Kisah Samsul Menjadi Rektor dan Dendam Darni yang Tak Terlupakan

Tapi kenyataannya, kursi gubernur tak didapat, kursi rektor pun terlanjur menjadi milik Prof Samsul.

Kisah Samsul Menjadi Rektor dan Dendam Darni yang Tak Terlupakan
Rektor Universitas Syah Kuala, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng. Foto: tempo.co

Kisah Samsul Menjadi Rektor dan Dendam Darni yang Tak Terlupakan

Tapi kenyataannya, kursi gubernur tak didapat, kursi rektor pun terlanjur menjadi milik Prof Samsul.

SAMSUL Rizal lahir di Idi Rayeuk, Aceh Timur, 55 tahun silam, yakni pada 8 Agustus 1962. Ia menghabiskan masa kecilnya di tanah kelahirannya di Idi Rayeuk. Samsul kecil berasal dari keluarga sederhana.

Puluhan tahun silam, setelah pulang sekolah, ia membantu ayahnya berjualan di Pasar.

Pendidikan dasar sampai sekolah menengah ia selesaiakan di Aceh Timur.  Tamat SMA, ia berangkat ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Syahkuala (Unsyiah.

Ia  memilih jurusan Teknik. Di Fakultas Teknik Unsyiah, Samsul meraih gelar S1 dengan predikat memuaskan.

Lalu, sebuah keberuntungan datang padanya. Ia mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magisternya di University of Technology, Jepang.

Singkat cerita, Samsul menamatkan program doktoralnya di bidang Struktural Integrity di Master of Mechanical Tohoyasi University di Jepang tersebut sesuai tenggat waktu yang dicantumkan dalam program beasiswa, yakni pada 2001.

Prestasi akademiknya tergolong mentereng. Pada 1994 ia menjadi dosen teladan pertama di Fakultas Teknik Unsyiah dan dosen teladan kedua di tingkat universitas. Bahkan, pada 2004 ia juga terpilih sebagai peneliti terbaik pertama di Unsyiah.

***

Delapan tahun kemudian, Jumat 23 November 2012, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng resmi menjadi Rektor Ke-8 Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, setelah dilantik sebagai rektor definitif oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof Dr Muhammad Nuh DEA, di Graha Utama Kemendikbud Jakarta.

Sebelumnya, pada Kamis 12 April 2012, Senat Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) secara aklamasi menetapkan Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng sebagai Rektor Unsyiah definitif melalui Rapat Senat Unsyiah di Darussalam, Banda Aceh.

Pada SK tersebut tertera, paling lama satu bulan sejak SK dikeluarkan, Penjabat Rektor Unsyiah harus menyelenggarakan pemilihan rektor baru Unsyiah.

Pemilihan itu menyusul keluarnya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137/MPK.A4/KP/2012 tertanggal 29 Maret 2012 yang memutuskan, terhitung 2 Januari 2012, memberhentikan dengan hormat Prof Dr Darni M Daud MA dari jabatan Rektor Unsyiah periode 2010-2014. Sekaligus mengangkat Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng, Pembantu Rektor I Unsyiah kala itu, sebagai Penjabat Rektor Unsyiah.

Rapat Senat Unyiah tersebut berlangsung di lantai II Biro Rektor itu diikuti semua dekan di lingkungan Unsyiah dan semua anggota. Kecuali, Darni M Daud dan Anhar Abubakar, yang tidak lagi menjadi anggota senat universitas.

Prof Darni M Daud, yang menjabat Rektor Unsyiah untuk periode kedua saat itu, menyatakan diri maju sebagai calon gubernur Aceh dalam Pilkada yang dijadwalkan berlangsung 16 Februari 2012.Untuk kepentingan pencalonan dan kampanye, ia harus mengajukan surat non-aktif dari jabatan rektor. Mendikbud Muhammad Nuh menyetujui permohonan non-aktif itu.

Darni, tampaknya, sempat membangun asumsi, jika tidak terpilih sebagai Gubernur Aceh, ia bisa kembali lagi ke jabatan semula untuk memimpin Unsyiah hingga 2014. Tapi kenyataannya, kursi gubernur tak didapat, kursi rektor pun terlanjur menjadi milik Prof Samsul.

“Saya taat asas dan patuh pada ketentuan hukum,” kata Darni Daud pada konferensi pers di Media Center KIP Aceh, seperti dilansir dari acehkita.com, 9 Desember 2011.

Menurutnya, “Jabatan rektor itu unik. Itu berbeda dengan jabatan birokrasi yang structural”.

Lebih lanjut, dalam konferensi pers yang digelar Darni sendiri,sebagaimana dikutip harian Serambi Indonesia, ia menegaskan, dirinya bukan dicopot dari Rektor Unsyiah, melainkan diberhentikan sementara dari jabatan itu oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), karena ia maju sebagai calon gubernur Aceh. 

Pemberhentian itu, menurut Darni, didasarkan pada permohononan pengunduran dirinya dari jabatan fungsional sementara melalui surat Nomor 0692/UN11/KP/2012 tanggal 20 Februari 2012 kepada Mendikbud. 

Dalam Surat Keputusan Mendikbud No 15816/A4.2/KP/2012 tanggal 13 Maret 2012, menurut Darni, disebutkan bahwa: kesatu, terhitung mulai 2 Januari 2012 memberhentikan Prof Dr Darni M Daud MA; kedua, selama PNS dalam diktum kesatu diberhentikan dalam jabatan negeri, tidak bekerja pada satuan organisasi di lingkungan Kemendikbud; ketiga, selama diberhentikan dari jabatan negeri, kepada PNS pada diktum kesatu diberi penghasilan setiap bulan, kecuali tunjangan jabatan.

“Kata `selama’ dalam SK Mendikbud itu menunjukkan pemberhentian saya dalam jabatan negeri hanya bersifat sementara,” ungkap Darni kala itu sebagaimana dikutip harian serambi Indonesia.

Begitu penafsiaran Darni saat itu.

Di lain sisi, Darni saat itu tengah menghadapi dakwaan, terkait dugaan praktik korupsi: sisa bantuan beasiswa Jalur Pengembangan Daerah (JPD) 2009 dan 2010 sebesar Rp 1,7 miliar lebih. Tuduhan itu tentu saja disangkal Darni, apalagi kasus ini baru mengemuka ketika masa transisi kepemimpinan rektor Unsyiah. Namun yang terjadi ia harus mendekam dalam penjara.

27 Februari 2014, majelis hakim tipikor Banda Aceh memvonis Darni dua tahun penjara. Tamatlah riwayat Darni setelah digusur dari jabatan rektor dan tak lama setelah itu dijebloskan ke hotel prodeo di Kajhu. Samsul Rizal sukses kalahkan Darni dalam konflik regulasi dan politik.

Dari sanalah drama pembalasan Darni kepada Samsul bermuara.

Prof Dr Darni Daud mantan Rektor Unsyiah. Foto : SerambiIndonesia

Pada 9 September 2017 lalu, Prof Dr Darni Daud mantan Rektor Unsyiah tersebut menyurati Presiden RI. Dalam surat itu, sebagaimana diberitakan beritakini.co, Darni meminta Presiden untuk memerintahkan Jaksa Agung guna menindaklanjuti putusan Pengadilan Tipikor Banda Aceh yang merekomendasikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) melakukan penuntutan tersendiri terhadap Prof Dr Samsul Rizal terkait kasus korupsi di Unsyiah.

Dalam surat itu, Darni juga melampirkan Putusan Pengadilan Tipikor Banda Aceh Nomor 42/Pid.sus/TPK/2013/PN-BNA dan sejumlah kliping berita media massa.

Dalam kasus korupsi yang didakwakan atas Darni, rekomendasi majelis hakim dalam salah satu pertimbangan hukum terhadap Vonis Darni agar menuntut secara terpisah terhadap Samsul Rizal ditolak kejaksaan dengan menyatakan tidak cukup bukti.

Kasi Penkum dan Humas Kejati Aceh, Amir Hamzah SH, menyatakan tidak ditemukan dua alat bukti sehingga Samsul tidak layak diusut atau ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi beasiswa JPD dan beasiswa Program Cagurdacil 2009-2010 di Unsyiah tersebut.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Universitas Abulyatama Wiratmadinata mengatakan, surat yang dilayangkan mantan rektor Unsiyah terkait kasus korupsi di Unsyiah tersebut secara hukum tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Menurut Wira, upaya Darni Daud melakukan tekanan ke Kejaksaan Agung melalui presiden juga tergolong terburu-buru. Seharusnya, kata Wira, yang dilakukan Darni Daud adalah menanyakan lebih dulu ke Kejaksaan Tinggi Aceh mengapa rekomendasi pengadilan yang sudah cukup lama itu tak dilaksanakan.

Pada Januari 2018 mendatang, Unsyiah akan kembali memilih rektor baru, Samsul sudah nyatakan diri akan kembali maju dalam pemilihan. Konon, Samsul sudah menyingkirkan semua loyalis Darni semasa ia menggantikan Darni di Unsyiah. Pun begitu, dengan sisa-sisa kekuatanya Profesor Darni sepertinya masih belum pikun untuk tidak tetap fokus menjegal sepak terjang Profesor Samsul. Bisa jadi tangan-tangan ajaibnya, masih dapat dimainkan.[]