Kedaulatan itu Stop Impor!

Oleh: Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc (Penulis adalah Dosen Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh). Email: yasar.unsyiah@gmail.com

Kedaulatan itu Stop Impor!
Ilustrasi

Kedaulatan itu Stop Impor!

Oleh: Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc (Penulis adalah Dosen Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh). Email: yasar.unsyiah@gmail.com

Dalam Pidatonya pada tahun 1959, Bung Karno pernah berkata "kalau kita tidak bisa menyelenggarakan sandang, pangan di tanah air yang kaya ini, maka sebenarnya kita sendiri yang tolol, kita sendiri yang maha tolol". 

Jika orasi penuh energik tersebut diperdengarkan kembali pasti akan menyentak dan menghenyakkita rakyat Indonesia dari Sabang sampai Meurauke. Pasalnya hingga 58 tahun setelah ungkapan tersebut dilontarkan, kita masih menggantungkan kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut kepada negara lain. Padahal dengan luas daratan dan lautan yang kita miliki harusnya kita mampu mandiri bahkan memberi karena kita sepatutnya berdaulat.

Namun dalam kenyataannya, sebagai sebuah negara agraris dan maritim terbesar di dunia, kita masih mendengar kabar impor beras dari Vietnam dan impor garam dari Australia. Daging, susu, kedelai, cabe, bawang ternyata masih tergolong sebagai komoditas impor. Tolol atau maha tolol? seperti yang disinyalir sang proklamator sebagai presiden RI pertama itu.

Sebenarnya jika dilihat dari tugas pokok pemenuhan sandang dan pangan ini maka tidak lain dan tidak bukan, pertanianlah jawabannya. Semua yang bergelut disektor ini pantas dijadikan kambing hitam untuk sebuah pembenaran terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat atau sebaiknya kita pakai saja istilah kontra rakyat.

Selalu saja ada bahasa seperti: produksi dalam negeri kita tidak mencukupi, hasil tani kita tidak berkualitas, teknologi kita tidak memadai, petani kita kurang produktif, dan segudang alasan lain yang terus dimainkan dalam pusaran mafia sektor pertanian untuk membenarkan impor dengan mencekik leher petaninya sendiri.

Kalau mau jujur, tidak ada masalah dengan produksi. Walau minim dari segi sarana dan prasarana namun kita masih beruntung dianugerahi tanah yang subur, iklim yang tropis, serta petani yang ulet dan rajin. Kekurangan produksi masih berpeluang menambah luas tanam, kualitas produk yang kurang  masih bisa diperbaiki dan ditingkatkan, teknologi masih bisa diadopsi, tetapi petani kurang produktif ini perlu dikaji, mengapa?

Menurut data statistik kita, jumlah petani di Indonesia kian tahun kian merosot. Generasi muda enggan meneruskan profesi termulya di muka bumi ini. Yang tersisa kini hanya petani tua dengan usia rata-rata di atas 55 tahun. Pertanian selalu dicap sebagai sarang kebodohan dan kemiskinan. Pekerjaannya penuh resiko, tidak ada kepastian. Berhasil tanam belum tentu bisa panen, berhasil panen tapi gagal di pasaran. Fenomena inilah yang selalu menghantui pemikiran sebagian besar petani kita.

Fenomena berhasil tanam belum tentu panen itu lebih kepada faktor alamiah yang berada di luar jangkauan kita selaku manusia seperti: musim paceklik, terkena banjir, terserang wabah hama dan penyakit atau bentuk-bentuk bencana yang disebabkan oleh gejala alam yang lain. Walaupun sebagian pakar berkeyakinan bahwa hal-hal seperti itu juga tidak bisa dilepas dari ulah perbuatan manusia itu sendiri.

Tetapi yang paling penting sebagai sorotan kita bersama adalah berhasil panen tetapi gagal di pasaran. Ketika petani memanen hasilnya tidak tahu mau dijual kemana. Bisa dijual namun harga tidak sewajarnya. Sehingga petani selalu dalam keadaan merugi. Belum pernah dalam sejarah kenaikan harga hasil pertanian diamini oleh seluruh masyarakat. Yang ada justeru protes yang disertai aksi operasi pasar oleh pemerintah untuk menstabilkan harga. Padahal kalau dikroscek lebih jauh ke level petani, yang mengambil untung dari kenaikan harga produk pertanian hanyalah mereka para pedagang. Sementara petani paling banter hanya keciprat sekedarnya.

Untuk kasus terakhir ini, ada mekanisme pasar yang di dalamnya terdapat banyak peran termasuk pemerintah. Pasar tani yang stabil sebenarnya mungkin saja diciptakan jika pemerintah menggunakan intervensi kebijakan yang pro petani. Contoh kecil, pemerintah bisa memprotek hasil petani kita dengan kebijakan harga yang tidak sepenuhnya dilimpahkan kepada mekanisme pasar. Penentuan harga semestinya berpatokan kepada nilai modal yang tidak boleh lebih besar dari nilai hasil. Pemerintah bisa saja membuat regulasi yang mengatur sistem pemasaran produk pertanian termasuk penentuan harga yang sewajarnya dan mampu memberi keuntungan kepada petani.

Disisi yang lain, untuk memproteksi produk pertanian kita, kebijakan impor harus dipantangkan, tidak peduli dengan yang namanya mekanisme pasar global. Hasil tani kita harus menjadi tuan di negerinya sendiri. Kedaulatan yang sederhana adalah stop impor!.

Kita harus membudayakan sikap mencintai hasil petani sendiri. Makan nasi dari beras yang ditumbuk oleh petani kita. Beli beras dari padi yang ditanam oleh petani kita. Tanam padi dari bibit yang disemai oleh petani kita. Dan semai bibit dari benih yang dikembangkan oleh para petani kita. Niscaya, seumpama inilah kemerdekaan dari persepsi petani kita. Merdekakan Indonesia dari produk pertanian impor! Cintailah hasil keringat petani Indonesia. Petani maju, Indonesia pasti sejahtera.***