Kisah Pemuda di Angkong Sorong

Kisah Pemuda di Angkong Sorong
Kamarudin terbaring di atas angkong di rumahnya

Kisah Pemuda di Angkong Sorong

Sejak 14 tahun lalu. Saban hari ia hanya bisa terbaring melewati putaran waktu di atas angkong (gerobak) sorong yang dibeli keluarganya. Sesekali ia didorong ke luar rumah untuk menghirup udara segar dan berjumpa dengan teman-teman seusianya. Meski tak bisa beraktivitas seperti yang lain, namun setidaknya hal itu membuat ia tidak merasa kesepian.

Kamarudin Situmorang (24). Demikianlah nama pemuda warga Desa Bulusema, Kecamatan Suro, Kabupaten Aceh Singkil. Berdasarkan pemeriksaan medis, Kamarudin mengalami penyakit paresis (kondisi gerak badan melemah) dan plagia (kelumpuhan).

Anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Nanak (56) dan (Alm) Birin Situmorang ini tidak lagi bersekolah saat berusia 10 tahun akibat sakit yang dideritanya. Bahkan karena tidak pernah digerakkan dan diobati kedua kakinya pun kini kian mengecil dan lumpuh.

Kamarudin lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Hani (27). Sang kakak yang sabar dan setia mendampinginya. Sejak ayah mereka meninggal, ibunya menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai penjual sayuran di pasar tradisional terdekat.

"Gejala pertama itu kakinya hanya sakit dan keram, tapi lama kelamaan entah kenapa kaki dan anggota tubuhnya pun tidak bisa digerakkan lagi," ucap Hani saat ditemui di kediamannya.

“Dulu pernah diberi kursi roda oleh pemerintah, namun karena tidak bisa digunakan kami jual saja seharga Rp 1 juta, kemudian uangnya dibelikan angkong sorong sesuai kebutuhan adik saya,” lanjut sang kakak.

Menurut Hani, mereka punya alasan tersendiri memilih angkong sorong untuk adiknya. Selain faktor ekonomi. Menggunakan angkong sorong juga dinilai lebih mudah saat ingin memindahkan Kamarudin dari satu tempat ke tempat yang lain.

“Semua aktivitas seperti makan, buang air, dan mandi dilakukan Kamarudin dengan bantuan saya dan ibu. Bila Kamarudin bosan, kami pun mendorong angkong ke luar rumah,” ungkap Hani dengan suara terbata-bata.

Menurut Hani, dirinya dan keluarga sudah berusaha membawa Kamarudin berobat, namun karena keterbatasan biaya, upaya itupun tidak dilanjutkan. “Sekarang kami tidak punya duit lagi untuk mengobati adik, jadi terpaksa merawat dan mengurusnya di rumah saja,” tambahnya.

Meski sering merasa sedih melihat kondisi sang adik, namun Hani dan ibunya tetap sabar menghadapi takdir yang harus dijalani. Bagi mereka doa adalah jalan keluar terbaik sembari berharap Kamarudin bisa kembali sembuh seperti sebelumnya.

“Saat ini kami hanya bisa berdoa. Semoga ada dermawan yang mau membantu
proses pengobatan anak kami, sehingga dia bisa kembali melanjutkan pendidikan dan cita-citanya,” harap Ibu paruh baya itu.*** [] Putra Lingga