Kakanwil Ajak Masyarakat Menjaga Persaudaraan

"Satu bulan kita dituntut untuk menjaga lisan dan perbuatan, juga tidak menebar kebohongan atau hoax"

Kakanwil Ajak Masyarakat Menjaga Persaudaraan
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. M Daud Pakeh

Kakanwil Ajak Masyarakat Menjaga Persaudaraan

"Satu bulan kita dituntut untuk menjaga lisan dan perbuatan, juga tidak menebar kebohongan atau hoax"

Banda Aceh - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. M Daud Pakeh, mengajak masyarakat Aceh memanfaatkan bulan ramadhan sebagai momen meningkatkan keshalihan, menjadi pribadi lebih taat kepada sang Khaliq maupun kesalehan dalam dimensi sosial. 

"Selain peningkatan kualitas ibadah menuju insan yang bertakwa, mari pada bulan agung ini kita rajut ukhwah dan menjaga persaudaraan, ramadhan adalah  momen yang tepat untuk menebarkan kedamaian dan persatuan," demikian disampaikan Kakanwil dalam ceramah Ramadhan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Selasa (29/5) bertepatan 13 Ramadhan 1439 H

"Saat kita berpuasa, sebenarnya kita juga berlatih untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak dibolehkan oleh agama dan juga sesuatu yang dapat merusak persaudaraan, minimal selama ramadhan, satu bulan kita dituntut untuk menjaga lisan dan perbuatan, juga tidak menebar kebohongan atau hoax," ungkap Kakanwil.

Puasa merupakan suatu arena latihan untuk menjadi muslim sejati. Seperti Rasulullah bersabda,”Seorang muslim adalah orang yang perkataan dan perbuatannya selamat dari menyakiti orang lain.” kutip Kakanwil.

Saat ini ukhwah dan persaudaraan kita kian rapuh, silaturrahmi kian pudar, Hoax, kata-kata kotor, fitnah, saling mengejek dan juga persoalan khilafiah telah mampu meretakkan persaudaraan kita. "Seharusnya momen ramadhan mampu menurunkan tensi kita, karena puasa mendidik kita untuk bersabar. Allah memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa supaya melahirkan pribadi yang muttaqin," urainya.

Jika persaudaraan telah rusak maka persatuan yang menjadi sumber kekuatan akan hilang dan sirna ditelan keangkuhan dan kesombongan yang pada akhirnya hanya akan menyisakan kehancuran dan penyesalan.

"Kalaupun diantara kita ada perbedaan, mari kembali kepada kaidah Nata'awan 'ala ma ittafaqna wa natasamah fima ikhtalafna. Kita saling tolong menolong pada perkara yang kita sepakati, dan saling toleran pada apa yang kita perselisihkan," lanjut Kakanwil.

Pada kesempatan tersebut, Daud Pakeh juga menjelaskan dua jenis hewan yang mejadi pelajaran dalam berpuasa, yaitu puasa ular dan puasa ulat.

"Ular jika ingin panjang umurnya, maka harus ganti kulit dengan cara berpuasa, begitu juga dengan ulat, jika ingin lebih lama umurnya maka ia juga berpuasa, dalam istilah ilmiahnya mengalami metamorfosis," jelas Kakanwil.

Ia menambahkan, Sebelum puasa namanya ular juga ular. Setelah puasa namanya juga ular. Sebelum puasa makanan ular adalah katak. Setelah puasa makanan ular juga katak. Sebelum puasa perilaku ular adalah melata. Setelah puasa ular juga tetap melata. 

"Puasa ular berbeda dengan ulat. Sebelum puasa namanya ulat. Setelah puasa namanya menjadi kupu-kupu. Sebelum puasa makanan ulat adalah daun perusak, setelah puasa, makanan ulat sari putik bunga. Sebelum puasa, cara jalan ulat menggeliat. Setelah puasa ulat dapat terbang," ujar Kakanwil.

Oleh karena itu, puasa seharusnya mampu menghijrahkan diri kita agar semakin Taqwa, sebut Daud Pakeh.[]