Guru PAUD, Disleksia, dan Intelektual Anak

Guru PAUD dituntut untuk memiliki kemampuan mendeteksi dini

Guru PAUD, Disleksia, dan Intelektual Anak
Ilustrasi : [Foto Bantennews.com]

Guru PAUD, Disleksia, dan Intelektual Anak

Guru PAUD dituntut untuk memiliki kemampuan mendeteksi dini

WAJAH perempuan itu terlihat antusias. Ia memilih duduk di deretan bangku kedua dari depan. Laptop 14 inc miliknya, dengan sigap ia keluarkan dari ransel. Agaknya, ia tak ingin ketinggalan secuil informasi mengenai seminar mini, Kelas Disleksia khusus Guru PAUD.

Namanya Cut Zahra Mutia, 28 tahun. Dia pernah mengajar di sebuah PAUD, di Kota Banda Aceh. Baginya, materi hari itu cukup menarik. Sebab, belum pernah ia mendapatkan informasi mengenai kesulitan belajar anak disleksia usia 3 sampai 5 tahun, yang sangat mempengaruhi masa perkembangan anak pra sekolah.

“Apa kesulitan belajar anak menurut guru-guru PAUD? Apa sudah ada yang pernah menemukan apa kesulitan belajar anak?” tanya dr. Munadia, SpKFR. Ia ketua Asosiasi Disleksia Indonesia cabang Aceh yang membuka seminar mini itu.

“Pada usia PAUD, kami belum melihat kesulitan belajar itu dokter, karena kami mencoba menstimulus perkembangan anak,” jawab Cut Zahra Mutia. Pertanyaan itu menjadi pembuka diskusi bagi dokter Munadia, untuk mengetahui pengetahuan guru PAUD terhadap perkembangan belajar anak.

Dokter Muna sepakat dengan jawaban perempuan yang sering mengisi kajian tentang anak untuk kelompok pengajian bimbingannya.

Namun, alangkah terkejutnya semua guru PAUD saat mendengarkan penjelasan Dokter Spesialis Anak Berkebutuhan Khusus, bahwa deteksi kesulitan belajar anak sudah dapat diketahui sejak usia anak genap tiga tahun.

Hasil penelitian menyebutkan, stimulasi dan intervensi sangat baik diberikan untuk anak di bawah usia tiga tahun. Sebab, terang Dokter yang bekerja di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh itu, keserdasan intelektual atau perkembangan kognitif anak terbentuk di bawah usia tiga tahun.

Kecerdasan intelektual yang dibawa sejak dini, menjadi bekal hingga anak dewasa. Bagi guru PAUD, lanjutnya, penting mendeteksi dini perkembangan belajar anak, untuk menghindari terjadinya speech delayed sebagai pondasi awal perkembangan akademik anak.

Kepada guru PAUD Muna menyampaikan, bila mereka menemukan anak usia tiga sampai lima tahun masih memiliki kesulitan berbahasa, maka mereka harus memberikan stimulus untuk anak agar mereka bisa berbicara terlebih dahulu, meski tidak sesuia dengan usianya.

Rumor bahwa anak akan bisa bicara dengan sendirinya, adalah rumor yang salah. Jika anak tidak diintervensi dan distimulus untuk berbahasa, maka akan menghambat perkembangan kognitif anak.

Muna agak tegas menerangkan defenisi speech delayed atau kesulitan berbahasa anak sejak diniPasalnya, ia sering mendapati orang tua yang berkonsultasi dengannya, salah tafsir dengan istilah speech delayed.

“Banyak orang yang salah tanggap dengan speech delayed. Misalnya kita delay pesawat dari Banda Aceh ke Jakarta, pasti akan tetap sampai kan? Dan speech delayed ini punya batasan waktu. Yaitu  enam bulan. Jika lebih, maka anak akan tertinggal kemampuan intelektualnya,” jelas Muna.

Kesulitan belajar usia dini, bisa disebabkan oleh kelainan perkembangan anak. Munadia mencontohkan, kemampuan anak yang usianya empat tahun, namun cara berbahasanya seperti anak usia dua tahun atau mengalami speech delayed merupakan indikator penyandang disleksia.

Selain speech delayed indikator lainnya untuk penyandang disleksia yaitu kesulitan membaca, mengeja, dan menulis saat usia sekolah dasar.

“Di sinilah, guru PAUD dituntut untuk memiliki kemampuan mendeteksi dini, supaya dapat membuatkan kurikulum khusus untuk anak yang memiliki kesulitan belajar,” kata dr. Munadia, SpKFR.

Penyandang disleksia akan membawa kesulitan belajar tersebut seumur hidup. Namun, bila ia diberikan intervensi yang benar sesuai dengan cara belajar disleksia maka individu ini dapat membaik dan menjadi aset bangsa.

Ia mengaskan kepada puluhan guru PAUD yang hadir, bila penyandang disleksia usia tujuh sampai sembilan tahun, masih tidak diintervensi, maka individu cerdas, kreatif, dan berbeda ini, akan semakin turun intelektualnya, bahkan bisa jatuh ketahapan disabilitas intelektual.

“Saya berharap, ibu-ibu sekalian, dapat mendeteksi dini anak-anak di sekolah masing-masing. Tidak sulit kok. Ikuti saja bagaimana kesulitan belajarnnya, lalu berikan intervensi sesuai dengan kebutuhan perkembangan belajar anak,” tutupnya.[]