Khawuri

Khawuri yang dilaksanakan sekalipun, seharusnya sebagaimana dilaksanakan Rasul, diperuntukkan dengan mengutamakan anak-anak yatim dan piatu serta orang-orang miskin.

Khawuri
Ilustrasi I @iloveaceh

Khawuri yang dilaksanakan sekalipun, seharusnya sebagaimana dilaksanakan Rasul, diperuntukkan dengan mengutamakan anak-anak yatim dan piatu serta orang-orang miskin.

ADA banyak undangan khawuri sejak dari awal bulan ini. Sebagai undangan, mereka yang diundang seyogianya datang memenuhi. Apalagi undangan khawuri yang pasti memiliki makna khusus di dalamnya. Selama tidak dicampur dengan berbagai kepentingan masing-masing pengundang.

Ada momentum yang menggerakkan orang masing-masing melaksanakan khawuri. Momentum maulod, salah satunya. Momentum ini diperingati sebagai pengingat bagi umat mengenai sejarah dan perjuangan Rasul –momentum yang bagi saya sangat penting dan tidak boleh bermain-main.

Momentum ini pula, bagi orang Aceh dilaksanakan hingga mencapai tiga bulan. Mulai dari maulod awai, maulod teungoh, dan maulod akhe. Dalam rangka memperingati momentum penting ini, orang sudah seharusnya berfokus untuk mengambil teladan dari sosok Rasul. Bukan meninggalkan apa yang dilakukan oleh Rasul.

Khawuri yang dilaksanakan sekalipun, seharusnya sebagaimana dilaksanakan Rasul, diperuntukkan dengan mengutamakan anak-anak yatim dan piatu serta orang-orang miskin. Tidak justru sebaliknya. Khawuri hanya untuk memuliakan para orang-orang besar dan berpengaruh, lalu orang-orang yang berhak justru ditempatkan di sudut ruang.

Lalu siapa peduli? Apalagi mendekati tahun politik, seolah momentum ini pun dijadikan ajang tempat melakukan lobi dan ruang mendulang suara. Sebagai sebuah hajatan, tidak ada yang salah. Namun khusus khawuri dengan momentum memperingati perjalanan Nabi, seharusnya berfokus untuk melakukan refleksi tersebut.

Begitulah seharusnya khawuri dilaksanakan. Ia sebagai kegiatan yang sangat berprotensi kepada aspek positif, yang pelaksanaannya bisa jadi membawa implikasi negatif. Idealnya sebagai perpaduan antara makan bersama, khawuri mensyukuri nikmat, melakukan refleksi, memperingati momentum, dan melakukan sosialisasi nilai-nilai yang harus diikuti, sekaligus internalisasinya bagi warga masyarakat. Bagi saya semua hakikat dari dilaksanakan khawuri itu merupakan sesuatu yang saya sebut positif. Ketika semua kepentingan itu diingkari, pada dasarnya sedang membawa aktivitas ini ke arah yang negatif.

Dalam bahasa Indonesia, khawuri disebut dengan kenduri. Kamus Umum Indonesia-Aceh yang disusun M. Hasan Basry (Yayasan Cakra Daru, 1994), menggunakan beberapa kata terkait dengan kenduri, yakni kanduri, khanuri, dan khawuri. Pada prinsipnya, ketiga kata itu bermakna sama. Ada sedikit perbedaan dalam pemakaian. Masyarakat di daerah tertentu memakai kata khawuri, bisa jadi di tempat lain dipakai khanuri. Tempat asal saya, disebut dengan kata khanduri.

Hal lain yang saya tahu, aktivitas ini sendiri dilaksanakan secara bersahaja. Hajat ini dipandang bisa dilakukan ketika seseorang memiliki kesiapan semua hal. Orang yang berhajat memiliki kemampuan materi, walau itu seukuran seekor ayam atau bebek, yang akan dihidangkan untuk makanan alakadarnya. Orang yang berhajat dan orang yang menunaikan undangan hajat, seyogianya tidak mempermasalahkan kesederhanaan makanan. Di samping itu, kesiapan psikologis, bahwa ketika mengundang orang lain, maka pengundang sudah memiliki kemampuan psikologis untuk menyambutnya.

Dalam perjalanan, posisi khawuri ini yang agak unik dan memungkinkan dilaksanakan banyak even. Even ini ada yang memang tersedia apa adanya, namun ada juga yang diada-adakan. Apa adanya, saya telusuri dari sejumlah even yang dalam masyarakat kita memang diperuntukkan untuk hal yang demikian –walau dalam perjalanan, maknanya sepertinya banyak bergeser. Sejumlah hari dalam rentang setahun kalender, ada saja momentum melaksanakan khawuri dalam masyarakat kita. Even inilah yang kemudian didayagunakan secara kreatif untuk tujuan-tujuan lain sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Salah satu kepentingan yang sering tampak, adalah khawuri yang diupayakan sebagai ruang perebutan pengaruh secara politik.[]