Kisah Janji Tiga Bupati dan Tempat Pembuangan Sampah di Cot Buket

Air limbah yang mengalir itu merembet dan mencemari pemukiman penduduk

Kisah Janji Tiga Bupati dan Tempat Pembuangan Sampah di Cot Buket
Puluhan unit mobil pengangkut sampah terpaksa parkir di depan Kantor Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Bireuen, Sabtu 16 September 2017.

Kisah Janji Tiga Bupati dan Tempat Pembuangan Sampah di Cot Buket

Air limbah yang mengalir itu merembet dan mencemari pemukiman penduduk

Bireuen - Mobil pengangkut sampah milik Pemerintah Kabupaten Bireuen, yang setiap hari wara wiri mengangkut sampah ke dua lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Cot Buket Kecamatan Peusangan dan TPA II Blang Bururu Peudada, sudah tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasanya. Pasalnya warga setempat melakukan pemblokiran terhadap akses jalan menuju lokasi  dan tak mengizinkan lagi TPA tersebut difungsikan lagi.

Dalam tiga hari terakhir, para pekerja kebersihan dan puluhan unit mobil pengangkut sampah terpaksa parkir di depan Kantor Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Bireuen, Sabtu 16 September 2017.

Media ini merangkum sejumlah informasi dan latar belakang masalah penanganan pembuangan sampah yang sudah dilakukan sejak tahun 80-an ke Desa Cot Buket , Kecamatan Peusangan, Bireuen.

“Sejak tahun 80-an sampah sudah dibuang oleh pemerintah yang pada waktu itu masih berada dalam Aceh Utara, ke TPA yang terletak di Desa kami,” ujar Edi, salah seorang warga Cot Buket.

Cerita yang utuh dikisahkan Sekretaris Desa Cot Buket Jafar Abed, dirinya menceritakan alsan mengapa warga Desa Cot Buket menolak sampah-sampah itu  dibuang ke TPA yang dekat dengan  pemukiman warga. “Mencemari lingkungan, itu alasan warga saya’” katanya.

Pada tahun 2012 warga Desa Cot Buket pernah meminta kepada Pemkab Bireuen untuk membuat tempat pembuatan sampah yang standar dan layak sehingga tidak berdampak kepada lingkungan, selain itu warga juga meminta dua ruas jalan tembus ke kerah TPA di aspal.

“Permasalahan mencuat pada tahun 2012 di masa kepemimpinan Bupati Nurdin. Puncaknya,  saat Bupati Ruslan pada Mei 2015, menjanjikan akan mengaspal dua ruas jalan yang tembus ke lokasi, namun sampai saat ini tidak kunjung terealisasi, kemudian warga memutuskan untuk melarang pembuangan sampah ke TPA,” kata Jafar Abed.

Kekecewaan warga semakin klimaks ketika Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bireun yang dijabat Zamri, menjanjikan akan segera membangun jalan tersebut. Parahnya, TPA Cot Buket dalam bilangan waktu, sudah semakin merusak lingkungan, air limbah yang mengalir merembet mencemari pemukiman penduduk. Serta merta, Dinas Kebersihan segera berkilah, bahwa pihaknya telah berupaya dengan mengajukan pembangunan jalan dan membangun TPA yang representatif, namun tidak disetujui Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bireuen, karena itu bukan kewenangan mereka.

Dari waktu ke waktu apa yang diharapkan warga tak kunjung sampai, janji-janji dating silih berganti, kemarahan warga pun memuncak. Buntutnya, warga Desa Cot Buket mengambil keputusan melarang keras wilayahnya dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah.

Dua hari yang lalu, Jafar Abed mengatakan masyarakat pernah memberikan izin sementara kepada Pemkab Bireuen untuk membuang sampah yang sudah di muat dalam truk-truk sampah, dengan syarat tidak boleh melewati waktu 1 x 24 jam.

Saat itu juga pihak kebersihan  segera membuang sampah ke TPA II kawasan Blang Beururue, Kecamatan Peudada.

Namun sejak tiga hari terakhir warga yang bermukim dekat lokasi TPA II Blang Beururue, Kecamatan Peudada juga mengambil sikap yang sama yaitu melarang pembuangan sampah di kawasan mereka.

Pemkab Bireuen, sempat melakukan negosiasi,  hadir langsung Sekretaris Daerah, Kepala Dinas terkait,  DPRK dan Muspida dengan masyarakat Desa Cot Buket, namun negosiasi tersebut tak menemukan solusi, seperti berhenti di yang jalan buntu. Warga tetap pada komitmennya yang secara tegas menolak sampah-sampah tersebut dibuang ke pemukiman mereka.

“Kami sangat sayang kepada Pemerintah, namun ibaratnya kami adalah istri yang sudah ditalak 3, yang tidak boleh lagi ruju’k,” ujar seorang warga.

Macetnya negosiasi dengan warga Cot Buket, membuat persoalan pembuangan sampah semakin pelik. Hal yang sama juga terjadi di lokasi TPA II Blang Beururu Kecamatan Peudada. Tak ada pilihan lain, karena ke dua TPA di Bireuen tak bisa difungsikan seperti biasa. Sampah pun menumpuk diatas puluhan unit pengangkut sampah yang terpaksa diparkir rapi para petugas kebersihan Kabupaten Bireun.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Ismunandar, mengatakan bahwa akses ke lokasi ditutup warga karena akses jalan ke lokasi yang rusak karena musim hujan.

“Warga minta jalan yang rusak kelokasi pembuangan di aspal, dan sudah disepakati di APBK 2018 akan dilakukan pengaspalan jalan ke lokasi, dan kemarin kita sudah melakukan perbaikan tanggul sesuai dengan permintaan warga,” ujar Ismunandar kepada acehnews.co.

Ismunandar  menyatakan, pihaknya telah mengambil solusi sementara, sampah yang sudah menumpuk dan masih berada di atas mobil truk petugas kebersihan yang terparkir di halaman  kantor dinas akan segera dibuang di Cureh.

Saya sedang menunggu reaksi warga Cureh.[]