Forum OrangUtan Aceh gelar Focus Group Discussion dan Buka Puasa Bersama

Tema : “Habitat Reuleoh Populasi Gadeoh (Mencari bentuk dan format pengeloaan kawasan gambut rawa tripa)”

Forum OrangUtan Aceh gelar Focus Group Discussion dan Buka Puasa Bersama
Acara FGD dan buka puasa bersama Forum OrangUtan Aceh (FORA) selasa (20/6/2017) di Kuala Radja Hotel, Banda Aceh

Forum OrangUtan Aceh gelar Focus Group Discussion dan Buka Puasa Bersama

Tema : “Habitat Reuleoh Populasi Gadeoh (Mencari bentuk dan format pengeloaan kawasan gambut rawa tripa)”

BANDA ACEH - Forum Orangutan Aceh (FORA) mengadakan Focus Group Discussion dan buka bersama, kegiatan ini membahas tentang kawasan lindung gambut rawa tripa dengan Tema “Habitat Reuleoh Populasi Gadeoh (Mencari bentuk dan format pengeloaan kawasan gambut rawa tripa)” pada hari selasa 20 juni 2017 di hotel kuala radja Banda Aceh yang didukung oleh Yayasan Ekosistem Lestari (YEL).

Kawasan Rawa Gambut Tripa adalah salah satu dari tiga hutan rawa yang berada di pantai barat pulau Sumatera dengan luas mencapai lebih kurang 61.803 hektar. Secara administratif, 60% luas Rawa Tripa berada di kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya. Sisanya berada di wilayah Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Wilayah tersebut berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Staretgis Nasional (KSN) untuk pelestarian lingkungan hidup. Di dalamnya mengalir tiga sungai besar yang menjadi batas kawasan. Rawa Tripa juga terkenal dengan kekayaan ekosistemnya, diantaranya banyak satwa langka yang berada di dalamnya, seperti:  Orangutan Sumatera, harimau Sumatera, buaya muara, burung rangkong, beruang madu dan lain-lain.

Berdasarkan Kepres No.33/1998 tentang Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), areal rawa gambut ini adalah bagian dari KEL, dan meskipun secara tataguna lahan kawasan ini ditunjuk sebagai Areal Penggunaan Lain (APL) oleh Kepmenhut No 170/2000 dan SK No. 941/Menhut-II/2013, Pemerintah Aceh memfungsikan areal rawa gambut ini sebagai kawasan lindung di luar kawasan hutan (KLLKH), baik melalui SK Gubernur Provinsi Aceh No 19/1999 tentang arahan fungsi hutan Provinsi Aceh, maupun dalam Qanun No. 19 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Provinsi Aceh tahun 2010-2030. Berdasarkan RTRWN yang ditetapkan dalam PP No 27 tahun 2008,  Kawasan Ekosistem Leuser termasuk didalamnya Kawasan Rawa Gambut dinyatakan sebagai kawasan strategis nasional dengan fungsi perlindungan alam dan lingkungan hidup.

Kondisi kawasan lindung gambut Rawa Tripa semakin memprihatinkan, perambahan terus terjadi, Gambut Rusak, dan Rawan Kebakaran, serta populasi orangutan dan spesies lainnya terus berkurang akibat habitatnya terus terancam dengan berbagai aktivitas illegal yang ada di dalam kawasan.

Hasil dari FGD ini merekomendasikan:

1. Semangat kebersamaan dan perhatian para stakeholder untuk terus berupaya menyelamatkan Kawasan Lindung Gambut Rawa Tripa

2. Lahirnya rekomendasi bersama tentang upaya-upaya penyelamatan Rawa Tripa

3. 11.359 Ha yang di tetap oleh pemerintah aceh sebagai kawasan lindung gambut rawa tripa harus  ditingkatkan menjadi kawasan konservasi

4. Perlu dibentuk task force sebagai cikal bakal pembentukan kelembagaan pengelola di Kawasan Rawa Tripa

5. Perlu penguatan kapasitas lembaga pengelola kehutanan di Rawa Tripa serta peningkatan koordinasi dengan lembaga penegak hukum

6. Perlu dijabarkan juga Rencana Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Gambut (RPPEG) Aceh ke dalam RPJM Aceh 2017-2022.

7. Pembentukan forum bersama antar stakeholders peduli Rawa tripa

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, KPH Wilayah V Aceh dan  beberapa aktivis yang bergerak di bidang lingkungan (pegiat lingkungan hidup), dengan narasumber Ir. Agus Halim, M.Sc. (Dosen Fakultas Pertanian Unsyiah dan Tim penyususn KLHS Rawa Tripa), Riswan Zein (Staf Yayasan Ekosistem Lestari) dan T M Zulfikar sebagai moderator (Mantan Direktur Walhi Aceh) demikian Idir Ali Sekretaris Forum Orangutan Aceh (FORA). [] rKise01