Dosen Palestina Tewas Ditembak di Kuala Lumpur

Rekaman CCTV menunjukkan dua penembak menunggu 20 menit hingga dosen itu muncul.

Dosen Palestina Tewas Ditembak di Kuala Lumpur
Ilustrasi

Dosen Palestina Tewas Ditembak di Kuala Lumpur

Rekaman CCTV menunjukkan dua penembak menunggu 20 menit hingga dosen itu muncul.

Kuala Lumpur -  Seorang dosen Palestina di universitas swasta Malaysia tewas ditembak ketika dia pergi menuju ke surau untuk sholat subuh. Kepala polisi Kuala Lumpur Mazlan Lazim mengatakan bahwa Dr Fadi Al Batsh (35 tahun) ditembak oleh satu dari dua pria dengan sepeda motor bertenaga tinggi saat ia berjalan di trotoar pukul 06.00 waktu setempat di Jalan Meranti, Setapak, Kuala Lumpur.

"Tersangka menembakkan 10 tembakan, empat di antaranya mengenai dosen di bagian kepala dan tubuh. Dia meninggal di tempat. Polisi juga menemukan dua peluru kosong di sana," kata Mazlan seperti dilansir di Channel News Asia, Sabtu (21/4).

Mazlan mengatakan, selain di surau, dosen tersebut juga merupakan imam di sebuah masjid dekat kondominium di mana dia tinggal bersama istri dan tiga anaknya. Rekaman kamera CCTV di dekat tempat kejadian menunjukkan dua penembak menunggu sekitar 20 menit hingga dosen itu muncul dari kondominium.

Kami yakin dosen itu adalah target mereka karena dua orang lainnya berjalan di tempat itu sebelumnya tidak terluka. Kami akan melihat rekaman semua CCTV di daerah itu untuk mengidentifikasi tersangka dan mendapatkan nomor registrasi sepeda motor," ujarnya.

Dia mengatakan, polisi sedang mencari motif pembunuhan dari semua sudut, termasuk kemungkinan keterlibatan teroris ISIS. Dia juga memohon kepada saksi mata untuk membantu polisi mengidentifikasi para tersangka. 

Jasad Dr Fadi dibawa ke Rumah Sakit Selayang dan diidentifikasi oleh Kedutaan Besar Palestina di Kuala Lumpur. "Saya terkejut mendengar berita itu karena Dr Fadi adalah orang baik yang tidak punya musuh. Dia orang yang pendiam dan baik pada semua orang. Saya terkejut bahwa ini telah terjadi," kata Duta Besar Dr Anwar H Al Agha. 

Sumber: Republika