Hilang Kontak 28 Tahun di Saudi, Nenek Jumanti Terima Gaji Rp266 juta

Gaji sebesar 76 ribu riyal (sekitar Rp266 juta) diserahkan keponakan majikan Kapten Ibrahim Muhammad

Hilang Kontak 28 Tahun di Saudi, Nenek Jumanti Terima Gaji Rp266 juta
Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel (paling kanan) menyaksikan penyerahan gaji nenek Qibtiyah disaksikan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi (tengah) di KBRI Riyadh, Minggu (29/4). (Dok. KBRI Riyadh)

Hilang Kontak 28 Tahun di Saudi, Nenek Jumanti Terima Gaji Rp266 juta

Gaji sebesar 76 ribu riyal (sekitar Rp266 juta) diserahkan keponakan majikan Kapten Ibrahim Muhammad

Nenek Jumanti alias Qibtiyah, 74 tahun, warga Indonesia yang hilang kontak selama 28 tahun di Arab Saudi menerima gajinya sebelum dipulangkan ke Indonesia. Gaji sebesar 76 ribu riyal (sekitar Rp266 juta) diserahkan keponakan majikan Kapten Ibrahim Muhammad disaksikan Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel dan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi di KBRI Riyadh, Minggu (29/4).

Nenek Jumanti alias Qibtiyah bisa ditemukan oleh Tim Perlindungan WNI KBRI Riyadh setelah mendapatkan bantuan dari Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud, keponakan Raja Salman yang juga menjabat Gubernur Riyadh.

"Dalam pertemuan tersebut Kapten Ibrahim mengatakan bahwa Nenek Qibtiyah sudah dia anggap seperti ibunya sendiri dan keluarganya akan merasa kehilangan jika Qibtiyah, yang disapa keluarga majikan sebagan Nenek Jumanah, pulang ke Indonesia," kata Dubes Agus Maftuh sebagaimana diriis CNNIndonesia.com, Selasa (1/5).

Adapun Dubes Osama, sempat bertanya dalam bahasa Arab kepada Qibtiyah. "Apakah ingin tinggal terus di Saudi atau pulang ke Indonesia?"

Dengan malu-malu Qibtiyah menjawab, "Tiggal di Saudi juga bagus, pulang ke Indonesia juga bagus."

Jawaban sang Nenek yang sudah mulai pelupa tersebut ini mengundang tawa semua yang hadir di ruangan kerja Dubes RI untuk Arab Saudi di Riyadh.

Dubes Al Shuaibi menyatakan dirinya akan melakukan penjemputan khusus di Bandar Soetta di Jakarta dan mengingatkan Agus Maftuh untuk memberitahu jadwal kepulangan Qibtiyah kepadanya. 

Dubes Agus Maftuh bersama jajaran KBRI Riyadh sedang mengupayakan izin keluar (exit permit) untuk pemulangan Qibtiyah dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri dan pihak imigrasi Arab Saudi karena sudah hampir 30 tahun, dia tidak memiliki izin tinggal.

Selain memberikan hak-hak Qibtiyah, kedua dubes juga membahas tentang program kemudahan bagi jemaah haji Indonesia. Terutama terkait data base integrasi biometrik yang akan diberlakukan pada musim haji tahun ini, guna mempercepat proses imigrasi.

"Jika program ini berhasil maka proses antrean di Bandara Jeddah dan Madinah akan lancar tanpa antrean panjang," kata Dubes Agus Maftuh.

Kedua dubes juga berjanji untuk menguatkan poros bilateral Saunesia (Saudi-Indonesia) dengan saling berkunjung saat berada di Jakarta atau Riyadh. "Silaturahim diplomatik ini sangat penting untuk mencari solusi permasalahan kemitraan strategis di antara kedua negara besar ini," kata Agus Maftuh.

"Kami berdua sering mendeklarasikan dengan jargon 'Nahnu Sufara'u Saunesia', kami adalah para dubes Saunesia."

"Meski dengan latar belakang berbeda, beliau berlatar belakang militer dan intelijen dan saya dari kampus yang sering meneliti kawasan Timur Tengah, saya dan Dubes Osama merajut perbedaan tersebut dengan rajutan diplomatik."

"Ada satu irisan takdir aneh yang membuat kami bersaudara yaitu kami memiliki istri dan mertua dengan nama yang sama," kata Dubes Agus Maftuh.

Sepanjang 2016, KBRI Riyadh berhasil menyelamatkan gaji ekspatriat Indonesia di Arab Saudi sebesar Rp30 miliar. Pada 2017, jumlah gaji WNI yang berhasil ditagih ke majikan mencapai angka Rp40 miliar. 

Sumber: CNNIndonesia