Sebagai manusia, kita pongah dan lemah. Namun pada titik tertentu, dengan kelemahan, kita tidak akan membiarkan apapun yang merusak peradaban di sekitar kita.

Hom
ilustrasi

Sebagai manusia, kita pongah dan lemah. Namun pada titik tertentu, dengan kelemahan, kita tidak akan membiarkan apapun yang merusak peradaban di sekitar kita.

DUA posisi manusia, yang satu bertapa membersihkan diri, menyendiri, di tempat sepi yang jauh dari hiruk-pikuk. Satu lagi bersama orang banyak, dengan ikut serta meluruskan jalannya kehidupan menurut kemampuannya.

Pilihan yang kedua ini lebih bernilai. Bahkan untuk meluruskan kehidupan, andai pun berhadapan dengan penguasa zalim, hal-hal yang lurus tetap harus diluruskan. Orang yang memiliki kekuasaan, harus hidup dengan garis lurus, bukan dengan garis bengkok. Mereka yang di luar garis, harus diingatkan –walau sekali lagi—banyak yang harus dipertaruhkan.

Itulah esensi dari kehidupan yang ideal. Tidak nafsi-nafsi. Termasuk ketika berhadapan dengan berbagai kejahatan dan perilaku buruk, orang-orang di sekitar tempat kejahatan dan perilaku buruk itu, harus berusaha memperbaiki dan meluruskan.

Secara sosial, kewajiban ini tidak bisa dibatasi. Tetapi dalam pelaksanaan, kesiapan orang untuk melakukannya bisa berbeda-beda. Dengan tiga tingkat keberdayaan iman yang disebut dalam salah satu Sabda Rasul, mencegah dengan kuasa, mencegah dengan tenaga, dan membenci dengan hati menjadi pilihan yang selemah-lemahnya manusia.

Itulah kehidupan gampong. Seharusnya dilingkari oleh nilai-nilai sosial yang kuat. Berbagai persoalan diselesaikan dengan kontribusi banyak orang. Seorang warga yang menghadapi satu masalah, selama memungkinkan, sebisa mungkin ada keterlibatan orang lain untuk menyelesaikan. Masalah yang sangat pribadi pun, tetap memiliki mekanisme untuk melibatkan pihak yang di luar kita dalam menyelesaikannya.

Istilah kembali ke gampong, pada dasarnya tidak berarti kembali ke masa lalu, melainkan pada revitalisasi nilainya yang baik bagi kehidupan manusia. Soal waktu, tentu tidak bisa mundur ke belakang. Seperti sebuah spion, apa yang terjadi di belakang dan pada masa lalu, seyogianya memang sebagai catatan dalam menatap masa depan yang lebih baik. Kembali kepada nilai-nilai kebersamaan di gampong, merupakan esensi dari istilah kembali ke gampong.

Ada hal lain yang mendera, kampung kita pernah mengalami kondisi buruk dalam waktu yang lama. Apa yang disebut dengan tanggung jawab sosial, dalam waktu yang lama tidak bisa berjalan normal. Apalagi ketika masa kelam, orang-orang hanya berdiam di dalam rumah, tidak berani keluar.

Pada posisi tertentu, orang-orang yang berdiam di dalam rumah, akan pasrah terhadap apapun yang terjadi. Bahkan bisa jadi orang yang di samping rumah mendapat masalah besar, tidak bisa dilakukan apa-apa karena pada waktu itu, kondisi yang mencekam tidak memungkinkan orang membantu.

Seharusnya sesudah semua masalah selesai, kebersamaan itu kembali dirakit. Tidak boleh membiarkan orang menderita, apalagi itu tetangga kita sendiri. Masalah besar yang dihadapi oleh orang lain, tidak boleh diabaikan saja. Seharusnya, kata-kata biar saja, bukan urusan saya, dan semacamnya, harus mulai ditata.

Kehidupan kita dikelilingi oleh kearifan nilai-nilai yang bersumber dari agama. Orang-orang yang hidup dengan nilai itu, menjadikannya sebagai bagian penting dalam kehidupan, berkemungkinan mencapai kondisi yang bahagia. Sebaliknya jika hanya dijadikan sebagai simbol, atau tampilan semata, akan membuat kehidupannya semakin galau dan gelisah.

Sebagai manusia, kita pongah dan lemah. Namun pada titik tertentu, dengan kelemahan, kita tidak akan membiarkan apapun yang merusak peradaban di sekitar kita. Seharusnya tidak ada istilah hom dalam kamus kehidupan sosial kita.[]