Nenek moyang kita menyebut jampok untuk tipe orang tertentu

Hantu
Ilustrasi Burung Hantu (Jampok) [satujam.com]

Nenek moyang kita menyebut jampok untuk tipe orang tertentu

ADA satu jenis binatang malam yang banyak mendapat perhatian. Namanya burung hantu. Jampok. Memperhatikan film binatang –bukan kebinatangan—saya bisa lebih sedikit mengerti keadaan binatang yang agak pemalu ini. Penampakkannya terbatas. Tidak semua tempat ada. Malah bagi kami, sewaktu kecil, ia tampak menakutkan. Jarang sekali terlihat, kecuali suara khas yang sesekali muncul di pinggir kampung.

Sejumlah tempat sudah menjadikan binatang ini untuk memberangus binatang lainnya. Penggunaan binatang ini efektif dalam memberantas tikus. Ia diperihara sedemikian rupa, karena bergerak waktu malam. Sedangkan tikus sebagai hama, sangat agresif ketika malam tiba. Bergerak malam dengan agresif malam, kemudian dibenturkan oleh sejumlah orang yang meneliti karakter dua binatang tersebut.

Ada yang menarik, ketika nenek moyang kita menyebut jampok untuk tipe orang tertentu. Ternyata jenis ini suka berhias, walau ia pemalu. Gabungan inilah yang ditabal untuk mereka yang suka membusungkan dada. Mereka yang berperilaku demikian, bisa berprofesi apa saja. Tidak selalu penulis. Hanya saja, untuk penulis lebih mudah mencontohkan karena saya bagian dari pelakon dunia ini.

Saya pribadi merasa betapa sering tidak adil, ketika memiliki karya sedikit, lalu menyebut nama besar-besar. Tidak sebanding dengan karya yang dihasilkan. Tetapi apa boleh buat. Selama ini saya menemukan sejumlah karya orang terdahulu, yang nama pengarangnya tidak dicantumkan secara jelas dan tegas di sampulnya. Banyak penelitian yang dilakukan hanya untuk menegaskan siapa pemilik suatu karangan. Bahkan untuk sumber bahan penting, sebuah karya akan diteliti dan didalami oleh banyak orang, untuk menegaskan siapa pemilik yang sesungguhnya. Apalagi karya itu turut menentukan catatan sejarah tertentu. Untuk menggambarkan keadaan masa lalu yang masih kabur, lalu dengan catatan tertentu, akan menguak sedikit potret masa lalu itu, maka karangan demikian menjadi sangat penting.

Selebihnya, banyak pengarang hanya mencantumkan nama tempatnya saja sebagai nama pengarang. Seseorang yang berasal dari Beurandeh, hanya akan menulis Teungku di Beurandeh. Atau ada nama penulis yang menyingkat sedemikian rupa. Ada juga yang memakai nama samaran.

Atas berbagai wujud itu, bagi generasi kemudian, tanggapannya bisa aneka ragam. Bisa jadi ada yang berpikir, penulis tidak mau bertanggung jawab atas apa yang ditulis. Selain itu karena penulis tidak ingin diketahui sosoknya. Walau karya sudah dibaca banyak orang, kadangkala penulisnya tidak ingin diketahui. Satu hal yang saya temukan sangat luar biasa. dalam pengantar penulis, sering saya baca adanya pengakuan penulis sebagai hamba yang fakir. Dari segi ilmu, mereka selalu bermula dengan permohonan maaf atas belum sampainya ilmu mereka atas apa yang akan mereka tulis.

Potret terakhir, sepertinya terkait dengan ketidakinginan adanya kesombongan dalam diri mereka. Penulis berusaha keras bahwa sebuah karya itu tidak menjebak mereka dalam ruang riya –sesuatu yang semakin tidak bisa dibedakan pada era sekarang. Jadi mengikuti apa yang ditulis, sepertinya bukan karena takut, melainkan karena mereka merasa belum pantas untuk menjadi seorang yang akan memberi ilmunya kepada orang lain.

Tentu potret masa lalu hanya menjadi cermin, tidak bisa kita bandingkan dengan zaman sekarang. Pencurian ide masa lalu tidak dilakukan seenaknya. Masing-masing berpikir. Bahkan ketika sebuah karya sudah ditulis, ada penulis yang menguji terlebih dahulu mentalitas dan perihal mengapa mereka menulis. Jangan-jangan dengan karya, akan membuat mereka semakin lupa diri atas ilmu mereka yang secuil. Pun era sekarang disibukkan dengan berbagai macam pendaftaran hak intelektual, yang berbeda dari masa lalu. Orang dulu percaya hasil cipta terkait dengan Pencipta. Ia bisa jadi semakin dekat atau menjauh dengan harta kekayaan materi.

Barangkali sejumlah hal itulah yang membuat berbeda. Di samping satu hal lagi yang sangat massif, adalah memperkenalkan diri kita sebagai penulis dalam berbagai ruang. Menulis sedikit, lalu memperkenalkan diri melebihi dari karya yang sedikit itu. Padahal mungkin mereka yang sudah bermandi karya, tidak memperkenalkan diri seperti kita ini. Itulah yang saya rasakan, ketika dalam benak selalu ada perasaan, sudah pantaskah kita beri ilmu untuk orang lain. Atau barangkali, dengan berbagi saja apa yang kita punya, bukanlah suatu masalah.

Orang tua kita dulu, tentu memiliki makna semacam ini sehingga menyebutnya dengan kata jampok. Saya menemukan versi ini. Mungkin Anda menemukan versi berbeda, silakan dituliskan.[]