Ini Minah, Budi Kemana?

Beberapa hari kemudian, perempuan tua ditemukan telah mati. gubuknya sepi dan daun berguguran tak disapu.

Ini Minah, Budi Kemana?
ilustrasi I ang-zen.com

Ini Minah, Budi Kemana?

Beberapa hari kemudian, perempuan tua ditemukan telah mati. gubuknya sepi dan daun berguguran tak disapu.

SEORANG perempuan tua mati di atas ranjang rumahnya. Banyak pandangan dan berbagai perdebatan akan kematian  perempuan tua itu. Siapa sangka, perempuan  tua yang pendiam mati dengan cara-cara dan berbagai ‘kode-kode’ aneh yang mungkin detektif sekaliber Hercule Poirot atau Sherlock Holmes pun angkat tangan.

Mayat perempuan itu tegar, walau sudah setengah membusuk. Mulut perempuan tua itu tersenyum, matanya cerah memandang ke langit-langit kamar. Di sekeliling tembok rumahnya, penuh tulisan. Tulisan itu tersusun dari empat huruf membentuk satu nama : B-U-D-I.

Perempuan tua itu telah puluhan tahun ditinggal suaminya Tono. Perempuan tua yang malang itu dituduh mandul dan ditinggalkan. Satu-satunya yang tersisa menghibur perempuan tua itu adalah kumpulan kucing yang menghiasi sudut dan kolong gubug kecilnya, kucing-kucing itu juga menjadi penuntun jalan baginya. Bukan hanya sekali-duakali perempuan itu terlihat menggendong kucingnya dengan kain panjang, persis menggendong bayi. Sering ia kedapatan menyanyikan lagu dan menggendong kucingnya dengan cara yang berlebihan. Awalnya penduduk di sekitar gubugnya kasihan, tapi lama kelamaan orang-orang sudah terbiasa dengannya menganggap itu hanyalah kebiasaan, tak ubahnya seperti mengupil.

Perempuan tua itu biasa mendapatkan makanan dari berbagai sumbangan orang-orang untuknya. Suaminya tak pernah memberinya nafkah, mungkin perempuan tua itu juga lupa rupa suaminya seperti apa. Rupa lelaki memang selalu berubah-ubah.

Sesekali perempuan itu mendapat pekerjaan menyapu rumah tetangga yang terlalu sibuk dengan kerja di luar kota. Perempuan itu bertugas hanya menyapu halaman rumah yang selalu berantakan oleh daun gugur dari pohon mangga dan pohon jambu yang tak pernah dipanen oleh pemiliknya. Sebuah pohon yang terabaikan, sama seperti dirinya.

Bisakah hari dilewati dengan cepat? Mungkin bisa, dan akan terasa sangat cepat ketika perempuan tua itu menggigau di kursi halaman rumahnya berfikir tentang lelaki yang telah membuat setengah dari jiwa-jiwanya membangkang dan menyeru untuk mengutuk sejarah yang kejam bak tatapan ibu tiri. Namun, kemudian lagi-lagi menyuruhnya untuk menyerah dan pasrah.

Aku sudah tua, ya benar tua.
sebentar lagi adzan maghrib dan aku siap
siap menyusupi tempatku, lahanku. Diam-diam
aku hampiri dan seperti biasa kau kan ada disana.

Perempuan tua itu terbangun, sebab kucing di pangkuannya tiba-tiba melompat. Kaget. Kantuknya jadi bubar. Ia pergi ke dapur menyiapkan makanan kucingnya.

Sudah kau susupi senja?
atau kau sedang bermain dengan kucing-kucingku
aku benci gerimis saat senja
bagiku itu kesia-siaan, meskipun indah. Sama seperti aku mengenalmu
kau adalah kesia-sia-an.
kesia-sia-an ku yang paling indah
BUDI-ku.

Kucing-kucing itu makan dengan lahap, sisa-sisa nasi dan beberapa potongan tulang ikan yang ia dapatkan dari sisa nasi tetangga untuk dimakan kucing-kucingnya.

Sambil menatap kucing-kucingnya yang makan lahap, pintu kamar berdenyit membuka pelan. Pelan sekali. Perempuan tua itu tersenyum, ‘itu pasti dia’ pikirnya.

“Aku datang untukmu” Bisik seorang lelaki dari balik pintu kamar yang terbuka. “Apa kau berfikir aku akan membiarkanmu sendiri?”

“Tentu saja kau akan datang. Kau tidak akan meninggalkan aku, bukan? Itu janjimu”  Perempuan tua itu berbisik malu-malu.

Tidak ada jawaban dari lelaki yang ada dibalik pintu kamar yang gelap. Perempuan tua itu mendekat menuju kamar tidurnya, ‘lahannya’, dan berbaring di peraduannya. Lelakinya telah hilang lenyap, mengabur bersama debu-debu. Lengket dijendela kamar meninggalkan perempuan itu di atas ranjang seorang diri.

***

Beberapa hari kemudian, perempuan tua ditemukan telah mati. gubuknya sepi dan daun berguguran tak disapu. Awalnya tidak siapapun yang tau perempuan tua itu mati. Sampai empat hari kemudian kucing-kucing terlihat pergi dari rumahnya dan membuat raungan-raungan yang menyedihkan, orang-orang pada curiga. Kemudian sampai disitulah orang-orang tahu bahwa perempuan tua itu telah setengah membusuk.

Setelah semua orang bertanya-tanya keluarga perempuan tua itu, tak seorang pun memiliki data yang pasti tentang keluarganya. Tidak ada petunjuk sama sekali. Kecuali sebuah coretan-coretan di kamar perempuan itu. Sebuah nama, tentu saja bukan nama suaminya.  Nama  itu adalah nama yang asing di tempat itu namun akrab ditelinga, nama itu adalah, ya kita tahu itu : B-U-D-I.

“Demi Tuhan! Tidak adakah diantara kalian ada yang bisa menelpon suaminya atau keluarga dekatnya?” pekik Pak Kepala Desa ditengah-tengah orang-orang yang berkerumun melihat mayat perempuan tua itu.

Tidak ada jawaban.

***

Perempuan tua itu punya nama, namanya Minah. Lahir ditempat yang tidak diketahui, sama seperti asal-usul dan keluarganya yang tidak diketahui. Sejak kecil Minah hidup sebagai anak perempuan sewaan para pengemis. Pengemis-pengemis akan menyewa Minah untuk ‘peng-iba’ orang-orang. Minah hanya manut-manut dan kadang dipaksa menangis dan diberi obat untuk tidur dan merintih untuk membuat iba orang-orang. Sejak saat itu, Minah menjadi anak pendiam, hanya berbicara ketika dipaksa bicara. Sebab, seorang pengemis tidak boleh terlalu banyak bicara.

Minah kecil tak pernah sekolah. Minah heran, kenapa ia tak pakai seragam. Dan baginya lucu sekali membayangkan dirinya memakai seragam dan baju putih seperti anak-anak diusianya. Pernah Minah berkeinginan mengemis dengan memakai seragam untuk merasakan sensasinya memakai seragam. Tapi, niat tersebut diurungkannya, dengan alasan. Kalau ia memakai seragam putih, tentu sangat disayangkan kain sebagus itu mesti kotor dan lecek jika ia pakai untuk mengemis.

Menginjak usia tiga belas tahun, Minah tak lagi mengemis (karena usianya tak ‘menjual’ lagi untuk itu), Minah jadi pegumpul bekas botol mineral dan barang bekas lainnya.  Minah hanya mengutip barang bekas dan memasukkannya kedalam kantung beras, sama sekali tidak memberatkan.

Bagai keajaiban, Minah sudah mulai paham membaca. Sedikit-banyak Minah menghafal alphabet dan menyusunnya dengan teliti walaupun terkadang tertukar urutan hurufnya, tapi itu tentu saja bukan masalah. Keinginan Minah membaca lalu tertolong karena Minah menemukan buku kecil dan bergambar anak-anak berseragam.

Buku itu bagus, walaupun lecek sana-sini tapi masih bisa dilihat gambar-gambar dan tulisannya yang tebal-tebal. Di halaman awal buku itu tertulis abjad-abjad dengan penjelasan lafalnya seperti A untuk Ayam (dengan gambar Ayam) hingga Z untuk Zebra. Selama membaca dan memahami gambar dan tulisan, Minah melatih diri membaca kalimat panjang di halaman tengah buku itu. tertulis “INI BUDI, INI IBU BUDI, INI AYAH BUDI, INI RUMAH BUDI”. Minah melafalkannya dengan keras-keras. Lalu Minah berfikir tentang Budi. Budi yang memiliki Ibu, Budi yang memiliki Ayah, Budi yang memiliki Rumah. Budi yang begini dan Budi yang begitu. Minah ingin seperti Budi, Minah merindukan kesempuraan dan kebahagiaan Budi, Minah dan Budi, Budi dan Minah.

Tampaknya Budi adalah seseorang yang ia sukai, dan lama-lama ia cintai dengan segala yang ada pada Budi. Keluarga, Rumah dan Kesenangan yang lainnya karena gambar Budi di buku itu selalu tersenyum. Tersenyum untuk tak berfikir besok mesti makan apa. Kesempurnaan hidup Budi adalah penghibur buat Minah. Minah belajar mencintai seorang hantu khayalannya sendiri.

Semakin dewasa, Minah semakin jatuh cinta pada sosok ideal seperti Budi. Sosok yang baik dan hidup bahagia seperti dongeng, dan Budi yang menurutnya tak kasar seperti lelaki di sekelilingnya yang selalu menyiksa dan melecehkannya. Namun sayang, bukan Budi yang menikahinya. Minah kemudian terjebak dan setelah melewati hidup yang sulit, Minah dinikahi secara terpaksa oleh seorang Tono lelaki amoral dan bekerja sebagai sopir truk antar provinsi, yang pasti tak se-ideal Budi. Minah dinikahi lelaki yang suka memukulnya, lelaki yang tak pernah senyum seperti Budi, lelaki yang berbicara kasar. Sampai akhirnya suami Minah meninggalkannya karena  alasan yang tak pernah jelas. Minah lalu dituduh mandul, meskipun belum tentu benar.

***

Sampai mayat Minah si perempuan tua dikuburkan, orang-orang masih bertanya siapakah Budi. Minah dan Budi, Budi dan Minah. Orang-orang jadi bingung. Banyak yang menjadi detektif dadakan karena kematian Minah si perempuan tua. Nama ‘Budi’ jadi bahan perdebatan dan menjadi omongan analisis warung kopi buat para lelaki dalam beberapa minggu kedepan. Budi? Adalah misteri.

Sedangkan sekolah yang berjarak kira-kira seratus meter dari warung kopi tempat orang berdebat analisis itu, Budi tetap tersenyum di dalam buku Sekolah Dasar. “Ini Budi, Ini Ibu Budi, Ini Ayah Budi, Ini Kekasih Budi” pekik anak-anak sekolah secara bersamaan.[]