Ingin Tinggal di Luar Angkasa? Nih Persiapan yang Harus Anda Lakukan

Ingin Tinggal di Luar Angkasa? Nih Persiapan yang Harus Anda Lakukan
Ilustrasi Foto: Shutterstock

Ingin Tinggal di Luar Angkasa? Nih Persiapan yang Harus Anda Lakukan

Jakarta – Film fiksi sering kali membuat kita melihat sesuatu yang tak mungkin menjadi kenyataan, misalnya seperti manusia menetap di Mars atau bekelana ke tempat yang jauh.

Meski sebenarnya teknologi telah membawa fiksi lebih dekat untuk menjadi kenyataan, satu tantangan yang terus berlanjut menghalangi jalan untuk menaklukan ruang angkasa adalah tubuh manusia.

Tubuh manusia dibangun untuk kehidupan di Bumi. Saat mereka melayang ke luar angkasa, banyak astronot yang mengalami mual bahkan muntah. Tentu saja hal ini bukan awal yang benar.

Ketika mereka kembali, para astronot mengalami kecelakaan kecil pada penglihatan, sakit kepala, atrofi otot, tulang lemah bahkan kanker paru-paru yang berasal dari radiasi kosmik galaksi.

Sebagaimana diketahui, astronot sudah menghadapi risiko kanker paru-paru akibat paparan radiasi. Sebuah studi belum lama memprediksi bahwa risiko kanker bagi astronot yang berlayar ke Mars akan belipat ganda.

"Perubahan terbesar (saat tinggal di stasiun luar angkasa) terpapar radiasi sehingga meningkat 100 kali lipat dibandingkan dengan yang kita hadapi di Bumi," kata Raffi Kuyumjian, ahli bedah penerbangan untuk Badan Antariksa Kanada.

Dia bekerja dengan Chris Hadfield, sebelum, selama dan setelah lima bulan bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional mulai Desember 2012 sampai Mei 2013.

"Paparan radiasi di luar orbit rendah Bumi bahkan lebih tinggi. Itu akan berada di urutan 1.000 kali lebih tinggi," lanjutnya.

Sedangkan, tak ada astronot yang tinggal di luar stasiun antariksa telah melaporkan dirinya memiliki kanker, mungkin masih terlalu dini untuk diceritakan.

"Ini mungkin sesuatu yang muncul 10 sampai 15 tahun pada waktunya, begitu kita memiliki sedikit waktu di belakang misi dan astronot telah tumbuh sedikit lebih tua," ujar Kuyumjian.

Kini, NASA sedang mencari cara untuk menciptakan perisai yang lebih baik untuk menghalangi radiasi ke tubuh para astronot, namun sejauh ini belum ada perkembangan yang signifikan.

Sementara, ahli bedah ruang angkasa dan badan antariksa sangat sadar akan tantangan psikologis yang dihadapi di sana, itu hanya dengan rata-rata masa enam bulan di stasiun ruang angkasa. Jika manusia pergi ke Mars, kemungkinan besar mereka akan jauh dari orang yang dicintai hampir dua tahun.

“Kami mencoba untuk melihat bagaimana hal ini akan mempengaruhi aspek isolasi,” terang Kuyumjian.

Diketahui juga, kekurangan sinar matahari alami juga bisa mempengaruhi suasana hati. Astronot diharuskan mengkonsumsi suplemen vitamin D.

Lain hal, perubahan yang telah dicatat sejak 2011 adalah perubahan penglihatan astronot. Beberapa dari mereka harus mengenakan kacamata setelah kembali ke Bumi. Dokter melihat bahwa bagian belakang mata diratakan, seolah ada tekanan ekstra di otak yang mengubah geometri mata dan titik.

Tak hanya itu, astronot juga kehilangan kepadatan tulang dan struktur tulang mereka berubah di bawah gayaberat mikro. Tulang manusia telah berevolusi untuk melawan gravitasi. Oleh karena itu, astronot diwajibkan untuk memiliki waktu berolahraga dalam sehari.

Dalam misi Mars atau tinggal di luar angkasa nantinya, ilmuwan dan dokter sedang bekerja sama mengembangkan cara baru untuk melindungi atau memperbaiki tubuh rapuh manusia. Bagaimana pun caranya. Demikian dinukil dari CBC, Minggu (12/11/2017).[] okezone