Gara-gara Berita Hoaks, Puluhan Orang di India Tewas

Pengeroyokan semakin marak di India sejak 2015.

Gara-gara Berita Hoaks, Puluhan Orang di India Tewas
Ilustrasi

Gara-gara Berita Hoaks, Puluhan Orang di India Tewas

Pengeroyokan semakin marak di India sejak 2015.

New Delhi - Berita hoaks di India merebak dengan cepat melalui media sosial Whatsapp. Selama beberapa hari terakhir, delapan orang terbunuh karena berita hoaks mengenai penculikan anak yang sedang ramai di India.

Dilansir di The Guardian, setahun terakhir sekitar 30 orang dibunuh di India karena dituduh sebagai penculik anak. Hal ini dihubungkan juga dengan semakin banyaknya pengguna Whatsapp di negara tersebut sehingga berita hoaks semakin cepat menyebar.

Pengguna Whatsapp di India bertambah tiga kali lipat selama empat tahun terakhir. Akan tetapi, fakta ini juga menimbulkan tantangan serius karena masyarakatnya tidak siap dengan perkembangan teknologi.

"Karena perkembangan telekomunikasi, telepon genggam dan sejenisnya telah semakin maju. Tapi, pendidikan juga seharusnya berjalan seimbang dengan perkembangan teknologi itu," kata pendiri laman melawan berita hoaks, AltNews, Pratik Sinha, Selasa (3/7).

Pengeroyokan semakin marak di India sejak 2015. Sayangnya, pengeroyokan ini semakin banyak terjadi disebabkan beredarnya berita yang tidak benar. Masyarakat langsung menelan mentah informasi tersebut.

Menurut salah satu jurnalis yang menulis soal pengeroyokan, Mohammad Ali, fenomena ini juga dilatarbelakangi sentimen nasionalisme di India. Ia mengatakan, pengeroyokan sampai membunuh biasanya dilakukan pada orang yang terlihat berbeda.

"Kejadian pengeroyokan di Assam misalnya, korbannya adalah seorang pekerja imigran. Konsep isu ini adalah menargetkan pengeroyokan pada siap apun yang terlihat berbeda. Ini bagian dari wacana nasionalisme dan polarisasi ekstrem," kata Ali.

Sumber: The Guardian/ Republika