Grak ngon Gidham

Grak ngon Gidham
ilustrasi. Photo : Murizal Hamzah

Grak ngon Gidham

Keadaan keluarga saya biasa saja. Alhamdulillah saya memiliki almarhum abu saya seorang pekerja keras. Karena kami keluarga biasa, maka anak-anaknya harus membantu berbagai kegiatan orang tua dalam memenuhi nafkah bagi keluarganya. Saya praktis bisa membantu ketika usia sudah belia. Mungkin kelas enam madrasah atau kelas 1 sekolah menengah pertama. Kurang lebih sebelum beliau meninggal, ada 15 tahun.

Saya mendapat bekal selama lebih kurang 15 tahun itu. Salah satu kerja bersama yang sangat dibutuhkan banyak tenaga adalah ketika mempersiapkan pagar kebun. Bahan dasar pagar adalah bambu, yang alhamdulillah waktu itu kami juga memiliki beberapa rumpunnya. Waktu itu saya mulai belajar cara bekerja secara efektif. Saat itu saya bisa belajar bagaimana orang tua menggunakan tenaga yang terbatas untuk sesuatu yang luar biasa.

Belahan bambu digunakan untuk pagar, ia sangat kuat, bahkan di lokasi yang banyak sekali babi hutan sekalipun, biasanya dengan bambu yang padat, akan membuat posisi pagar kokoh. Bambu yang digunakan sesugguhnya sudah terbagi kepada dua bagian. Bagian paling bawah, biasanya dua atau dua setengah meter, digunakan untuk tiang. Selebihnya digunakan untuk pagar.

Dalam masyarakat tertentu, ujung bambu juga bisa digunakan untuk tali pengikat. Jadi bagian itu harus diperkirakan ketika dipotong. Lalu sisi yang dipotong juga tidak boleh sisi bagian luar –karena akan tertendang dan mengenai pemotong. Jadi harus diambil dari bagian dalam. Pohon bambu itulah yang akan dibelah dan digunakan untuk pagar.

Saya yakin tidak semua orang tahu cara belah bambu yang kelihatan sangat sederhana. Cara belah bambu yang cepat dan sederhana adalah dengan membelah lebih dulu di salah satu ujungnya. Kemudian kaki digunakan untuk menginjak di sisi yang satu, sedangkan tangan digunakan untuk mengangkat di sisi yang lain. Pola seperti ini lebih cepat, syaratnya alur yang dibelah sesuai dengan jenis bambu, karena apabila di alur yang salah, bambu akan sulit terbelah. Begitulah, apabila dilihat dari jauh mungkin kesannya mudah, namun bisa saja terasa berat oleh yang melakukan. Sederhana karena ia tinggal menekan dan mengangkat. Sedangkan yang melakukan membutuhkan teknik dan tenaga ekstra.

Pagar dari pohon bambu akan rusak secara periodik. Biasanya bisa diperkirakan, sekitar tiga atau empat tahun, untuk kebun jenis tanaman tertentu dan di lokasi tertentu terutama yang banyak babi hutan dan gangguan lain, bambu yang dipakai untuk pagar sudah harus diganti. Biasanya bambu bekas itu masih bisa dipergunakan dan dibawa ke kebun yang berada dekat kampung. Lokasinya lebih aman dan tidak banyak gangguuan, karenanya tidak membutuhkan pagar dengan kekuatan ekstra.

Jadi sering ikut dalam memperbaiki pagar kebun, membuat pengalaman saya membelah bambu bertambah. Pengalaman ini, adalah semakin mudah menggunakan kaki untuk menekan yang di bawah, dan mengangkat dengan tangan yang terus berada di atas. Posisinya selalu seperti ini.

Suatu kali saya merenung-renung, sambil membayangkan bagaimana jika bambu itu mengeluh, karena manusia memperlakukannya tidak adil. Sebagian darinya diinjak keras, lalu sebagian lagi diangkat tinggi. Bukankah bagian yang diinjak akan merasa terjepit, sedangkan yang diangkat mendapat angin segar?

Ada bagian yang diangkat (ji grak; beu et). Lalu ada bagian yang dihentak (gidham; gilho). Saya konsultasi dengan sejumlah orang yang memahami bahasa Aceh, kata gidham, itu diucapkan dengan gi-dh’am. Sedang beu et, dibaca dengan beu-oet(angkat). Jika alihbahasa ke Indonesia, gidham sepadan dengan kata injak, namun injak dari katagidham itu, bukan injak biasa, ia harus dilakukan dengan menyentak.

Secara sekilas, gidham akan dipahami seperti kondisi melihat orang yang sedang emosi dan menginjak sesuatu. Bisa dibandingkan, seseorang yang sedang tidak enak badan, atau karena terganggu psikologis tertentu, tiba-tiba digigit seekor serangka. Apa yang akan dilakukan terhadap serangga itu? Bukan orang bisa menginjak, tetapi seolah belum cukup, malah serangga yang lemah diputar lagi sehingga ia benar-benar hancur. Nauzdubillah.

Dengan demikian, gidham memang harus menyentak. Mereka yang melakukannya, akan menganggap kerja ini sebagai seni (seulah). Jangan lupakan seni bekerja model ini, yang membuat banyak orang sangat terbantu dalam mendayagunakan kekuatannya secara efektif.

Saran saya jangan pakai pengalaman dan seni ini untuk memperlakukan manusia. Seseorang harus selalu paham bahwa ketika diinjak, manusia akan terjepit dan merasa kemanusiaannya tidak berharga. Namun ketika diangkat pun, harus dilakukan secara manusiawi. Percayalah, apabila suatu waktu Anda pernah melakukan hal ini, maka haruslah sensitif dan sering mendengar mereka yang di bawah, yang ditekan dengan kaki, mengeluh dan meratapi nasibnya ketika dilupakan dan tidak ada yang peduli.[]