Jalan Lurus, Menuju Aceh Selatan Hebat

Penulis: Syafruddin (Wakil Sekretaris Jendral Partai Naggroe Aceh Dapil IX)

Jalan Lurus, Menuju Aceh Selatan Hebat
Photo: Ilustrasi

Jalan Lurus, Menuju Aceh Selatan Hebat

Penulis: Syafruddin (Wakil Sekretaris Jendral Partai Naggroe Aceh Dapil IX)

Perhelatan pilkada serentak tahap II tahun 2018, untuk tiga Kabupaten/Kota di Aceh yaitu Kabupaten Aceh Selatan, Kota Subulussalam dan Kabupaten Pidie Jaya mulai menghangat. Para calon kandidat terus melakukan konsolidasi dan manuver politik. Lobi-lobi terhadap partai politik, tokoh-tokoh kunci ditingkat daerah sampai tingkat nasional terus digalang. Dari tiga Kabupaten/Kota tersebut, Pilkada di Kabupaten Aceh Selatan tahun depan memiliki keunikan tersendiri.

Menariknya, tidak hanya gerakan dan strategi calon kandidat yang terlihat mendominasi, partai politik nasional dan lokal sepertinya tidak mau tertingal dengan manuver-manuver para calon. Partai-partai tersebut mengatur dan menjalankan strateginya sendiri agar tidak rugi. Penjaringan para calon dengan membuka  pendaftaran, memaparkan hasil survey dan meminta kandidat menyampaikan visi-misi dijadikan sebagai filter yang efektif untuk ‘menghalau’ kandidat yang terindikasi lemah tingkat elektabilitasnya.

Perebutan kekuasaan yang penuh intrik dan permainan adu strategi politik itu tentu saja harus tetap memenuhi nilai-nilai demokratis dan etis.

Warisan politik Aceh Selatan pada masa sebelumnya, telah meningalkan garis yang membentuk kotak-kotak dalam masyarakat. Dihembuskanya issue Kluet Raya Bersatu, Labuhan Haji Raya Bersatu selalu menjadi senjata elit politik yang menyudutkan masyarakat dalam politik perkauman, yang justru telah menghambat Aceh Selatan menjadi hebat.

Untuk menuju Aceh Selatan yangg hebat, tentu saja harus ditempuh dengan semangat, komitmen dan program-program ekonomi yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat Aceh Selatan itu sendiri. Program jaminan kesehatan, pendidikan berkualitas, menciptakan lapangan kerja, pembangunan infrastruktur dan industrilisasi sektor pertanian merupakan program rasional yang dapat mengarahkan Aceh Selatan menjadi hebat.

Politik Uang Sebagai Penghancur Substansi Demokrasi

Belum hilang dari ingatan kita, pilkada serentak tahap I 2016 lalu, praktek politik uang dibeberapa Kabupaten/Kota masih mendominasi menjadi isu yang berkembang dalam masyarakat, meski tidak ada praktek politik uang yang mampu dibuktikan secara hukum. Kita tak perlu berdebat secara akademik, nyatanya praktek politik uang telah meniadakan kualitas demokrasi dalam masyarakat. Dimata masyarakat, elit politik hanyalah ‘pecandu’ kekuasaan.

Proses demokrasi tentu butuh biaya, namun membayar partai politik untuk mendapat dukungan, membeli suara masyarakat dan menyogok penyelenggara, merupakan praktek kotor politik uang yang melangar UU pilkada.

Dalam proses pilkada di Aceh Selatan yang sedang berjalan, beberapa calon yang sudah muncul justru bukan kader partai tertentu. Dalam logika politik yang sederhana, bakal calon non partai terpaksa melobi partai-partai politik yang memiliki kursi di parlemen. Untuk mendapatkan dukungan partai politik bukanlah perkara yg mudah, butuh keahlian, pengaruh dan strategi jitu untuk memperoleh dukungan. Disinilah peran politik uang harus dihindari. Bukan rahasia pula, manuver partai politik disisi yang lain, seolah memaksa bakal calon dengan segala keterbatasanya memilih jalan pintas. Membayar kursi partai politik di parlemen. Yang terjadi selanjutnya, muncul sikap "pantang kalah" yang ujung-ujungnya abai terhadap subtansi demokrasi.

Kita sebagai masyarakat yang memiliki kesadaran politik, menjaga jalur demokrasi merupakan jalan yang harus kita tempuh untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas, dengan berkata tidak pada praktek politik uang demi Aceh Selatan yang hebat.

Belajar dari Pilkada Aceh

Belajarlah dari pertarungan dua ide besar yang ditawarkan kepada masyarakat dalam pilkada Aceh yang lalu, dimana politik identitas keacehan dan program kesejahteraan yang ditawarkan dua kubu besar yang bertarung dalam strategi politik telah memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa politik identitas bukanlah pilihan tepat untuk rakyat, justru program kesejahteraan yang rasional menjadi jalan keluar yang dipilih rakyat Aceh untuk menentukan masa depannya.

Pelajaran penting itu, setidaknya dijadikan sebagai pijakan dalam proses pilkada Aceh Selatan bagi para kandidat yang akan maju dalam pilkada Aceh Selatan. Percayalah, mempertahankan budaya politik kaum dan politik uang merupakan jalan sesat menuju Aceh Selatan yang hebat.

Aceh Selatan harus bergerak lebih maju, pilkada sebagai momentum untuk kita berbenah dari semua sisi. Menuju Aceh Selatan yang hebat, harus dengan meninggalkan dua praktek politik busuk masa lalu. Untuk mewujudkan Aceh Selatan yang hebat, kita harus menunjukkan jalan yang lurus kepada rakyat yaitu jalan persatuan, tanpa sekat-sekat identitas Kluet Raya, Bakongan atau Labuhan Haji Raya. Pilihan jalan lurus kita, adalah jalan yang demokratis dan moderen.[]