Keurija

Tidak boleh terlena ketika ada perayaan untuk orang hidup, yang namanya keurija udep. Pun harus menjadi pengingat ketika ada yang pergi, dengan dinamakan sebagai keurija mate

Keurija
Ilustrasi/ alphabroker.it

Tidak boleh terlena ketika ada perayaan untuk orang hidup, yang namanya keurija udep. Pun harus menjadi pengingat ketika ada yang pergi, dengan dinamakan sebagai keurija mate

BESOK pagi, menurut hitungan tahun miladiah, 13 tahun yang lalu, ada orang yang masih menghitung duka, berusaha melipat-lipat luka, menyanjung-sanjung ketabahan. Semuanya tidak mudah. Besok pagi, kita bisa menyaksikan betapa semuanya tidak mudah, seperti jalan mendaki yang harus dijalani orang-orang yang tinggal. Mereka yang pergi tidak boleh ditangisi. Justru harus menjadi obat agar kita yang berangkat belakangan mempersiapkan bekalnya secara sempurna.

Ada yang diantar dan ada yang mengantar. Bahasa agama kita menyebut, ketika orang-orang yang masih hidup, tidak bisa menjadikan kematian sebagai obat, maka sepertinya sudah tidak ada lagi peringatan yang masih bisa tertanam di dada. Kematian diharapkan menjadi pengingat bagi semua kita yang tersisa.

Atas dasar itu, orang tua kita selalu mengingatkan, tidak boleh terlena ketika ada perayaan untuk orang hidup, yang namanya keurija udep. Pun harus menjadi pengingat ketika ada yang pergi, dengan dinamakan sebagai keurija mate. Dua pintu selalu harus seimbang, agar orang-orang yang hidup selalu mengingat mati, agar tidak lupa akhir kehidupannya.

Dalam agama kita juga diingatkan, dua pintu itu harus diingat. Ketika orang mengejar kebutuhan dunia, tidak masalah ia berpikir akan hidup lama, namun jangan lupa, ketika mempersiapkan bekal untuk kehidupan nanti, berpikirlah bahwa mati akan segera menjemput.

Orang kampung kita manyebutnya dengan kata keurija (bekerja bersama-sama). Sebagai keurija, ia dilakukan bersama-sama. Untuk mereka yang udep, keurija selalu direncanakan sedemikian rupa. Ia menjadi hajat yang ingin dicapai, dan berjalan sukses. Ia akan menyampaikan kepada banyak orang tentang hajat itu. Bahkan penghajat akan mengundangnya secara khusus. Ke semua tempat dan saudara akan didatangi, seolah begitu bermarwah ketika semua keluarganya datang ke hajatnya.

Untuk hajat hidup, semua persiapan dilakukan secara sempurna. Seolah tidak ingin ada yang kurang. Tempat yang tidak mungkin dijangkau sendiri, akan diutus orang secara khusus untuk peutrok haba. Ketika saya masih anak-anak, orang-orang khusus itu datang ke rumah, sambil membawa beberapa sirih sebagai tanda kabar itu sudah disampaikan.

Zaman berubah. Orang-orang sekarang bisa saja melakukannya melalui mesin penyampai pesan semisal pesan pendek atau chatting whats’Aap. Begitu sederhana pengantar pesan, bahwa sesuatu yang penting tinggal diminta bantu antar pada mesin yang tinggal diklik hingga bisa ribuan rantai akan tersampaikan.

Itulah hajat hidup. Berbeda dengan datangnya mati, yang tidak bisa ada yang memprediksi. Secara fisik, banyak orang diperkirakan pergi lebih dulu, tiba-tiba didahului oleh orang-orang yang kelihatannya masih sehat-sehat saja. Namun orang tidak bisa merenung dalam atas kejadian yang begitu rupa. Orang yang kemarin atau beberapa waktu sebelumnya bercengkerama, tiba-tiba lewat penyampai pesan, kita terima mereka sudah tiada.

Banyak sahabat dan keluarga kita yang dijemput pada 26 Desember 2004. Secara khusus, seharusnya kita harus bisa merenung sejenak, betapa segala sesuatu bisa berlangsung begitu cepat. Kita akan sampai pada waktu ketika kita tidak bisa mengerjakan apa-apa, dan saat menyadari sudah sampai pada titik akhir, kita bahkan sudah tidak bisa membela diri atas apa yang sudah kita persiapkan.

Mari kita tunduk kepala sejenak, berdoa untuk semua orang yang sudah tiada, dan meninggalkan kita. Al fatihah!

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.