Kisah Nurma, Pahlawan Buta Huruf di Pedalaman Aceh

Nurma hanya menyelesaikan pendidikan hingga SD. Pendidikannya pupus akibat faktor biaya dan tidak diizinkan orang tua untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Kisah Nurma, Pahlawan Buta Huruf di Pedalaman Aceh
Nurma, pahlawan buta huruf di Pedalaman Aceh. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Kisah Nurma, Pahlawan Buta Huruf di Pedalaman Aceh

Nurma hanya menyelesaikan pendidikan hingga SD. Pendidikannya pupus akibat faktor biaya dan tidak diizinkan orang tua untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

PEREMPUAN itu berjalan pelan keluar dari dalam menuju teras rumah. Tangan kanannya memegang buku catatan dan spidol.

Di depannya, sekelompok ibu-ibu duduk rapi di halaman berkontruksi kayu. Sambil menunggu proses belajar-mengajar, mereka larut dalam obrolan tentang aktivitas masing-masing.

Papan tulis warna putih seukuran 1x1 meter menempel di dinding depan pintu masuk. Nurma (35), si pemilik rumah, menulis beberapa kalimat: “Ibu suka baca, baca buku baru, bagi-beli-gizi.”

Sekelompok ibu-ibu di sana kemudian menyalin setiap kalimat ke dalam buku mereka. Setelah itu, satu-persatu diminta untuk membacanya. Nurkasih (32) mendapatkan giliran pertama. Ia membaca dengan terbata-bata, berusaha mengeja huruf per huruf dari setiap kalimat yang ada di papan.

Meski tak semua ibu-ibu di sana lancar membaca dan berhitung, suasana belajar sangat hidup dan ceria. Proses belajar-mengajar berlangsung di teras rumah Nurma. Mereka duduk lesehan, bahkan di antara mereka ada yang membawa anak.

Nurma kemudian menghampiri sekumpulan perempuan yang menjadi muridnya. Dengan perlahan, ia menuntun mereka mengeja per huruf.

Nurma merupakan salah seorang ibu rumah tangga di Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, --desa yang terletak di pedalaman Aceh Timur. Hanya mengantongi ijazah Sekolah Dasar (SD), ia mengajari ibu-ibu buta huruf yang tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Ibu tiga anak ini mengajar secara sukarela tanpa dipungut biaya.

Pasalnya, kaum ibu di Desa Melidi hampir 80 persen menyandang buta huruf. Beranjak dari sana, bermodalkan sedikit ilmu, menyentuh hati Nurma untuk membagi ilmunya.

Proses belajar mengajar sudah berlangsung sejak 8 januari 2010. Dalam sepekan, ibu-ibu Desa Melidi belajar setiap Jumat dan Minggu.

Kepada kumparan, Nurma mengisahkan awal mula aktivitas mulianya itu. Berawal dari kegiatan posyandu (pos pelayanan terpadu), saat itu, Nurma melihat kaumnya yang tidak bisa membaca.

Hati Nurma tergetar ingin mengajari mereka. Awalnya, Nurma hanya mengajar 10 orang, kemudian saban harinya terus bertambah.

Motivasi Nurma tak muluk-muluk amat. Dia menginginkan seluruh perempuan di desanya bisa membaca dan menulis, meski berada di pelosok negeri.

“Biar ibu-ibu ini ke depannya tidak ada lagi yang buta huruf. Saya menginginkan semua masyarakat di sini bisa membaca, berhitung, dan menulis. Mampu mengajari anaknya ketika pulang sekolah seperti buat PR (pekerjaan rumah). Kalau mereka sudah bisa kan bisa mengajari anak-anaknya di rumah gitu lho,” kata Nurma, saat kumparan mengunjungi rumahnya pengujung Maret lalu.

Wanita kelahiran 27 Februari 1983 itu merupakan pendatang di Desa Melidi. Ia berasal dari Gampong Johar, Karang Baru, Aceh Tamiang. Setelah membangun rumah tangga dengan Ajisah (45) dan dikarunia tiga anak perempuan, ia pindah ke Desa Melidi dan menetap di sana sejak 2007.

Nurma hanya menyelesaikan pendidikan hingga SD. Pendidikannya pupus akibat faktor biaya dan tidak diizinkan orang tua untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

“Pendidikan cuma tamatan sekolah dasar, karena saya anak perempuan, selain enggak punya biaya, juga tidak mendapatkan izin dari orang tua kalau anak perempuan sekolahnya jauh. Orang tua saat itu takut melepaskan anak perempuanya,” katanya.

Nurma mengaku ikhlas. Ia tidak menginginkan pendidikan perempuan di sana tertinggal. Jiwa pendidikan Nurma masih begitu semangat.

Dengan kerja kerasnya, ia berhasil membina dan mengajari kaum ibu yang kini tak lagi buta huruf.

“Alhamdulillah semangat belajar ibu-ibu di sini cukup baik, waktu pertama sekali saya mengajar memang mereka tidak bisa sama sekali. Bahkan ada seorang ibu jangankan membaca, pegang pulpen saja kaku seperti anak kelas I SD,” terangnya.

Nurkasih, salah satu murid Nurma, merasa terbantu dengan kehadiran Nurma di desa mereka. Lantaran Kak Nur --panggilan akrab Nurkasih, sama sekali belum pernah menyentuh pendidikan.

“Sebelumnya, belum pernah sekolah, karena orang tua saya dulu tidak pernah tinggal di desa. Mereka selalu di ladang. Jadi sekolahnya kan jauh harus nyeberang sungai, anak perempuan tidak dikasih, biar abang-abang saja sekolah,” tutur Nurkasih.

Selama ikut belajar bersama Nurma, kini kak Nur sudah bisa menulis dan membaca meski masih terbata-bata. “Saya belajar mulai dari mengenal huruf ABC, sekarang sudah lumayan sikit-sikit bisa belajar membaca, hitung. Tidak ada rasa malu karena sama teman-teman di sini semua jadi rasanya semangat gitu,” ucap Nurkasih.

 

Mimpi Nurma ingin tiga anaknya sukses

Nurma meneteskan air mata saat bercerita tentang niatnya yang masih ingin mengenyam pendidikan layaknya perempuan di perkotaan. Sambil tersedu-sedu, Nurma yakin, bahwa perempuan di desa, tidak selamanya harus di dapur.

“Jangan mentang-mentang saya anak perempuan tidak disekolahkan. Saya mau buktikan kalau anak perempuan itu butuh pendidikan. Sekarang kesetaraan gender, tidak semua perempuan di dapur, padahal lelaki juga ada koki. Perasaan kecewa sih ada, sempat nangis karena tidak dikasih sekolah tapi ya sudah pasrah aja, karena orang tua tidak punya biaya,” imbuhnya.

Nurma menginginkan ketiga anaknya sukses. Dia tak mau ketiga anaknya mengulangi nasibnya.

“Saya tidak mau mimpi mereka terkubur seperti saya. Anak saya ketiganya perempuan, saya ingin mereka sekolah lebih tinggi. Tidak ada batasan, kalau memang jiwanya sekolah, kami orang tua tinggal usahakan cari uang. Saya tidak ingin mereka seperti saya yang dilarang orang tuanya untuk sekolah,” ungkap Nurma.

Anak pertama Nurma, Dwi, saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Menegah Atas (SMA) Meudang Ara, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Sementara dua lainnya, tinggal satu rumah dengan Nurma.

Keinginan Nurma mengenai pendidikan sang anak juga didukung penuh oleh suaminya. Mereka berharap, kelak, saat ketiga anaknya telah sukses, mereka bisa kembali ke kampung halaman dan membangun desa.

“Suami saya mendukung kalau dia harus sekolah tinggi. Saya ngajarin anak-anak 'kalau sekolah itu yang rajin jangan suka libur'. Pernah saya bilang 'jangan kayak mamak dulu tidak sekolah,” ujarnya.[]kumparan.com