Etno[e]

Etno[e]
Ilustrasi: historynusantara.com

Kata etno merujuk pada etnis atau suku bangsa. Kata ini kemudian bersanding dengan logi, budaya, sentrisme, linguistik, atau bahkan grafi. Bahkan dalam perkembangannya, ia kemudian dipadukan dengan musikologi, dan semacamnya. Semua kata di belakangnya akan menentukan maksud masing-masing.

Terkait kajian keilmuan, terutama di kampus, urusan untuk mengetahui bagaimana etnis atau suku bangsa, dari berbagai sisi yang tadi, tidak mudah untuk dilakukan. Ada yang bisa ditentukan batasan, namun dalam proses pencarian datanya, batasan itu tidak bisa membatasi sejauhmana sisi data yang seyogianya ditemukan. Bahkan untuk membahas hal terkecil sekalipun, dari sebuah etnis atau bangsa, membutuhkan keseriusan yang tinggi untuk mendapatkan potretnya.

Suatu kali saya dengar cerita seorang senior saya yang menghabiskan berbulan-bulan waktu untuk mengetahui potret suku masyarakat tertentu. Suatu penelitian yang dilakukan kepentingan studi, bisa dibayangkan berapa banyak waktu yang dibutuhkan agar semua dipahami secara sempurna. Jadi sebelum melaksanakan penelitian yang asli, terlebih dahulu dilakukan semacam penelitian pendahuluan, sebagai jalan masuk.

Orang yang menganggap remeh-temeh urusan ini, akan menemukan bayangan palsu dari potret masyarakat yang ingin diketahui luar-dalam. Biasa saja apa yang dilihat, tidak lebih merupakan lapisan paling luarnya saja. Sedangkan inti dari apa yang ada dalam masyarakat itu, tidak bisa ditemukan.

Teringat saya pada kisah lama. Ketika Aceh sedang banyak diburu akhir abad ke-20, banyak negara seperti kehilangan wajah. Proyek intelektual masuk dalam rangka memetakan jalan yang hampir buntu ini. Seorang yang mendapat kesempatan itu adalah Snouck Hurgronje yang kemudian sempat dijuluki sebagai teungku puteh.

Apa yang menarik? Ia bisa meyakinkan publik intelektual, bahwa apa yang disebut teungku tidak selalu sebutan untuk mereka yang alim. Dengan bahasa yang sederhana, Snouck ingin meyakinkan bahwa untuk siapapun, panggilan teungku itu bisa ditabal. Bahwa hal demikian tidak didapat tiba-tiba. Sejumlah buku yang mengupas riwayat hidupnya menjelaskan betapa Snouck menghabiskan bertahun-tahun belajar di Mekkah untuk mengetahui bagaimana orang Aceh dan hubungannya dengan tempat suci itu. Untuk hal ini, mungkin ia hampir berhasil sepenuhnya.

Tentu terlalu ribet jika kolom pendek ini hanya untuk mendebat itu. Ada hal yang ingin saya sampaikan, sesungguhnya sederhana, bahwa jika ingin mengetahui kondisi orang lain, maka harus didalami secara sempurna. Tidak mungkin ingin memotret secara utuh suatu masyarakat atau komunitas, namun tidak mengerti sepenuhnya kondisi masyarakat itu.

Keseyogiaan ini ingin mematahkan proses cepat yang sering dilakukan oleh orang-orang. Seolah-olah ingin menggambarkan sesuatu bisa dalam sekejap. Membicarakan hal yang sesungguhnya krusial, namun dilakukan dengan biasa saja. Bahkan dalam menawarkan hal yang super serius, hanya dilakukan dengan begitu-begitu saja.

Untuk menyelesaikan masalah yang penting, tidak bisa beralasan memotret masyarakatnya dengan biasa saja. Sesuatu yang ditemukan tidak boleh secara berbatas dan dipotong dengan berbagai alasan. Han sep etnoe. Tidak cukup demikian. Jangan sampai mengambil kesimpulan untuk hal-hal yang penting, hanya berbasis pada kegiatan survei sehari-dua, lalu mengambil kesimpulan bahwa masyarakat sana begini, dan masyarakat di sini begitu.

Konsep etnoe seyogianya tak juga dipakai oleh mereka yang memberi kabar. Berita tentang seseorang, terutama yang pahit, harus benar-benar diuji kesahihannya, dengan berusaha maksimal mendapatkan kepastian dan kejelasannya. Bukan karena kebencian atau pertimbangan menarik, lantas melupakan keseyogiaan itu.

Konsep etnoe untuk hal-hal yang krusial, hendaknya jangan dilakukan. Apalagi tawaran yang menentukan kebijakan penting bagi orang atau sekelompok orang yang ada di suatu wilayah. Lebih baik tidak mengambil kesimpulan dari awal, ketimbang hanya mengungkapkan temuan yang semu.

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.

[es-te, Selasa, 10 Oktober 2017]