Jangankan Tanah Masyarakat, Tanah Saya Saja Belum Dibayar

Karena yang kita tau yang menjual tanah di Batee, Kulee dan Laweung itu hanya satu orang yang menjualnya.

Jangankan Tanah Masyarakat, Tanah Saya Saja Belum Dibayar
Bupati Pidie Roni Ahmad

Jangankan Tanah Masyarakat, Tanah Saya Saja Belum Dibayar

Karena yang kita tau yang menjual tanah di Batee, Kulee dan Laweung itu hanya satu orang yang menjualnya.

Wawancara Eklusif Soal Pabrik Semen dengan Bupati Pidie 

PEMBANGUNAN pabrik semen PT Semen Indonesia Aceh di Pidie telah dihentikan, setelah sejumlah persoalan terus saja bermunculan, mulai konflik lahan dengan masyarakat, Amdal (Analisis dampak lingkungan), hingga persoalan keuntungan bagi daerah apabila pabrik mulai berproduksi.

Sejak awal pembangunan, masyarakat di Kecamatan Muara Tiga dan dan Batee yang merupakan lokasi pembangunan pabrik PT Semen Indonesia Aceh telah menolak pembangunan pabrik semen yang merupakan perusahaan patungan PT Semen Indonesia dan PT Samana Citra Agung apabila persoalan lahan belum diselesaikan. Menurut masyarakat di dua kecamatan tersebut bahwa PT Samana Citra Agung telah menyerobot tanah warga tanpa membayar ganti rugi.

Di lain pihak PT Samana Citra Agung juga mengklaim bahwa mereka telah memiliki sertifikat sah sebagai pemilik lahan, sehingga PT Semen Indonesia bersedia bekerjasama mendirikan pabrik semen dengan nama PT Semen Indonesia Aceh dengan saham PT Samana Citra Agung sebesar 12,7 persen sebagai pemilik lahan.

Namun pada kamis 12 Oktober 2017, PT Semen Indonesia Aceh telah menghentikan sementara pembangunan pabrik semen tersebut sampai persoalan pembebasan lahan dapat diselesaikan. Penghentian sementara proyek pembangunan itu dilakukan untuk mengamankan investasi PT Semen Iindonesia yang konon telah mencapai Rp 300 miliar.

Baca juga: Ketika Abusyik Bersihkan Sampah di Selokan Grong Grong

***

Jumat 3 November 2017 sore acehnews.co berkesempatan mewawancarai Bupati Pidie Roni Ahmad di rumah dinasnya.

Roni Ahmad atau akrab disapa Abusyik adalah Bupati Pidie yang berhasil memenangkan pemilihan kepala daerah melalui jalur perseorangan atau independen. Ia bersama wakilnya Fadhlullah TM Daud telah mengalahkan petahana Sarjani Abdullah-M Iriawan SE yang diusung oleh Partai Aceh dan didukung oleh hampir semua partai politik di Pidie.

Abusyik yang juga merupakan salah satu pentolan GAM eks Libya ini dilantik oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pada 17 Juli 2017 lalu.

Soal pembangunan pabrik semen di Pidie, Abusyik bersikap tegas bahwa setiap investasi yang masuk harus mengutamakan kesejahteraan masyarakat bawah, bukan untuk kepentingan kelompok orang saja.

Berikut bincang-bincang wartawan acehnews.co Maarif Syahed dengan Abusyik.

Seperti yang disampaikan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, pembangunan pabrik semen di Laweung itu rumit, apa masalah sebenarnya yang terjadi di sana?

Kalau bagi saya pabrik semen itu tidak jadi masalah. Tidak jadi persoalan dan tidak pernah saya persoalkan. Jadi, pabrik semen Laweung itu belum ready, mereka baru mau investasi, sedang mau mendirikan. Sebelum mendirikan, kan ada aturan-aturan main yang sebenarnya harus mereka patuhi. Ia kan?

Baca juga: Beri Kuliah Umum di Unimal, Abusyik Bahas ‘Pidie Meusigrak’

Apa mereka tidak mematuhi aturan-aturan tersebut?

Jadi hari ini kita jangan bicarakan persoalan pabrik semen yang ada di Laweung dan di Batee itu dululah. Hari ini kita bicara perusahaan dan pabrik yang sudah berdiri di Aceh, bahkan mereka sudah beroperasi lama di daerah kita.

Antara lain, PIM itu pabrik pupuk. Kemudian Arun, itu pabrik gas. Kemudian di Lhoksukon, ada minyak. Kemudian di Aceh Timur, yang di Peureulak Ranto Panjang, itu juga ada minyak. Kemudian di Tamiang itu ada Gas. Kemudian di Lhoknga, itu pabrik semen. Kemudian itu Meulaboh ada emas, Kemudian di Nagan Raya itu ada PLTU. Ada berapa titik itu, lebih kurang delapan titik ya.

Ya, mengapa dengan pabrik-pabrik itu?

Sebagai warga negara kita punya hak, hak kita kan harus dikasih. Perusahaan-perusahaan tersebut memang kasih hak kita orang Aceh, yaitu hak melihat dan hak mendengar saja.

Hak yang pertama, hak melihat pada saat mereka membuat pabrik begitu gembiranya kita, karena kehadiran pabrik-pabrik raksasa itu. Masyarakat gembira dengan akan tertampungnya tenaga kerja dan lain-lain.

Tapi hari ini kita pertanyakan, ada delapan titik perusahaan besar yang sudah beroperasi di Aceh. Perusahaan tersebut selalu memberi iming-iming kita rakyat Aceh, bahwa mereka ingin memakmurkan Aceh. Saya tanya, berapa titik yang rakyatnya sudah makmur akibat berdirinya pabrik-pabrik itu.

Di Lhokseumawe berapa gampong yang sudah sejahtera, di Pereulak Aceh Timur berapa gampong yang masyarakatnya sudah merasakan kemakmuran dan kesejahteraan. Di Tamiang berapa gampong yang sejahtera, begitu juga sampai ke Nagan.

Kenapa Abusyik bicara begitu?

Karna pada awalnya mereka selalu memberi iming-iming bahwa perusahaan tersebut ingin mensejahterakan dan memakmurkan rakyat. Wajar kan kalau hari ini, itu yang kita pertanyakan. Karena mereka semuanya sudah beroperasi, ada berapa desa yang sudah makmur dan berapa desa yang sudah sejahtera. Mengapa saya bicara seperti itu, karena yang saya tau keinginan masyarakat kita hari ini adalah kemakmuran dan kesejahteraan.

Maka masyarakat kita membiarkan hadirnya pabrik segala pabrik ini dan pabrik itu, karena masyarakat kita ingin makmur dan sejahtera. Tapi sekarang saya pertanyakan lagi, berapa desa yang sudah makmur.

Terkait dua hak warga yang harus dipenuhi oleh perusahaan tadi apa maksud Abusyik sebenarnya?

Jadi perusahaan-perusahaan itu punya satu hak, hak mereka adalah hak mengambil sumber daya alam kita, setelah itu mereka lari, sudah habis, mau apa lagi. Oke mereka lari. Sementara masyarakat kita punya dua hak, yang pertama hak mendengar-dengar pada saat mereka masuk, dan hak melihat-lihat saat mereka lari ke luar, ha ha ha ha.

Apakah Abusyik khawatir itu yang akan terjadi di semen Laweung nantinya?

Ya itu. Apakah pabrik yang sekarang mau beroperasi di dua Kecamatan di Kabupaten Pidie itu juga akan memberi hal yang sama kepada masyarakat. Saya juga ingin melihat-lihat-lihat dan mendengar, karena saya sepertinya hanya punya hak melihat dan mendengar. Tapi kalau memang itu yang akan menjadi keputusan pemerintah Aceh. Keputusan pimpinan Aceh hari ini. Katakanlah semuanya kepada rakyat Aceh, agar rakyat Aceh semua mendengar dan melihat. Itu saja.

Masyarakat menolak pembangunan pabrik semen Laweung tersebut karena mereka merasa tanahnya belum dibayar?

Jangankan tanah masyarakat, tanah saya punya sendiri juga belum dibayar. Dan saya pun tidak ingin menjual tanah saya itu, apalagi tanah masyarakat punya.

Pendapat umum mengatakan pabrik semen ini nantinya dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Aceh, bagaimana menurut Abusyik?

Sekarang bukan persoalan peningkatan ekonomi masyarakat, ya. Untuk apa ekonomi meningkat kalau rakyat kita tidak bisa sejahtera dan makmur. Mana bisa dibilang ada peningkatan ekonomi kalau rakyat tidak makmur dan sejahtera. Yang diinginkan masyarakat kita adalah makmur dan sejahtera bukan peningkatan ekonomi. Karna makmur dan sejahtera bagi masyarakat bukan pada titik ekonominya meningkat, itu hanya salah satu pendukung untuk menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

Jadi, solusinya menurut Abusyik apa, karena masyarakat merasa belum dibayar tanahnya, sementara PT Samana mengatakan bahwa sudah membayar?

Oke, kalau mereka sudah membayar, sama siapa mereka bayar, berapa orang, dan siapa-siapa saja. Karena yang kita tau yang menjual tanah di Batee, Kulee dan Laweung itu hanya satu orang yang menjualnya. Tiba-tiba dibawa masyarakat disuruh tandatangan untuk ambil uang. Masyarakat, kalau uang yang dibawa siapa yang tidak mau ambil.

Bahkan Pemerintah Kabupaten Pidie juga tidak memiliki saham di pabrik semen tersebut, sementara PT Samana mereka memiliki 12,7 % saham, bagaimana itu?

Kita tidak usah mengatakan saham, ya. Kita juga tidak mau katakan persen. Tapi bagaimana kewajiban PT Semen Indonesia Aceh dan PT Samana terhadap masyarakat Kabupaten Pidie. Ia kan.

Karena di bawah Pemerintah Pidie hari ini ada 600 ribu jiwa. Sedangkan di bawah PT Samana hari ini ada 1000 jiwa. Tapi PT Samana punya saham di dalam PT Semen Indonesia Aceh sebesar 12,7. Sedangkan masyarakat Pidie yang punya aset sendiri, aset murni, dia yang punya kepemilikan tanahnya sendiri tidak punya apa-apa.

Apakah jika pemerintahan Pidie mendapat saham masalah ini bisa selesai?

Kita jangan bilang itu, jangan ngomong saham dulu ya. Kenapa mereka bisa memberi perhatian kepada PT Samana begitu besar sampai 12,7. Kenapa sama masyarakat Pidie atau pun Pemerintah Pidie hari ini hanya bisa sekedar melihat dan mendengar.

Apakah tanah masyarakat di lokasi tersebut bersertifikat?

PT Samana saja juga tidak ada sertifikat kan, mereka hanya memegang HGU—hak guna usaha—Red. Jadi, tanah masyarakat itu juga kan sebelumnya punya pemerintah. Tanah, air, udara yang ada di sana itu kan milik negara. Jadi tanah itu tempat masyarakat kita bertani, mereka mencari makan di sana.

Mengapa Pemerintahan Pidie tidak menawarkan solusi kepada PT SIA?. Karena mereka sudah mengeluarkan uang yang besar untuk investasi tersebut?

Saya tidak mau komen soal itu. Tapi yang saya mau, mereka akan memberi tawaran solusi apa. Karena tanah itu bukan milik mereka. Tanah itu milik kita masyarakat Pidie, jadi mereka mau nawarin apa, nanti kita jawab, kita bisa terima atau tidak tawaran mereka. Jadi kalau kita yang tawarin solusinya sama mereka seolah-olah tanah itu milik orang itu.

Selama ini apakah masyarakat sudah mengadukan masalah mereka kepada Pemerintahan Pidie?

Sudah bosan masyarakat mengadu.

Tanah Abusyik sendiri berapa luasnya?

Lebih kurang ada 3 hektar.

Yakin Abusyik tidak mau jual tanah itu?

Tidak, saya tidak mau jual.

 Apa harapan Abusyik ke depannya terhadap proses investasi di Aceh. Mengingat investasi di Aceh seperti yang Abusyik sebutkan tadi, tidak memberi dampak signifikan terhadap kesejahteraan untuk masyarakat?

Kita harapkan kepada pemerintah yang ada di Aceh, baik itu gubernur, bupati, dan walikota, bagaimana hari ini pemerintah tidak hanya mementingkan kepentingan-kepentingan pribadi. Tapi bagaimana pemerintah harus memikirkan agar tidak meninggalkan masalah terhadap generasi kita ke depan.

Tapi semua pemerintah daerah kan berharap ada investasi yang masuk ke daerahnya?

Bicara uang siapa yang tidak mau uang. Semua orang mau uang. Tapi jangan sampai tinggalkan masalah terhadap generasi kita. Jangan tinggalkan masalah terhadap anak cucu kita. Mereka juga perlu hidup senang sebagaimana kita hidup senang. Jangan sampai kita hidup senang tapi kita buat mereka susah ke depannya. Ya itu. Itu yang kita harapkan kepada Pemerintah Aceh.

Abusyik terlihat sayang dan sangat mencintai masyarakat Pidie, apa yang membuat sikap Abusyik begitu keras terkait kesejahteraan masyarakat Pidie?

Saya ini dibesarkan oleh masyarakat Pidie. Yang membesarkan saya bukan keluarga saya dan juga bukan sahabat saya. Tapi saya dibesarkan oleh masyarakat Pidie.

Sejak umur saya tujuh bulan ayah saya kembali kepada Ilahi. Maka sejak saat itu, saya dibesarkan oleh warga kampung saya. Pagi ini makan rumah ini. Siang nanti makan di rumah sana. Malam ini makan rumah sana, jadi berputar-putar terus dari gampong ke gampong. Kamu bisa datang nanti ke daerah gampong Abusyik, tanyakan di gampong-gampong di sekitar situ yang dekat dengan gampong Abusyik.

Bagaimana Abusyik akan menyelesaikan masalah kesejahteraan untuk masyrakat Pidie ini?

Selagi saya masih ada umur panjang, sebesar apapun masalahnya, dengan segala daya upaya, secara perlahan-perlahan saya akan selesaikan masalah yang di hadapi oleh masyarakat Pidie.

Terkait pabrik semen Laweung, apabila nanti Pemerintah Aceh mendorong penyelesaiannya dan pabrik semen tersebut harus terus berjalan, tentunya setelah dapat dipastikan masyarakat diberikan haknya, bagaimana sikap Abusyik?

Tidak hanya pemerintah Pidie, kalau memang hak masyarakat saja sudah dipenuhi, saya sudah senang. Karena tujuan pemerintah ingin mensejahterakan rakyat, bukan mensejahterakan pemerintah.

Tujuan pemerintah Pidie hari ini adalah ingin mensejahterakan rakyat Pidie. Kalau kehadiran mereka memang bisa mensejahrakan rakyat Pidie. Ya, otomatis kita tingal duduk-duduk sajalah. Kita juga ikut senang kok. Tidak sibuk-sibuk lagi kita berpikir untuk mensejahterakan rakyat. Sudah ada orang yang mikir. Bahkan kita minta terima kasih. Saya akan bilang, ya terima kasih pak, bapak sudah mensejahterakan rakyat Pidie.[]

Baca juga:
Suara-Suara dari Tanah Kule, Pidie
Mempertaruhkan Kesejahteraan Rakyat di Pabrik Semen