Ironis, Dari 5 Galian C di Aceh Tengah, Hanya Satu yang Kantongi Izin

Ironis, Dari 5 Galian C di Aceh Tengah, Hanya Satu yang Kantongi Izin
Salah satu Galian C yang beroperasi di Blang Kekumur Kecamatan Celala Kabupaten Aceh Tengah. (Foto: Putra Gayo)

Ironis, Dari 5 Galian C di Aceh Tengah, Hanya Satu yang Kantongi Izin

Takengon - Dari lima Galian C yang beroperasi di Blang Kekumur Kecamatan Celala Kabupaten Aceh Tengah, hingga kini hanya satu yang mengantongi izin melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).

Galian C yang telah memiliki izin tersebut merupakan milik Estik Kusbandiah dan telah melakukan pengurusan Amdal, UKL, dan UPL di Kota Banda Aceh.

“Allhamdulillah baru-baru ini saya telah selesai dalam pengurusan Amdal dan UKL UPL di Banda Aceh. Meskipun sebelumnya saya mau menyerah untuk mengurus itu, karena sangat sulit untuk mendapatkanya dan butuh kesabaran,” cetus Estik saat ditemui acehnews.co di Galian C Blang Kekumur miliknya, Rabu, 25 Oktober 2017.

Ia mengaku telah menghabiskan hingga Rp.200 Juta untuk pengurusan dokumen perizinan resmi dari Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

“Sebelumnya saya berencana untuk menunda pengurusan, akan tetapi saya pikir-pikir tidak baik rasanya ketika telah beroperasi belum mengantongi izin, seperti dikejar-kejar kesalahan,” kata Estik

Legalitas Galian C milik Estik berdasarkan Sertifikat Hasil Uji Nomor.02/UPTD/ 2017 dan telah melengkapi Ijin Gangguan (HO), Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi Mineral Batuan dengan Nomor.545/BP2T/2211/IUP-EKS/2016, dan telah mengantongi Izin dari Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Provinsi Aceh yang ditandatangani oleh Gubernur Aceh

Sementara itu, pemilik Galian C lainnya, Ulis pemilik Galian C saat ditemui sedang mengurus dokumen perizinan ke Dinas Penanaman Modal Perijinan Satu Pintu Kabupaten Aceh Tengah, namun izin yang sedang diproses tersebut hanya Izin Gangguan (HO) bukan Amdal dan UKL-UPL

Lain lagi halnya dengan Zainal, pengelola Galian C milik F2 Group atas nama Sarwani,  ia mengaku belum melakukan pengurusan Amdal dikarenakan tidak sesuai dengan masukan yang terima dari Galian C itu.

“Selain dari Amdal kami punya ijinya, Amdal siap kami urus apabila ada yang menampung material Galian C ini, ungkapnya.

Galian C selanjutnya milik Supardi, ia mengaku telah menerima izin dari Dinas Penanaman Modal Perizinan Satu Pintu Kabupaten Aceh Tengah dengan nomor: 530/01KPPTSP/2016 dan diperkirakan baru beroperasi selama beberapa hari.

“Kalau Amdal kami tidak punya karena bukan di Daerah Aliran Sungai (DAS),” terangnya.

Sementara Abadi (Win Item) pemilik Galian C di darat lepas mengaku saat ini sedang mengurus perizinan dari Dinas Penanaman Modal Perijinan Satu Pintu Kabupaten Aceh Tengah, sedangkan galian C miliknya sudah beroperasi selama satu tahun lebih.

“Ini perpindahan tangan, kami baru beroperasi selama 4 bulan, Izin lagi diurus. Sebelumnya kami diberi arahan bisa beroperasi sebelum izinya dikeluarkan” jelasnya.

Untuk diketahui, dari ke lima Galian C tersebut, 3 di antaranya beroperasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu milik Sarwani, Estik Kusbandiah dan Ulis,  sementara 2 lainnya berada di Darat lepas, yaitu milik Abadi (Win Item) dan Supri.

Merujuk kepada peraturan Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2011 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup, dalam BAB XI Pasal 23,24,25,26,27,28 tentang Dokumen Kelayakan dan Perizinan berbunyi, setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang berdampak terhadap lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan Dokumen Kelayakan Lingkungan, Dokumen Kelayakan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal), Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) dan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dokumen Kelayakan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses perizinan. []