Kisah Abdul Halim, Bocah Gagal Ginjal Asal Aceh Jaya

“Ini saya ganti cairannya lebih cepat. Kalau lebih cepat boleh. Yang jangan telat. Nanti, cairan ini akan menjalar ke paru-paru dan jantung"

Kisah Abdul Halim, Bocah Gagal Ginjal Asal Aceh Jaya
Foto: Desi Badrina

Kisah Abdul Halim, Bocah Gagal Ginjal Asal Aceh Jaya

“Ini saya ganti cairannya lebih cepat. Kalau lebih cepat boleh. Yang jangan telat. Nanti, cairan ini akan menjalar ke paru-paru dan jantung"

Abdul Halim 9 tahun, berbaring telentang. Kaki kanan ditopangkan pada lutut sebelah kiri. Sembari bermain game Angry Bird di dipan setinggi satu meter, Ibunya dengan sigap menyingkap baju biru Abdul. Ada selang bening sepanjang lima belas senti, menempel di perut bagian kanannya.

Dewi Anggraini, ibu Abdul, dengan mantap meraih ujung selang dengan penutup seperti pasta gigi. Memutarnya hingga terbuka, dan memasangkan corong biru berdiameter satu senti. Corong ini menyambungkan selang di perut Abdul dengan dua selang lain yang lebih panjang. Berfungsi layaknya kran air. Dapat disetel alirannya.

Ujung selang sambungan, mempunyai dua kantong berbahan plastik. Volume keduanya berkapasitas dua liter. Satu kantong berisi dua liter cairan Daniel Low Calsium with Dextrose atau cairan pencuci darah, sedangkan kantong satunya kosong. Sebelum memasang corong, ia telah mengeluarkan dua peralatan penting; penjepit selang, dan timbangan gantung.

“Kempeskan perut nak,” instruksi Dewi kepada anaknya.

Abdul menurut. Terlihat ia sudah ahli melakoni aktifitas cuci darah itu tiga kali sehari. Ditariknya nafas panjang guna menekan bagian bawah perutnya. Jadilah cairan bening sewarna urin, keluar perlahan mengikuti aliran yang bermuara ke dalam kantong kosong di lantai. Sambil berjongkok, Dewi memeriksa apakah cairan itu keluar sempurna.  

“Tadi pagi warnanya bening, kayak ini,” kata Dewi menunjukkan kantong berisi cairan pencuci darah yang masih baru di tangan kiri.

Tak sampai lima menit, cairan pencuci darah yang sudah bekerja sejak pukul enam pagi dalam ginjal Abdul, berhasil dikeluarkan tepat waktu. Volumenya lebih banyak daripada saat dimasukkan. Wujudnya pun lebih cair dari sebelumnya.

Meski cairan pencuci darah yang masih baru, berisi dua liter, namun yang masuk ke tubuh putra semata wayang Ibu 39 tahun itu, hanya satu liter. Ia mengambil jepitan merah, menjepit bagian selang yang berisi cairan pagi tadi. Keran warna biru, ia putar ke sebelah kanan buat membuka sumbat selang cairan yang akan dimasukkan.

“Kalau cairan baru, bentuknya mirip agar-agar. Agak kental,” jelas Dewi dengan suara agak sengau karena tertutup masker. Prosedur mengeluarkan dan memasukkan cairan pencuci darah, ia ikuti sesuai petunjuk dokter. Alkohol dan juga masker wajah adalah perlengkapan utama bagi perawat otodidak sepertinya.

Cairan itu diganti tiap tiga kali dalam sehari. Pada pukul enam pagi, jam dua siang, serta menjelang tidur, yakni pukul sepuluh malam.

Siang itu, Ibu sekaligus ayah untuk Abdul Halim ini, baru saja pulang dari Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA). Dia dan anaknya, pergi berjalan kaki sejak pukul enam pagi, dari Rumah Singgah BFLF, yang berada di Jalan Cumi-cumi No 15, Lampriet, Banda Aceh.

Tujuannya untuk memeriksa kondisi Abdul Halim, yang bulan lalu tidak sempat di bawa ke RSUZA. Pasien gagal ginjal seperti Abdul Halim, terang Dewi, harusnya berobat rutin satu bulan sekali. Namun, jarak dari Aceh Jaya menuju Banda Aceh, memakan biaya yang tak sedikit.

Belum lagi, tiap kali mengontrol ginjal anaknya, mereka harus membawa serta 20 kotak cairan pencuci darah ke kampungnya di Krueng Sabee. Dua puluh kotak berisi 180 liter cairan pencuci darah. Biasanya, bila mereka menumpang mobil angkutan umum, satu kotak harus berbayar dua puluh ribu rupiah.

“Bulan lalu saya tak sempat datang, karena biaya lumayan mahal. Untuk bawa obat pulang, butuh uang 400 ribu. Belum lagi ongkos dan biaya kami selama di Banda,” kata perempuan hitam manis ini.

Mereka berencana memeriksa kondisi Abdul Halim kepada dokter yang biasa menangani pasien termuda gagal ginjal ini. Hanya saja, menangkring seharian di RSUZA, hanya berhasil membawa pulang dua kantong cairan pencuci darah berisi empat liter. Itupun, dari pihak rumah sakit mengatakan, akan dipotong dari jatah obat Abdul Halim bulan ini.   

Dua kantong obat itu, hanya bertahan sampai besok pagi. Jadilah ia mengganti cairan siang dan malam saja. Ia tak bisa membayangkan jika Abdul Halim putus obat. Kata dokter, tubuh bocah yang hobi menggambar ini akan lemas.

“Ini saya ganti cairannya lebih cepat. Kalau lebih cepat boleh. Yang jangan telat. Nanti, cairan ini akan menjalar ke paru-paru dan jantung,” jelas Dewi yang sudah telaten merawat anaknya sejak akhir 2016.

Cairan pencuci darah yang baru saja dimasukkan dalam tubuh anaknya hampir selesai. Ia membutuhkan timbangan gantung untuk memastikan takarannya pas dan tidak berlebih. Digantungkannya kantung itu tak lebih tinggi sekepalanya. Angka satu sampai sepuluh berurutan secara vertikal dari atas.

“Ini timbangnnya naik ke atas. Bukan turun ke bawah. Kalau sudah sampai pada angka satu, maka cairannya sudah cukup,” kata Dewi menunjuk angka satu setelah angka nol dari atas.

Begitu selesai, dengan cepat ia menghentikan aliran cairan yang bersisa satu liter itu dengan penjepit selang. Lalu, ia keluarkan penutup baru serupa penutup pasta gigi dari dalam tas sandang dan membukanya tanpa menyentuh bagian dalam.

Kemudian, hanya dalam hitungan detik ia melepas corong dan memasang tutup itu keselang utama di perut Abdul Halim. Selesai sudah proses cuci darah siang itu. Rutinitas itu akan kembali berlansung sebelum tidur.

“Abdul Halim tak bisa makan cokelat, penyedap makanan, teh atau kopi. Kalau ia makan, langsung ketahuan saat cairan ini dikeluarkan. Warnanya akan keruh. Tidak bening kayak begini,” kata Dewi.

Tak ada gurat sedih atau lelah di wajah Dewi walau aktifitas itu rutin ia lakukan tiga kali sehari. Harapan kabar gembira yang ia dengar dari dokter, bila ia sungguh-sungguh merawat putranya, maka pada usia 14 tahun, besar kemungkinan ginjal Abdul Halim akan pulih total.

Sebelum berlalu, ia berpesan kepada ibu-ibu di luar sana. “Sesibuk apapun orang tua mencari uang, jangan pernah manjakan anak dengan uang. Hanya karena kita tak ingin diganggu saat bekerja. Biar saya saja yang merasakan pedihnya melihat anak saya gagal ginjal,” pesan Dewi.[]