Ketika Minum Kopi Menjadi Gaya Hidup

Abrar mengakui,  rata-rata warung  kopi di Aceh, sekarang sudah beralih ke cara penyajian menggunakan mesin.

Ketika Minum Kopi Menjadi Gaya Hidup
Festival Kopi Sanger di Banda Aceh, Aceh, Sabtu 21 Oktober 2017 malam. Photo : Hendri

Ketika Minum Kopi Menjadi Gaya Hidup

Abrar mengakui,  rata-rata warung  kopi di Aceh, sekarang sudah beralih ke cara penyajian menggunakan mesin.

Banda Aceh – Sejak lima tahun yang lalu, tren bisnis kopi di Aceh terus mengalami perkembangan yang tajam, minum kopipun  tidak menjadi sekedar kebutuhan, ia menjelma sebagai gaya hidup. Dan Kota Banda Aceh kini punya sebutan Kota Seribu warung Kopi.

Bagi sebagian besar masyarakat Aceh, ngopi menjadi seperti ritual yang tidak boleh dilupakan sebelum melakukan aktifitas lainya. Nongkrong di warung kopi menjadi kesepakatan tidak tertulis secara turun-temurun dan menjadi kebiasaan dikalangan masyarakat Aceh di Kota hingga Desa.

Dimulai tahun 2012 lalu, muncul warung kopi yag menawarkan racikan kopi arabika. Hinga sekarang, racikan kopi itu berkembang pesat di Banda Aceh. Sejumlah warung kopi kekinian, menyedidiakan kopi arabika.

Selain semakin menjamurnya warung kopi seluruh penjuru Aceh, juga cara penyeduhan kopi ini pun semakin canggih. Seperti halnya teknik manual brewing yang menjadi tren saat ini.

Untuk metode manual brewing adalah teknik menyeduh kopi menggunakan alat yang harus dioperasikan secara manual oleh barista. Baristapun harus memiliki pengetahuan manual brewing agar dapat menghasilkan kopi dengan rasa yang enak dan disukai pecandu kopi.

"Kalau dengan mesin, kopi yang dihasilkan kental dan agak sedikit keras. Namun, melalui teknik manual brewing kopi yang dihasilkan lebih lembut dan halus," kata Abrar Fahriansyah dari Aceh Gayo Manual Brewing saat ditemui di sela Festival Kopi Sanger di Banda Aceh, Aceh, Sabtu 21 Oktober 2017 malam.

Abrar mengakui,  rata-rata warung  kopi di Aceh, sekarang sudah beralih ke cara penyajian menggunakan mesin, makanya Manual Brewing hadir untuk  menyajikan rasa khas bagi penikmatnya dan alat tersebut sudah ada disetiap warung kopi kekinian di tanah rencong ini.

“Manual brewing untuk membedakan seduhan menggunakan mesin dengan seduhan tangan manusia. Perbedaan itu pun semakin terlihat jelas kala kopi dengan teknik penyajian manual brewing bisa menghasilkan varian rasa kopi arabika yang banyak, seperti aroma rasa kacang-kacangan, rempah, karamel dan buah-buahan,”sebutnya.

Ia menyebutkan, cara penyeduhan menggunakan alat brewing cukup mudah. Dengan menggunakan alat seperti Hario V60, Kalita wafe, chamex, pro over dan alat lainnya. Tentunya ini bisa dilakukan di mana saja.

Untuk itu dikatakanya, komunitas Aceh Gayo Manual Brewing, yang terbentuk sejak Oktober 2016 lalu, sudah mulai aktif melakukan edukasi terkait penyeduhan kopi dengan teknik manual brewing di setiap event yang digelar di Aceh.[]