Edukasi Konservasi Penyu di Pulo Aceh

Tak ada boat berlayar Jumat itu. Begitulah aturan adat pelayaran di Pulo Breuh, Kecamatan Pulo Aceh. Hanya kapal yang berangkat Kamis, dan tiba kembali Jumat sore, atau malam yang terlihat. Namun sore itu, ratusan masyarakat berkumpul di bibir Pantai Lambaro. Mereka akan menyaksikan pelepasan Tukik pertama di Pulo Breuh, Kabupaten Aceh Besar.

Edukasi Konservasi Penyu di Pulo Aceh
Photo: Nur Nisa

Edukasi Konservasi Penyu di Pulo Aceh

Tak ada boat berlayar Jumat itu. Begitulah aturan adat pelayaran di Pulo Breuh, Kecamatan Pulo Aceh. Hanya kapal yang berangkat Kamis, dan tiba kembali Jumat sore, atau malam yang terlihat. Namun sore itu, ratusan masyarakat berkumpul di bibir Pantai Lambaro. Mereka akan menyaksikan pelepasan Tukik pertama di Pulo Breuh, Kabupaten Aceh Besar.

“Bang Miki, telur penyu, sudah menetas semalam,” begitu pesan Whatshap Nasir, kepada Marzuki. Nasir adalah anggota dari Lembaga Ekowisata Pulo Aceh (LEPA). Timnya, berhasil menetaskan 36 Tukik. Hasil pratik dalam program Konservasi Penyu pada Nopember 2017.

“Oh, baik. Kalau begitu, kami akan langsung berangkat besok,” balas Marzuki kepada anggota dampingannya. Ia tak menyangka pelatihan Nopember lalu, kepada tim dampingan Yayasan Lamjabat di Pulo Breuh, membuahkan hasil.

Jauh sebelum itu, dasar program Yayasan Lamjabat bermula dari survei pemetaan jenis ikan yang dilindungi, di Kabupaten Aceh Besar. Salah satunya adalah penyu. Dari enam jenis penyu di dunia, ada tiga jenis penyu yang bertelur di Pulo Breuh.

Penyu Lekang atau abu-abu (Lepidochelys Olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys Coriacea) dan Penyu Hijau (Chelonia Mydas). Hari itu, uji coba pertama kelompok konservasi penyu Pulo Aceh itu, berhasil menetaskan 36 jenis Tukik Lekang dari 50 telur yang ditanam.

Setiba di Pulo Breuh, Marzuki langsung bertemu Muslim. Ia termasuk anggota Konservasi Penyu. Kepada Muslim, Marzuki menyampaikan usulan untuk rapat malam itu juga. Membahas tentang bagaimana teknis pelepasan Tukik Lekang.

Dari sepuluh anggota, hanya delapan orang yang berkesempatan hadir. Nasir, Badrudin, Adnan, Evendi, Marzuki Gugop, Muslim, Samsul, dan Muhammad. Sedangkan Kamaruzzaman dan M. Nasir tidak bisa berhadir.

Lewat diskusi malam itu, mereka sepakat mengikut sertakan anak SD kelas satu, sebagai pionir pelepas Tukik pertama dalam program tersebut. Berbagai ide bermunculan. Pasalnya, semua anggota tim khawatir, murid SD kelas satu terlalu kecil untuk diajak bekerjasama melepaskan bayi penyu itu.

“Saya khawatir, murid SD yang tak pernah lihat penyu, malah akan membawa pulang penyu itu ke rumahnya,” gurau Adnan. Semua anggota tim tertawa. Miki yang menyaksikan antusias tim dampingannya pun tertawa lebar.

“Begini. Saya sudah bawa baskom kecil. Nanti akan kita masukkan lima Tukik per baskom. Supaya tak lama sekali tukik itu di tangan anak-anak,” terang Miki sambil menunjukkan tujuh baskom kecil. Ia membawanya dari Banda Aceh.

Muslim pun sepakat. Begitu pula ketua kelompok, Badruddin dan semua anggota tim. Lalu, mereka langsung membagi tugas. Penanggung jawab terhadap pengamanan tempat, siapa yang bertugas menyampaikan undangan kepada teungku imum, aparatur gampong, dan panglima laut. Terpenting, koordinator yang bertanggung jawab terhadap murid SD kelas satu itu.

Hari pelepasan Tukik pun tiba. Ratusan warga gampong Gugop, bahkan lintas Gampong pun hadir menyaksikan pelepasan Tukik pertama di Pulo Breuh itu. Seorang warga Ule Paya, Fauziah, sudah datang di Pantai Lambaro sejak pukul 16.30 WIB.

“Saya dapat kabar dari guru di SD Gugop. Katanya ada pelepasan anak penyu. Ini pertama kali saya lihat,” aku Perempuan yang membawa serta anaknya.

Mustafa, lelaki paruh baya warga Gugop, juga baru pertama kali melihat pelepasan penyu kecil itu. ia mengatakan, biasanya di Pantai Lambaro, akan ramai ketika ada peringatan Rabu Abeh atau Tulak Bala, dan kenduri laut atau pesta rakyat lainnya.

Lebih dari seratus anak SD Gugop hadir Jumat, di minggu pertama Januari itu. Mereka datang lebih dulu dari pada tim Konservasi Penyu. Saat Nasir dan Adnan memasang batas yang menggunakan pancang kayu berpagar tali rapia, sebagian anak-anak sedang asik mandi di laut.

Hingga akhirnya, anak-anak kelas satu SD, diberi instruksi untuk berbaris di depan Verawati, guru SD Gugop. Ia sukarela menjadi koordinator untuk anak didiknya.

“Ayo, anak SD kelas satu baris paling depan, dekat ibu,” imbau Vera. Ia memanggil tiga kali, sebab suaranya berlomba-lomba dengan deru ombak yang menghempas pantai.

Ia menginstruksikan agar anak-anak dapat mendengarkan arahan dari Miki, sebagai bentuk edukasi konservasi terhadap anak SD. Menggunakan bahasa paling sederhana, Program Manager, Yayasan Lamjabat itu, memulai ceramahnya.

“Anak-anak, hari ini kita akan melepaskan anak penyu. Kita lepas ke laut, supaya nanti, penyu yang kalian lepas, ingat untuk kembali ke Pantai Lambaro ini. Apa semua mau ikut lepas Penyu?” tanya Miki kepada seratus anak-anak di hadapannya.

Anak-anak yang semua sudah penasaran dengan Tukik itu, menjawab serentak. “Mau,” teriak mereka kegirangan.

Imam gampong pun diberikan kesempatan memberikan petuah sore itu. Petuahnya lebih luas lagi. Ia menyampaikan itu kepada semua masyarakat yang hadir.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, informasi menjaga lingkungan dan konservasi penyu ini, penting kita sampaikan kepada generasi muda. Sebab, merekalah yang menjadi penerus kita untuk 25 tahun yang akan datang,” terang Imam Gampong Desa Gugop.

Pelepasan Tukikpun dimulai oleh perangkat desa. Tukik kecil, berjalan lambat mengikuti suara ombak. Perlahan tapi pasti. Butuh waktu lebih tiga menit, untuk Tukik itu bersentuhan dengan air laut. Setelahnya ia hilang. Berenang mengikuti irama air laut.

Tiba giliran anak SD kelas satu. Delapan anggota Tim Konservasi Penyu siaga mendampingi bocah usia enam dan tujuh tahun itu. Ketakutan mereka, bahwa anak-anak akan mengenggam terlalu erat, atau meremas Tukik seukuran genggaman dua tangan kecil mereka.

Ternyata, melihat contoh sebelumnya, 30 anak-anak itu cukup ahli meniru gaya memegang tokoh masyarakat yang sebelumnya melepas 6 ekor Tukik. Dengan berjongkok, masing masing anak diberi satu ekor Tukik.

Mereka diajarkan memegang sisi kanan dan kiri tempurung Tukik. Meletakkannya di atas pasir. Kemudian, dengan aba-aba Muslim, disaksikan seluruh masyarakat Desa Gugop, anak-anak itu melepas genggamannya. Tukik berjalan pelan. Kali ini terlihat lebih banyak. Jalan lurus ke depan. Tiga puluh anak saling bersorak menyemangati langkah pendek bayi penyu itu.

“Itu punya ku. Lihat dia paling depan,” kata Nurul Fitri. Gadis kecil berjilbab putih itu, terlihat senang melepas Tukik miliknya.

Acara ditutup dengan pembagian sepaket alat gambar, kepada semua anak usia SD yang hadir menyaksikan fenomena tersebut.

“Ini percobaan pertama dari kelompok Konservasi Pulo Breuh. Kami berharap, rencana pelepasan 300 Tukik di bulan Maret 2018 akan berhasil. Supaya rencana untuk menjadikan Konservasi Penyu sebagai paket wisata dapat berjalan,” kata Marzuki.

Ia menambahkan, jika ekowisata Konservasi Penyu ini berhasil, maka akan membantu perekonomian masyarakat di Pulo Aceh sekaligus menyelamatkan keberlangsungan satwa liar laut satu itu.[]