Kebaikan Hati Warga Cureh Atasi Masalah Sampah di Bireuen

Mereka yang memohon kepada saya untuk bersedia memberikan solusi sementara karena semua komponen yang ada sudah lempar handuk mengurusi masalah sampah ini

Kebaikan Hati Warga Cureh Atasi Masalah Sampah di Bireuen
Angkutan berat sedang mempersiapkan perbukitan Desa Cureh sebagai tempat pembuangan sampah sementara di Kabupaten Bireuen. (Foto: Safri)

Kebaikan Hati Warga Cureh Atasi Masalah Sampah di Bireuen

Mereka yang memohon kepada saya untuk bersedia memberikan solusi sementara karena semua komponen yang ada sudah lempar handuk mengurusi masalah sampah ini

Bireuen – Persoalan sampah seakan terus menjadi polimik bagi pemerintah Kabupaten Bireun pasca sikap warga Desa Cot Buket Kecamatan Peusangan dan Desa Blang Beururu Kecamatan Peudada  yang  menolak kawasan pemukiman mereka dijadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Puluhan truk sampah pun hanya bisa terparkir di depan Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan hidup (PRKPLH) yang saban harinya terus bertambah dan tidak tahu harus dibawa ke mana.

Berton-ton sampah yang dihasilkan daerah ikut menimbulkan bau menyengat dan menusuk hidung. Puluhan pekerja kebersihan pun hanya duduk  terpaku tanpa tahu harus berbua apa sembari berharap dinas dan pemangku kebijakan segera menemukan solusi.

Solusi yang diharapkan itupun akhirnya hadir dari kebaikan hati warga Desa Cureh dengan menerima permintaan pemerintah untuk menjadikan kampung mereka sebagai tempat pembangan akhir (TPA) sementara dari sampah yang dihasilkan Kabupaten Bireuen.

“Mereka yang memohon kepada saya untuk bersedia memberikan solusi sementara karena semua komponen yang ada sudah lempar handuk mengurusi masalah sampah ini,” ujar Keuchik Gampong Cureh, Azhar.

Sebelumnya, Kamis, 14 September 2017 masyarakat Beulangong Gampong atau dikenal dengan Desa Cureh mendapati 3 unit mobil pengangkut sampah masuk ke pemukiman mereka. Saat diikuti ternyata mobil tersebut sedang membongkar muatan sampah di wilayah perbukitan kampung mereka.

Sontak kejadian itu membuat warga marah dan meminta sampah yang sudah dibongkar untuk diambil kembali. Dikarenakan pembuangan sampah di desa mereka dilakukan tanpa adanya koordinasi dengan perangkat desa.

Kemudian Keuchik Cureh Azhar mendatangi Dinas PRKPLH, namun tidak berhasil bertemu kepala Dinas. Dia pun akhirnya menelpon Muslim, salah satu staf di Bapedda Kabupaten Bireuen yang juga adik Kandung Bupati Bireuen untuk menyampaikan persoalan pembuangan sampah di desanya yang dilakukan tanpa adanya komunikasi apapun.

Setelah melalui proses negosiasasi yang panjang, akhirnya wilayah perbukitan Gampong Cureh mendapat persetujuan masyarakat untuk dijadikan Tempas Pembuangan Sampah (TPS) sementara demi kebaikan bersama.

“Sikap inisiatif tersebut tentunya tidak serta merta membuat warga Cureh menerima pemukiman mereka dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah walau bersifat sementara,” jelas Azhar.

Namun mengingat puluhan mobil sampah sudah mangkrak di kantor dinas, maka diadakan rapat mendadak dengan perangkat Desa Cureh yang dihadiri oleh Muslim, Sekda Bireuen Ir Zulkifli, dan Sekretaris Dinas PRKPLH.

Meski tidak semua warga setuju keputusan tersebut mengingat lalu lalang truk pengangkut sampah yang menimbulkan bau dan lalat, namun kebaikan hati masyarakat Gampong Cureh setidaknya telah menjadi solusi persoalan sampah di Kabupaten yang dijuluki Kota Juang itu.

“Solusi ini kan hanya bersifat sementara, jadi Pemerintah Kabupaten Bireuen harus tetap memikirkan jalan keluar jangka panjang dalam mengelola sampah yang dihasilkan dengan tempat baru yang permanen tanpa merugikan masyarakat,” harap Azhar. []