Dosen UIN Ar-Raniry Ikut Pelatihan Hukum Humaniter di Tunisia

Pelatihan tersebut diiukti oleh 80 peserta dari berbagai negara timur tengah dan Afrika.

Dosen UIN Ar-Raniry Ikut Pelatihan Hukum Humaniter di Tunisia
Fakhruddin Lahmuddin

Dosen UIN Ar-Raniry Ikut Pelatihan Hukum Humaniter di Tunisia

Pelatihan tersebut diiukti oleh 80 peserta dari berbagai negara timur tengah dan Afrika.

Banda Aceh - Salah seorang dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Fakhruddin Lahmuddin mewakili Indonesia untuk mengikuti pelatihan hukum humaniter internasional di Tunisia. Pelatihan itu berlangsung sejak 23 April - 2 Mei 2018, diselenggarakan oleh Persatuan Liga Arab bekerjasama dengan International Commitee of Red Cross (ICCR).

Fakhruddin mengatakan, pelatihan tersebut diiukti oleh 80 peserta dari berbagai negara timur tengah dan Afrika. Selain itu juga diundang perwakilan dari negara-negara yang pernah konflik bersenjata.

Diantaranya sebut Fakhruddin, perwakilan dari Afghanistan, Bosnia, Tirgistan,Thailand Selatan, Mindanau dan Indonesia (Aceh). Masing-masing diikuti oleh 1 orang peserta.

Ditambahkan, peserta yang mengikuti pelatihan tersebut adalah para praktisi hukum internasioanal, khususnya hukum kemanusian, akademisi yang bergelar doktoral dan profesor.

“Ada sejumlah materi yang disampaikan, diantaranya hukum kemanusian Internasional, hukum hak-hak asasi manusia Internasional, konflik bersenjata, pihak-pihak yang harus dilindungi dalam konflik bersenjata, fasilitas publik yang harus dilindungi, mekanisme implementasi hukum kemanusian Internasioanal dan tantangannya, hukum pidana Internasional dan mahkamah Internasional, syariat Islam dan hukum kemanusian Internasional,” kata Dia.

Fakhruddin mengatakan, tujuan pelatihan ini adalah pembekalan para praktisi dan akademisi tentang hukum kemanusian internasioanl dan hukum hak-hak asasi manusia Internasional, sekaligus sosialisasinya.

Selain itu, ada sejumlah pemateri yang terkenal yang mengisi acara itu, diantaranya Dr Syarief Athlan (Ketua Pengadilan Kuwait), Dr Muhammad Amin Mahdi (mantan menteri hukum Mesir dan mahkamah pidana Internasioanl Yohoslavia), Dr Ahmad Khalifah (ahli hukum pidana Internasional dari Universitas Ain Assyam Mesir), Dr Muhammad Samih Amru (ahli hukum Internasional dari Universitas Cairo), Dr Hajar dan Prof Dr Khalid Majri dari Tunisia. []