tukang pangkas disitu, umpama penjual emas di Jalan Perdagangan.

Memberi layanan pangkas secara bersama, bukan saingan, karena rezeki datangnya dari Allah. Dua hari lalu saya kembali pangkas, bedanya, karena agak sepi, saya mengajak ngobrol tukang pangkasnya. Namanya Herman, 24 tahun, Gampong “bineh Kuala” Idi, Aceh Timur. Saya tanya bagaimana cerita hingga menjadi pemangkas rambut?

Cerita mengalir, bagus. “Setamat SMA saya ikut les memangkas di tukang pangkas senior di Idi, selama tiga bulan, itu tahun 2011”.

Saya tanya, tempat belajar pangkas memungut biaya? Ya, katanya. Sekarang biayanya 1,2 juta. Tempatnya di simpang peut Idi. Ada beberapa tukang pangkas yang membuka les pangkas (kini saya menyebut AKADEMI KOH OK). Guru memberi arahan lisan teknik pangkas, lalu murid langsung praktik. Saya tanya, apakah pelanggan bersedia dipangkas oleh “murid” yang baru belajar? Kamoe geu yu koh ok aneuk miet, jawabnya.

Biasanya hasil pangkas kami dirapikan oleh yang sudah mahir. Lalu Herman mengatakan, bulan kedua belajar dia sudah mulai menambah pengalaman, memangkas di Gampong-Gampong. Bulan ketiga fase pemahiran. Sesudah pendidikan, Herman bekerja sebagai pemangkas di Idi sekitar 6 bulan, dan sejak 2012 Herman sudah di Banda Aceh.

Akan terus bertahan di Banda Aceh? Tanya saya. Tidak pak, saya sedang menunggu waktu yang tepat ke Malaysia. Kami anak muda Idi yang profesi tukang pangkas, perjalanan hidup ya seperti itu, Idi-Banda Aceh-Malaysia. Banyak keluarga di Idi menjadi lebih sejahtera dengan cara ini.

Saya tanya lagi, ada berapa banyak anak muda Idi yang jadi tukang pangkas? Banyak Pak, di sekitar sini, dari sepuluh tukang pangkas, delapan di antaranya orang Idi.

Tanpa disadari, juga tanpa campur tangan pemerintah dan politisi, sebuah tradisi pendidikan profesi sudah berlangsung di Idi. Sambil berguyon saya tanya Herman, pajan ka jI ek yum koh ok? Siwa keude ka meu hai pak...[]